Al-Qur’an merupakan kitab suci yang membahas mengenai segala sesuatu, dan tema mengenai hewan adalah salah satu tema yang dibahas dalam al-Qur’an. Bahkan, Allah SWT menamakan beberapa surah dalam Al-Qur’an dengan nama-nama hewan. Nama-nama surah dalam Al-Qur’an yang memakai nama hewan di antaranya seperti al-Baqarah (sapi betina), al-An’am (binatang ternak), al-Nahl (lebah), al-Naml (semut), al-Ankabut (laba-laba), al-Adiyat (kuda perang berlari kencang), dan al-Fil (gajah). Penyebutan hewan dalam Al-Qur’an selain terdapat dalam nama surah, hewan juga disebutkan dalam kisah-kisah, perumpamaan, dan sumpah. Salah satu hewan yang disebutkan sebagai perumpamaan yaitu laba-laba.
Kisah Laba-Laba Sebagai Penolong Nabi Muhammad
Laba-laba merupakan hewan yang telah memberikan jasa bagi sejarah Islam, karena hewan ini telah menolong nabi Muhammad dari kejahatan kaum Quraisy. Peristiwa tersebut terjadi pada awal tahun 631 M, yaitu 3 tahun setelah nabi diangkat sebagai Rasul. Pada saat itu nabi Muhammad masih tinggal di Makkah dan berencana untuk melakukan hijrah ke Madinah, karena kaum Quraisy sangat membenci nabi Muhammad dan berkeinginan untuk membunuhnya. Dengan begitu, mereka mengumpulkan pemuda-pemuda dari 12 suku yang telah disiapkan pada saat rapat di Darun Nadwah, yang mana pemuda-pemuda tersebut ditugaskan untuk mengepung rumah nabi Muhammad.
Ketika kesepakatan membunuh nabi Muhammad telah diambil, malaikat Jibril segera memberitahu nabi tentang rencana makar kaum Quraisy. Setelah mendengar kabar bahwa dirinya akan dibunuh oleh kaum Quraisy. Beliau langsung menyusun strategi dan mempersiapkan kebutuhan serta sarana yang akan digunakan selama perjalanan hijrahnya. Nabi juga menyewa seorang ahli dalam penunjuk arah jalan yang sangat berpengalaman dalam mengenal gurun pasir.
Pada suatu riwayat penakwilandalam surah at-Taubah ayat 40 dikatakan bahwa ketika Abu Bakar merasa gelisah dan ketakukan pada saat orang-orang Quraisy mendekat ke gua. Nabi Muhammad menepis kegelisahan beliau dengan berkata “Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira dengan dua orang yang ada di tempat sepi, sementara Allah SWT menjadi ketiga diantara mereka?”.Dan sebelum Rasulullah SAW mengakhiri kalimatnya, ada seekor laba-laba yang selesai menenun rumahnya di atas pintu gua. Kitab-kitab sejarah mengatakan bahwa kaum musyrik mengikuti jejak sang Nabi sehingga mereka sampai di gunung Tsur lalu di situlah mereka melihat di atas pintu gua itu terdapat tenunan jaring hewan ini.
Laba-Laba dalam Al-Qur’an
Pada kitab Mu’jam al-Mufahras, lafal Ankabut dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 2 kali, keduanya disebutkan dalam surah al-Ankabut pada ayat 41. Lafal Ankabut sendiri dapat berarti tunggal maupun jamak, mudzakkar (maskulin) dan muannats (feminim). Hanya saja biasanya dipergunakan untuk muannats. Dan pada buku Hayah al-Hayawan al-Kubra karya al-Dumairi disebutkan, bahwa lafal Ankabut bermakna hewan kecil yang menenun di udara. Dan laba-laba merupakan hewan yang istimewa sehingga Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an menjadi sebuah nama surah, yaitu surah al-Ankabut.
Surah al-Ankabut merupakan surah ke-29 dalam Al-Qur’an. Dalam surah ini terdapat ayat yang termasuk ke dalam kategori amtsalul Qur’an. Seperti pada ayat 41 yang menceritakan kaum musyrikin yang tidak mau menyembah Allah. Mereka lebih mempercayai berhala-berhala yang berada di depan mereka dari pada sesuatu yang tidak nampak wujudnya. Sehingga kaum tersebut diperumpamakan seperti seekor laba-laba yang membuat rumah.
مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ (41)
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 41)
Pada kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim dijelaskan bahwa ayat ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah terhadap tingkah laku kaum musyrikin yang menyembah kepada berhala, dan mereka berharap supaya apa yang disembah dapat memberikan pertolongan dan rizki kepadanya. Sehingga mereka berpegang teguh untuk memohon kepada apa yang telah mereka sembah saat berada dalam kesulitan. Perilaku mereka itulah yang diperumpamakan seperti rumah laba-laba, yang sifatnya lemah dan hina serta tidak ada yang dapat dibanggakan dari rumah laba-laba. Karena rumah hewan ini tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun bagi manusia. Begitu pula dengan berhala-berhala yang mereka sembah tidak dapat memberikan apa-apa. Sehingga mereka bagaikan berpegang pada rumah laba-laba yang tidak dapat dijadikan sandaran baginya.
Sedangkankitab tafsir al-Muyassar menjelaskan bahwa karakter orang-orang yang menyembah berhala dalam rangka mengharapkan manfaat dan perlindungan dari bahaya sama seperti karakter laba-laba yang membuat rumahagar dapat ditinggali. Tapi ternyata rumah tersebut tidak dapat memberinya manfaat ketika dibutuhkan. Karena sifatnya yang rapuh dan rentan hancur. Dan selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba karena tidak bisa menaungi dari air hujan, tidak berguna ketika datang bahaya, dan tidak melindungi dari terpaan angin. Seperti itulah orang-orang kafir.
Perumpamaan yang terdapat pada surah al-Ankabut ayat 41, bertujuan untuk mempertegas buruknya perilaku kaum musyrikin yang membangkang dan sombong. Mereka tidak memiliki kekuatan di dunia selain kekuatan Allah. Mereka tidak pula memiliki tempat bernaung dan berlindung selain kepada Allah. Kekuatan para pelaku kejahatan meskipun luar biasa, ternyata sangat lemah dan rapuh. Jika itu dijadikan sebagai sandaran dan perlindungan, sama saja dengan perlindungan laba-laba kepada sarangnya yang rapuh.
Harun Yahya berpendapat bahwa yang dimaksud paling lemah di sini adalah rumahnya yang tidak dapat melindunginya dari panas dan hujan, bukan benang yang menjadi dasarnya. Pada surahal-Ankabut ayat 41 terdapat lafalittakhadats berbentuk fi’il muannats yang menunjukkan kata kerja jenis wanita. Di sini terlihat ketelitian redaksi dalam Al-Qur’an. dan ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa yang membangun sarang adalah laba-laba betina bukan laba-laba jantan. Lafal tersebut menurut sebagian ulama sudah termasuk ciri-ciri kandungan ilmiah yang ada di dalam ayat tersebut. Al-Qur’an menyebutkan nama surahnya dengan menggunakan bentuk tunggal al-Ankabut untuk menunjukkan bahwa kehidupan laba-laba ini dilakukan secara individual, kecuali saat kawin dan menetaskan telurnya untuk reproduksi.
Kalimat ittakhadzat baita “membuat rumah” merupakan sebuah isyarat yang jelas bahwa laba-laba yang membangun rumah sebagai fondasi adalah laba-laba berjenis betina. Berdasarkan hal inilah, tugas pembuatan rumah laba-laba merupakan sebuah tugas yang diemban oleh laba-laba berjenis betina. Karena dalam tubuh laba-laba betina mengandung kelenjar-kelenjar yang mengeluarkan bahan sutera yang halus untuk menghasilkan jaring rumah laba-laba. Bahan inilah yang digunakan untuk merangkai sarangnya. Secara biologis, laba-laba jantan tidak memiliki kelenjar yang halus seperti yang dimiliki laba-laba betina.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply