Dua Cara Mendidik Anak
Setiap orang tua, baik ayah maupun ibu, berkewajiban mendidik anaknya dan melindungi mereka. Kewajiban mendidik anak sama halnya dengan kewajiban menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tidak hanya itu, mendidik anak adalah bagian dari kesempurnaan iman. Orang tua yang mengabaikan dan tidak memperdulikan pendidikan anaknya dapat dihukumi sebagai orang tua yang durhana kepada anak dan tidak menjalankan perintah agama sebagaimana Allah, “Wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S. At-Tahrim [66]: 6)
Karena itu, mendidik anak tidak boleh sembarangan atau asal-asalan. Al-Quran secara detail menyajikan beragam metode atau pendekatan dalam mendidik anak. Baik dari segi tahapan umur, karakter maupun lingkungan sosialnya. Artikel ini akan mengulas bagaimana cara mendidik anak menurut Al-Quran.
Keteladanan dan Pembiasaan
Cara pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah memberi teladan yang baik (uswatun hasanah) dan membiasakan hal yang baik kepada anak. Cara ini diyakini sebagai metode terbaik dari segala metode yang ada. Dalam ilmu parenting, anak adalah seorang peniru ulung.
Setiap saat, mata anak selalu mengamati, telinganya menyimak, pikirannya mencerna dan perilakunya menirukan apapun yang orang tua lakukan. Itu sebabnya, jangan heran tatkala anak bisa tumbuh menjadi sosok yang sangat mirip dengan orang tua sekecil apapun perilakunya.
Itulah sebabnya mengapa cara dakwah Rasulullah saw lebih banyak memberi keteladanan ketimbang dakwah verbal. Allah swt berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)
***
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada kita agar meniru Rasulullah Saw. dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya. Karena itulah Allah Swt. memerintahkan kepada kaum mukmin agar meniru sikap Nabi Saw. dalam Perang Ahzab. Yaitu dalam hal kesabaran, keteguhan hati, kesiagaan, dan perjuangannya, serta tetap menanti jalan keluar dari Allah Swt.
Seturut dengan ayat di atas, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin memandang jiwa anak layaknya kertas kosong tanpa coretan dan garis apapun. Jiwa anak-anak siap ditulis dan akan menerima model tulisan apapun yang tercermin dalam jiwanya. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menilai urgensi cara orang tua dan lingkungan sekitar yang akan menulis dan membentuk jiwa anak. Imam al-Ghazali mengatakan,
اعلم أن الطريق في رياضة الصبيان من أهم الأمور وأوكدها والصبيان أمانة عند والديه وقلبه الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش وصورة وهو قابل لكل ما نقش ومائل إلى كل ما يمال به إليه
Artinya, “Ketahuilah cara mendidik anak termasuk masalah yang paling penting dan paling urgen. Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hati mereka suci, mutiara berharga, bersih dari segala ‘ukiran’ dan rupa. Hati anak-anak menerima setiap ‘ukiran’ dan cenderung pada ajaran yang diberikan kepada mereka,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, juz III, halaman 77).
Dalam hal ini, keteladanan dan pembiasaan yang baik terhadap anak adalah suatu keniscayaan.
Memberi Pengajaran dan Pendidikan
Selain memberi teladan yang baik, cara yang kedua adalah dengan memberi pengajaran dan pendidikan kepada anak. Seorang anak tidak cukup hanya diperlakukan sebagai objek, tapi sebagai subjek. Artinya, seorang anak juga harus mengerti atas tindakannya sendiri. Ia paham dan mengerti apa yang ia lakukan, tidak cukup hanya meniru atau latah.
Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Q.S. al-‘Alaq [96]: 1, wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi adalah Nabi diminta oleh Allah SWT untuk mengamati, menelaah, meriset, mengidentifikasi dan memetakan bagaimana cara berdakwah kepada bangsa Arab yang tengah dilanda jahilyah tersebut. Wahyu ini juga memberi pesan moral penting dalam hal pendidikan anak bahwa mereka juga harus mengerti dan paham betul apa yang ia lakukan. Dalam fiqh, mereka yang sudah mengerti dan akalnya sempurna disebut baligh dan berakal.
Imam Al-Ghazali – seperti yang dikutip Alhafiz Kurniawan – mengatakan orang tua memikul tanggung pendidikan karakter dan pengasuhan anak. Orang tua akan menuai pahala ketika mendidik anaknya dengan baik. Sebaliknya, orang tua akan memikul dosa yang begitu besar ketika membiarkan begitu saja pertumbuhan anaknya. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh lalai dan abai dalam mendidik, mengasuh, dan membimbing anak.
فإن عود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والآخرة وشاركه في ثوابه أبوه وكل معلم له ومؤدب وإن عود الشر وأهمل إهمال البهائم شقي وهلك وكان الوزر في رقبة القيم عليه والوالي له
Artinya, “Jika orang tua membiasakan dan mengajarkan kebaikan, maka anak akan tumbuh dalam kebaikan dan bahagialah orang tuanya di dunia dan akhirat. Ia pun akan mendapat pahala dari amal saleh yang dilakukan anaknya (tanpa mengurangi hak pahala anak). Demikian juga berlaku bagi setiap guru dan pendidik. Jika ia membiasakan keburukan dan membiarkan anaknya seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan celaka dan binasa. Sementara dosanya juga ditanggung pengasuh dan walinya,” (Imam Al-Ghazali, 2018 M/1439-1440 H: III/77).
***
Dari penjelasan di muka kita dapat menarik kesimpulan bahwa mendidik anak tidak cukup hanya dilakukan verbatim, melainkan juga memberi contoh atau teladan yang baik (uswah hasanah). Demikian pula sebaliknya, memberi contoh teladan yang baik saja tanpa memberi pengajaran dan pendidikan, ia tak ubahnya seperti robot yang siap dikendalikan oleh siapa saja. Karena itu, dua cara di atas harus dilakukan secara beriringan agar sang anak tumbuh sesuai fitrahnya dan menjadi ladang pahala kita di hari esok. []
Penyunting: Bukhari




























Leave a Reply