Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Transformasi Diri: Tafsir QS. Yunus 57 Prespektif Imam Al-Alusi

transformasi diri
Sumber: https://satellite.bk.ooo

Transformasi bukan hanya terjadi di luar, tetapi terjadi di dalam diri manusia; baik dari sisi fisik maupun psikis, dzahir ataupun batin. Transformasi diri menjadi sangat esensial sebab ia merupakan prasyarat terjadinya transformasi sosial. Sebagaimana menurut Nur Rofiah, kebaikan yang dimulai dari diri seseorang akan berdampak pada orang-orang sekitarnya (keluarga). Dan dari keluarga itu akan menjadi tombak terciptanya masyarakat yang beradab dan bermartabat. 

Tranformasi diri menjadi manusia yang sejati atau kembali ke fitrah— yang dipahami oleh para ulama sebagai tauhid atau komitmen manusia untuk menjadikan Allah semata sebagai Tuhannya dan menyembah hanya kepadaNya, sesuai dengan janji primordialnya (QS. al-A`raf [7]: 72), dan menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti, seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang kepada manusia serta kemanusiaan sejagat. Proses kembali kepada jati diri ini tentu tidak mudah, memerlukan niat dan tekad yang kuat, serta banyak rintangan dan godaannya. Sehingga banyak dari mereka yang dalam perjalanan hidupnya di dunia ini menyimpang dan menjauh dari kodrat atau fitrahnya. Salah satunya tergoda oleh kesenangan sesaat yang membuatnya berpikir pragmatis dan bertindak hedonistis. Selain itu, dapat teperdaya pada trio idolatri yang disembah dan dipuja-puja selain Allah oleh manusia, yaitu tahta, harta, dan wanita. Dan ketiga, konstruksi jiwanya bertolak belakang dengan sumber hidayah. Sehingga meskipun diingatkan pagi dan sore, mereka tetap membangkang alias tidak mau kembali. (QS. al-Baqarah [2]: 6).

Transformasi Diri dalam Al-Qur’an

Oleh karena itu, dalam antitesisnya al-Quran turut serta menawarkan kunci suksesnya transformasi diri. Sebagaimana penjelasan Abu al-Tsana’ Syihabuddin al-Alusi dalam menafsirkan ayat berikut ini.

Baca Juga  Buya Husain: Kemerdekaan Perempuan dalam Memilih Pasangan

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu mau’idzah dari Tuhanmu; syifa’ bagi sesuatu yang terdapat dalam dada, dan hidayah serta rahmat bagi orang-orang mukmin. (QS. Yunus [10]: ayat 57)

Ayat ini diawali dengan kalimat “Yaayyuhan naas”. Kata ayyun menurut para ahli tafsir munadinya (Allah) fokus kepada yang dipanggil yaitu seluruh umat manusia, dan meskipun jauh seakan-akan yang dipanggil itu dekat. Sedangkan kata ha dimaksudkan agar atensi dan perhatian kita serius ketika dipanggil, karena panggilan itu tidak sesuatu yang biasa. Kita bisa merenungkan bahwa panggilan Allah merupakan suatu penghormatan apalagi ini adalah panggilan yang luar biasa. Kemudian Allah menyatakan “telah datang untuk kalian semua” tanpa memberi tahu apa yang dimaksud. Namun langsung memberitahu fungsinya tanpa proper namenya, ditujukan karena manusia akan jauh lebih tertarik dengan empat fungsi daripada al-Quran. Dan empat fungsi itu dinyatakan dalam bentuk ism nakiroh yang mengartikan keempatnya adalah memiliki makna sangat dalam dan powerful.

Pembersihan Diri yang Lahir dan Batin

Dalam tafsir Ruh al-Ma’ani dijelaskan bahwa proses transformasi diri dimulai dengan mau’idzah. Ibnu ‘Athiyah menafsirkan nasehat adalah uraian yang masuk kedalam hati dilakukan dengan cara memerintah, menghukum, menakut-nakuti, ataupun dengan cara kelembutan.  Imam Al-Alusi sendiri mengartikannya dengan takhfif dan tarqib, artinya menakut-nakuti sekaligus dengan kelembutan. 

Sedangkan mau’idzah menurut Hamka yaitu dengan terang-terangan melarang perbuatan jahat. Seumpama mencuri harta, meminum arak, berzina, serta menganjurkan dan mengajarkan perbuatan baik seperti tolong-menolong, menghormati, dan berkasih sayang.

Mau’idzah dalam konteks tranformasi diri maksudnya berhubungan dengan pembenahan atau perubahan ke arah yang lebih baik. Imam al-Alusi berkenaan dengan ‘tadzhibun dzahir’ yaitu proses membersihkan, menjernihkan, atau membenahi dzahir seseorang. Seperti yang telah dijelaskan di atas ketika seseorang telah menyimpang, yang nampak dari luar adalah seluruh perbuatan dzahirnya yang bertentangan dari syariat Allah. Seperti ucapannya yang sangat kasar, ataupun sekian banyak caci maki dan sumpah serapah yang keluar dari lisannya. Dan obat untuk membenahi perbuatan yang nampak dari luar yaitu dengan mau’idzah.

Kedua, syifaun lima fi shudur yaitu obat untuk penyakit hati. Al-Quran menerangkan bahwa untuk menjadi manusia yang fitrah harus melalui proses pembersihan hati. Imam al-Alusi, menariknya, kata hati disebutkan dengan kata shadr. Merupakan bagian hati yang terluar, sebelum qalb, fuad, dan yang paling dalam lubb. Sehingga pembenahan ruhani ini merangkap dari bagian yang paling luar hingga kedalam.

Baca Juga  Menghayati Akhlak Mulia dalam Al-Qur'an

Menurut Hamka proses pembersihan hati manusia berupa keluarnya sifat yang tercela dan masuk sifat yang terpuji. Artinya mendidik jiwa dan meperelok akhlak dengan cara menghindari kerakusan dan memerangi syahwat yang berlebihan dalam diri.

Imam al-Alusi menambahkan dengan mengutip penjelasan gurunya bahwa ma’uidzah dan syifa pembersihan dzahir dan batin. Ini adalah keduanya merupakan jalan dalam proses tranformasi diri— yang dalam ulama’ tasawuf disebut dengan syariat dan tarekat.

Karunia Hidayah dan Rahmah dari Allah

Ketika seseorang sebelumnya tidak tahu kemana arah yang harus ia tuju. Serta berbuat semaunya sendiri, dan pada akhirnya mengakibatkan penyakit dzahir dan batin tadi, dalam kondisi ini al-Quran menyebutkan bahwa seseorang tersebut dalam keadaan ‘dholalah’ sehingga ia membutuhkan hudan atau hidayah. Dan hidayah adalah pemberian dari Allah, bukan yang kita usahakan atau dalam artian kita tidak bisa memiliki hidayah tanpa pemberian-Nya. Dalam hal ini Imam ash-Shawi menyebutnya dengan hakikat atau kebenaran. Sebab jika seseorang telah melewati dua jalan syariat dan tarekat ia akan hidup dalam petunjuk Allah dan tidak mungkin ia tersesat.

Ibarat seseorang yang berobat kepada dokter dengan berbagai komplikasi penyakitknya kemudian ia mendapatkan obat dan menjalani intruksi dari dokter, dipastikan ia akan sehat kembali. Sebagaimana jika seorang hamba sudah melewati tahap pembersihan atau pengosongan diri dari segala perbuatan buruk sesuai dengan instruksi Allah, dan ketika ia sudah hidup dalam bimbingan hidayah atau pentunjuk Allah, maka kata Imam al-Alusi sudah saatnya ia mendapat anwar ar-rahmah al-Ilahiyah.

Perilakunya berubah menjadi pribadi yang qurani, orang-orang dan seluruh makhluk menyayanginya karena Allah mecintainya, semuanya perkara menjadi mudah dalam hidupnya, hingga nanti ujungnya mendapat kenikmatan surgaNya. Ia sudah kembali kepada fitrah dan menjadi manusia yang sempurna atau insan kamil. Menarik dalam redaksi ayat ini ditutup dengan kalimat rahmatul lil mu’minin dengan menggunakan kata benda atau ism yang menunujukkan luzum wa al-istimror atau terus menerus dan permanen. Sifat rahmah dikhususkan bagi orang-orang mu’min menegaskan bahwa mereka sudah mempunyai iman yang menetap dan mantap. Karena ia sudah selesai dengan penyakit-penyakit jasmani ataupun ruhani dan dia selalu mengisi hidupnya dengan kebaikan sesuai bimbingan Allah dalam kitab al-Quran al-Karim.

Baca Juga  Karakter Cendekiawan Dalam QS. Ali-Imran [3]: 191