Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Perintah Terus Bertaubat Meskipun Mengulangi Maksiat

Sumber: istockphoto.com

Tobat diidentikan para pendosa yang berkecimpung dalam dunia gelap dan penuh maksiat. Perintah tobat biasanya disandarkan kepada mereka agar kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan perbuatan dosanya. Memang ada benarnya pernyataan tersebut, sebab taubat sendiri secara bahasa artinya “kembali”.

Namun salah kaprah jika tobat hanya dijustifikasikan kepada para pendosa yang dosanya diatas rata-rata. Memang orang yang tidak masuk dunia prostitusi terbebas dari maksiat?

Menjadi manusia yang terbebas dari dosa dan maksiat nampaknya sulit terjadi dan tentu tidak mungkin. Sebab jika melihat kajian tasawwuf, seorang yang ada di dunia ini sedetik tanpa mengingat Allah yang melimpahkan nikmat kepadanya maka dikategorikan maksiat.

***

Dari pendapat di atas maka potensi dosa kita ada tiap detiknya. Artinya selama kita masih hidup di dunia ini potensi untuk melakukan dosa ada dan tidak akan terbebas darinya. Sebab, kita manusia biasa dan tidak memiliki sifat ma’shum (sifatnya para nabi: terbebas dari maksiat).

Benar, sebuah kalam hikmah “Manusia adalah tempatnya salah dan dosa”. Dengan demikian manusia tidak bisa memiliki alasan untuk sombong dan merasa paling suci sendiri, sebab antara dirinya dan orang lain sama-sama pernah melakukan dosa.

Maka solusi terbaik untuk mengatasinya adalah dengan melakukan tobat. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda:

كُلُّ بَنِي اَدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Tiap-tiap anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik kesalahan adalah orang yang bertobat” (H.R At-Tirmidzi).

Tidak hanya itu, Allah Swt. mewanti-wanti hambanya yang beriman untuk selalu melakukan tobat. Allah Swt. berfirman dalam Q.S At-Tahrim [66]: 8 yang artinya: Wahai orang-orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat semurni-murninya. Mudah-mudahan tuhanmu akan menutupi kesalahan-keslahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, engkau maha kuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Surah At-Tahrim ayat 8

M. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah, mengatakan bahwa Perintah tobat dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin, hal tersebut mengindikasikan bahwa sekalipun statusnya orang mukmin potensi kemaksiatan masih ada, dan menunjukkan bahwa perintah tobat tidak hanya ditujukan kepada para pendosa saja, tapi mereka yang tidak punya dosa.

Baca Juga  Keselarasan Nilai Pancasila dalam Al-Qur'an

Sedangkan menurut Al-Qurtubi maksud taubat nasuha pada ayat ini adalah pernyataan berhenti dari dosa yang diucapkan dengan niat sungguh-sungguh, penuh penyesalan dan tekad untuk tidak mengulangi lagi, serta kesediaan meninggalkan komunitas yang buruk. (Tafsir Al-Qurtubi, juz 18 hal. 197).

Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya mengatakan kembalilah kepada Allah (tobat) dengan taat kepadanya, dan lakukanlah segala sesuatu yang menjadi ridhanya. Tobatlah dengan taubat tasuha artinya tidak akan mengulanginya lagi selama-lamanya. (Tafsir Al-Thabari, Juz 23 hal. 105)

Lebih lanjut dalam hadis, diceritakan oleh Abu Hurairah Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah sungguh saya memohon ampun dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali setiap hari (H.R. Bukhari).

Jika Nabi saja yang tidak memiliki dosa bertobat 70-100 kali tiap harinya, maka setiap mukmin baiknya melakukan hal yang sama, bahkan lebih banyak, sebab sekecil apapun dosa adalah sebuah kedurhakaan kepada Allah Swt. Bilal bin Sa’ad berkata, “jangan memandang kecilnya dosa tapi lihatlah kepada siapa kamu durhaka”.

Puncaknya ayat tersebut, Allah Swt. memberi apresiasi kepada para petobat dengan balasan yang luar biasa, jaminan penghapusan dosa, pemberian surga, dan Allah tidak akan mempermalukan hamba tersebut dihadapan makhluknya, serta pemberian cahaya untuknya di akhirat kelak.  

Teruslah Bertobat Meskipun Mengulangi Maksiat

Belum bisa total meninggalkan kemaksiatan bukan alasan benar untuk menunda tobat. Alasan tersebut tidak diterima sebab potensi maksiat ada selagi hidup di dunia. Maka menyegerakan tobat merupakan tanda orang berakal sehat.

Orang menunda tobat ibarat orang yang ingin mencabut pohon yang mengganggunya. Karena merasa sulit mencabutnya ia menundanya hingga esok atau lusa, tanpa disadari bahwa semakin hari akar pohon itu makin menghunjam di tanah, sedangkan ia semakin tua dan lemah.

Baca Juga  Pengaruh Maksiat Terhadap Keimanan

Ali bin Abi Thalib suatu ketika menasehati pelaku dosa. Beliau berkata, “Bertobatlah kepada Allah dan jangan kamu ulangi”. Pelaku dosa tersebut menjawab, “saya telah bertobat, tapi setelah itu saya ulangi lagi”. Ali berkata, “Bertobatlah kepada Allah dan jangan kamu ulangi”. “Sampai kapan saya harus bertobat sedangkan saya masih mengulanginya lagi?”. “Tanya pelaku dosa tersebut. Sampai setan berputus asa dan merasa kecewa” jawab Ali.

Al-Habib Umar bin Hafiz dalam salah satu tausiahnya berkata, banyak pemuda mengeluhkan bahwa ia sulit meninggalkan dosa atau maksiat, sehingga selalu mengulanginya lagi setelah bertobat. Maka Habib Umar katakan “janganlah berhenti bartobat, meskipun dalam sehari mengulanginya 100 kali. Sungguh kita memiliki tuhan yang amat menyangi kita, selagi kita bersungguh-sungguh dalam bertobat, meskipun terus mengulanginya lagi, maka Allah akan melihat kesungguhan kita, kemudian membebaskan kita darinya”.

***

Moh. Ali Aziz dalam bukunya 60 Menit Terapi Shalat Bahagia mengatakan, Abu Bakar Al-Wasithi berkata. “Tergesah-gesa itu tidak baik, tapi tergesa-gesa untuk istighfar dan tobat justru salah satu ciri muslim bertakwa”. 

Imam An-Nawawi dalam Riyadlus Shalihin, juz 1 hal. 16 mengutip hadis qudsi riwayat At-Tirmidzi dari Anas r.a yang artinya: “Wahai keturunan Adam, selama engkau berdoa dan penuh harap kepada ku, aku pasti mengampuni dosa yang telah engkau lakukan, tidak peduli berapapun banyaknya. Wahai anak Adam seandainya dosa mu bagaikan awan langit, lalu engkau meminta ampun kepadaku, niscaya aku ampuni tidak peduli berapapun banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi, lalu engaku bertemu denganku tanpa menyekutukan sesuatu apapun denganku niscaya aku ampuni dosa sisi bumi itu. (H.R. Al-Tirmidzi).

Baca Juga  Kebohongan Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an dan Hadist

Maka kita harus tetap optimis bahwa dosa kita diampuni oleh Allah. Kita harus percaya kasih Allah jauh lebih besar dari murkanya. Tidak ada kata terlambat bagi pelaku dosa untuk bertobat, sekalipun dosanya tidak muat ditumpuk sampai ke langit dan tidak cukup digelar di bumi. Semoga kita termasuk hamba Allah yang gemar bertobat. Aminn Ya Rabbalalamin.

Editor: An-Najmi