Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Urgensi Sifat Tawadhu’ dalam kajian QS. al-Fatihah Ayat 6

Sumber: istockphoto.com

Akal dalam diri manusia, yang menjadi pembeda di antara seluruh makhluk yang lain, mempunyai nilai dan kualitas tinggi yang memiliki kemampuan menangkap, mencerna, dan menyalurkan segala informasi. Begitupun dengan karakter yang terbentuk dengan pola pikir yang dimiliki oleh manusia. Salah satu contoh dari manusia yang berkualitas adalah ia yang tidak pernah menganggap kecakapannya sebagai kecakapan tertinngi di antara manusia lain. Perasaan ini menjadi momok bagi setiap individu karena berpotensi seseorang tersebut tidak lagi meningkatkan kualitas hidupnya dari berbagai aspek seperti ibadah, intelektual, hubungan sosial, dan sebagainya. Dengan itu, dalam QS. al-Fatihah ayat 6 ini, akan diuraikan menenai urgensi sifat tawadhu’ dalam diri seseorang.

Sekelumit Kajian Tematik Mengenai Al-Fatihah

Dalam tafsir al-Kasysya<f karya Zamakhsyari, disebutkan bahwa al-Fatihah memiliki beberapa nama lain, selain ummu al-Qur’an, al-Tsab’u Matsa<niy, dan Fa<tihatu al-Kita<b, yaitu al-Kanzu (perbendaharaan), al-Wa<fiyatu (pelengkap), al-Hamd (pujian-pujian), dan al-Shalatu (Surat Sholat). Dijuluki al-Kanzu karena ia diturunkan dari perbendaharaan di bawah ‘Arsy (Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysysaf, 01/001).

Al-Fatihah menjadi salah satu pilar dalam Al-Qur’an. Disamping menjadi ummu Al-Qur’an, Al-Qu’an juga mengandung intisari dari kesluruhan isi Al-Qur’an. Di dalamnya memuat aspek akidah, ibadah, hukum-hukum, janji dan ancaman, serta kisah-kisah. Aspek akidah disini menjadi yang paling familiar, karena menggiring manusia ke dalam kesadaran ketuhanan yang tinggi.

Dalam tafsir Mafa<ti<h al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razi, menjelaskan bahwa al-Fatihah merupakan pendahuluan Al-Qur’an yang mencakup seluruh isi dari Al-Qur’an secara global batal  (Fakhruddin al-Razi, Tafsir Mafa<tih al-Ghaib, 01/01). Selain itu, Al-Fatihah juga selalu dikumandangkan oleh kaum muslim di beberapa waktu, yakni tatkala sholat. Karena mendirikan sholat tanpa membaca QS. Al-Fatihah, maka tidak memuhi rukun sholat dan sholatnya. Hal ini sesuai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya,

Baca Juga  Urgensi Ta’dib Sebagai Metode Pembelajaran di Masa Kini

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

 “Belum sempurna sholat seseorang kecuali ia membaca surat al-Fatihah”.

Definisi Tawadlu’

Secara harfiah, tawadhu’ berarti rendah hati. Rendah hati dan rendah diri sama sekali tidak mempunyai kesamaan makna. Rendah diri merupakan merupakan perasaan minder yang dimiliki seseorang, yang memiliki konotasi negatif. Sedangkan rendah ahti merupakan suatu kepasrahan diri kepada Tuhan Yang Maha Benar. Sedangkan yang dipasrahkan dari diri seseorang adalah segala jenis tindakannya dengan menerima segala sesuatu keputusan atas apa-apa yang telah dikerjakannya. Implikasinya adalah suatu tindakan peribadatan. Sedangkan lawan kata dari tawadhu’ adalah takabur atau sombong.

Konsep tawadhu’ juga relevan diterapkan di aspek muamalah di antara manusia. Sebagai contoh, seseorang yang merasa paling benar sendiri semestinya akan mendapatkan respon yang kurang baik dari sekelilingnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya aspek tawadhu’ dalam diri seseorang dalam ber-muamalah. Sudah semestinya, seseorang yang seperti itu cenderung akan dijauhi dalam pergaulan. Itu merupakan salah satu dampak buruk dari kurangnya nilai tawadhu’ dalam diri seseorang.

Urgensi Sifat Tawadlu’ dalam kajian QS. al-Fatihah ayat 6

Sebagaimana yang telah diurai di atas, bahwa al-Fatihah mencakup segala aspek dan nilai-nilai Al-Qur’an. Sedangkan keseluruhan isi dari Al-Qur’an itu sendiri memuat seluruh nilai ibadah dan muamalah yang seyogyanya dikerjakan manusia. Salah satu yang terbesar adalah yang secara implisit termuat dalam kandungan al-Fatihah ayat 6 yang berbunyi,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus!”.

Secara implisit, ayat tersebut menghimbau manusia untuk selalu merasa hina, tersesat, tidak sempurna, dan segala kekurangan lain, diagarkan manusia selalu berusaha mencari kebenaran tertinggi dan menyempurakan dirinya selama masih di dunia. Sebaliknya, jika tidak merefleksikan makna dari ayat tersebut maka yang akan muncul dari diri manusia adalah sifat kesombongan.

Baca Juga  Empat Klasifikasi Anak dalam al-Quran

Kesombongan itu sendiri merupakan sifat keturunan dari setan. Setan tidak menyombongkan diri kepada Allah SWT, melainkan kepada Adam as. Bentuk kesombongan setan adalah penolakan terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Adam, karena dirinya merasa lebih tinggi dan mulia dibandingkan Adam. (Muhammad Reza Ramzi Awhadi, Cahaya Sufi, 28).

***

Al-Fatihah ayat 6 tersebut tidak dikecualikan kepada siapapun untuk membacanya, hal itu mengindikasikan bahwa setingkat Rasul pun, sifat merasa paling benar tidak diperkenankan. Allah mengeaskan bahwa Dialah yang Maha Benar, yang tidak butuh siapapun untuk mengakui kebenaran-Nya. Sedangkan, sebenar-benarnya manusia, tidak akan pernah melampaui kebenaran Tuhan. Untuk itu, secara implisit ayat itu mengatakan bahwa hal yang patut manusia akui adalah potensi dirinya untuk salah.

Sifat merasa paling benar memberikan dampak yang sangat buruk bagi jiwa. Salah satunya adalah sifat egoisme yang tinggi. Mau tidak mau karakter ini akan membawa seseorang kepada justifikasi yang bersifat subjektif. Lebih sederhananya, bahwa seseorang akan mudah menyalahkan dan tidak mau menerima kebaikan dari orang lain. Selain itu, perangai seperti ini juga berdampak terhadap hubungan relasionalnya dengan masyarakat (Nurul H. Maarif, Menjadi Mukmin Kualitas Unggul, 215).

Dalam konteks ibadah, khususnya sholat, seseorang dengan penuh kekhusyu’an harus merenungkan dan mentadabburi ayat tersebut. Hal tersebut menjadi salah satu pilar dalam sholat, karena menghidupkan hatinya untuk menundukkan hatinya ketika menghadap kepada Rabb-nya.

Terakhir, dalam tafsir al-Munir karya al-Zuhaili, ayat tersebut merupakan suatu pengharapan seorang hamba kepada Tuhannya yang berbentuk hidayah. Al-Zuhaiili bersepekulasi bahwa pengharapan hidayah dilakukan aga senantiasa berjalan di atas kebenaran, yaitu jalan Iman dan Islam. Sautu pengahrapan yang dalam dengan penuh kekhusyu’an yang hanya dimiliki oleh seorang hamba dan tidak dimiliki oleh orang kafir (Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, 57).

Baca Juga  Damai, Jihad, dan Perang dalam Al-Quran

Editor: An-Najmi