Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Tematik: Qawlan Tsaqila dalam Al-Qur’an

qawlan tsaqila
gambar: romeltea.com

Al-Qur’an merupakan firman Allah (kalam Ilahi) dan Nabi Muhammad sangat berperan di dalamnya. Yakni penerima pesan atau wahyu mulia dari Sang Ilahi. Tak hanya kata qur’an yang bermakna bacaan. Melainkan teks ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri, telah diwahyukan secara verbal, bukan dalam makna saja. Sama sekali tidak logis pula jika Allah berbicara langsung dengan manusia.

Tetapi, bagaimana Al-Qur’an sebagai wahyu dapat terkomunikasikan ke dalam hati Nabi Muhammad? Tentu, Al-Qur’an tidak menyebut figur apa pun dalam hubungan ini. Namun, hanya menyebut bahwa Allah mengutus seorang malaikat, yang dalam berbagai pengalaman tertentu, kemudian Nabi Muhammad bersikukuh dengannya (pada konteks isra’ mi’raj).

Pada satu hadits tertentu sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, bahwa wahyu itu terkomunikasikan juga kepada Nabi Muhammad selayaknya dentingan lonceng dan ini yang paling berat baginya. Dalam Al-Qur’an, penyebutan beratnya wahyu, digunakan pada term qawlan tsaqila. Kompleksitas makna term ini, kemudian terbuai menjadi konsep terpenting dalam etika komunikasi.

Makna Etimologi Tsaqil

Istilah tsaqil, merupakan sighah mubalaghah dalam bentuk mufrad dari kata tsiqal. Dalam setiap hal seperti melebihi ukuran yang telah ditentukan, maka dapat dikatakan tsaqil, “berat”. Aslinya ini digunakan pada jism, “materi yang berbentuk”, tapi mengalami perluasan makna dan dapat dikatakan terhadap hal yang sifatnya non-materi. Seperti athqalahu al-‘uzmu wa al-wizru, “kerugian dan dosa itu memberatkan”.

Louwis Ma’luf al-Yussu’i dalam kitabnya al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam menjelaskan bahwa tsaqil adalah lawan khaffa, “ringan”. Oleh Imam al-Maraghi, bahwa al-atsqal itu lafazh berbentuk jama’, yang arti muasalnya adalah perabot rumah tangga. Maksud al-atsqal yakni apa pun yang terkandung dalam perut bumi, baik sejenis mayat, logam maupun mineral. Ini karena disebabkan adanya peristiwa dahsyat, sehingga bumi memuntahkan seluruh isi kandungan yang terbilang berat.

Baca Juga  Kondisi Sosial Politik: Unsur Penting Memahami Ayat Al-Quran

Maka singkatnya, arti secara umum kata tsaqil, mengandung makna berat. Disebut berat, jika melebihi kapasitas ringan. Bahkan, ditentukan oleh besarnya tekanan suatu benda bilamana diangkat, ditimbang, dan lain sebagainya. Tak lain tentunya, bentuk leksikal yang seiras dengan pelik, muskil, ataupun keras.

Qawlan Tsaqila dalam Terminologi Ulama’

Perihal qawlan tsaqila yang disingkap dalam terminologi ulama’ melalui makna thaqil, secara implisit tentu tak meninggalkan sekelumit pun tentang keterarahan pada hubungan internal teks Al-Qur’an. Karena, hal ini pasti mengandung pemaknaan yang di dalamnya beropersi dengan sesuatu yang tidak pasti. Berikut ayatnya:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

Artinya: Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat (QS. Al-Muzzammil [73]: 5).

Ayat di atas, bermakna bahwa Allah akan menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah tentang aneka ragam urusan yang mesti dikerjakan umatnya. Tentu ini mengandung perintah dan larangan, yang hanya didukung oleh orang-orang yang mendapatkan taufik.

Sebagaimana yang dikutip Imam Syaukani, Qatadah mengatakan, “Berat demi Allah, dengan berbagai ketetapan-Nya dan batasan-Nya”. Tetapi, di sisi lain Mujahid berkata, “Perkara halal dan haramnya”. Al-Hasan berkomentar, “Melaksanakannya”, dan Abu al-Aliyah berkata, “Berat dengan janji-janji sekaligus ancaman-Nya serta halal dan haram-Nya”.

Di samping itu, al-Husein bin Fadhl menafsirkan bahwa Al-Qur’an itu berat. Karena tidak dapat ditanggung bebannya kecuali oleh seseorang yang memiliki hati yang penuh dengan petunjuk dari Allah dan jiwa yang terhiasi dengan tauhid.

Begitu pula dengan Ibnu Zaid, bahwa Al-Qur’an itu berat dan penuh keberkahan seperti beratnya menjalani kehidupan di dunia. Lebih tepatnya, perkataan yang paling reflektif sebagaimana Allah menyifati perkataan-Nya dengan term “berat”, adalah karena berat membawanya juga berat dalam mengamalkan kewajiban sekaligus batasan-Nya.

Baca Juga  Ar-Rahmah dalam Al-Qur’an: Menyingkap 14 Makna Tersembunyi

Kontekstualisasi Qawlan Tsaqila

Dalam konsep qawlan tsaqila, menjadi dasar moralitas bahwa secara konteks, merupakan bentuk apresiasi atas Nabi Muhammad setelah melaksanakan perintah Allah agar beranjak dari berselimut serta bangkit untuk menyampaikan risalah-Nya sebagai permulaan dakwah. Pada malam hari, waktu yang tepat dalam menjaga kekusyukan beribadah. Sedangkan di siang hari, manusia disibukkan dengan kebutuhan masing-masing yang terkadang tidak ada konsentrasi dalam beribadah (QS. al-Muzzammil [73]: 6 dan 7).

Memahami makna tersirat (mafhum) agar reflektif, maka memperoleh makna tersurat (mantuq) sangat dibutuhkan. Untuk itu, persepsi tentang qawlan tsaqila sesuai berdasarkan pemaknaan kata furqan dalam QS. al-Anfal [8]: 29. Tanpa ber-alif lam atau kata yang berbentuk nakirah, kata furqan bermakna “hidayah dan cahaya yang terpancar di dalam hati”, yang mengandung petunjuk sekaligus bertujuan memisahkan antara perkara haq dan batil.

Tidak ada relevansi eksplisit kecuali peran hati yang luwes dalam menyoal ‘amaliyah apa pun sebagai landasan hidup. Terutama melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Nabi Muhammad dengan mengerahkan jiwa dan raganya untuk melaksanakan perintah-Nya – untuk beranjak diri dari berselimut dan bangkit agar menyampaikan dakwahnya. Karena sebagai Rasul, sebenarnya dibarengi pula dengan hati yang luwes. Seakan-akan hati merupakan sentral dibalik aktivitas jasmaniyah, yang mengarahkan kepada kebaikan semata.

Sehingga, upaya menstabilisasi ulang etika komunikasi, sangat diperlukan untuk menanamkan hati yang luwes pada diri manusia. Mulai dari mempersilahkan dengan lapang dada, toleran, dan berpandangan terbuka, semua itu menjadi hasil akumulasi dari pentingnya memelihara keluwesan hati. Oleh karena itu, pesan dibalik ungkapan yang diuntaikan melalui komunikator kepada komunikan, dapat dipahami secara kritis dan transformatif.

Penutup

Dari pemaparan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa makna qawlan tsaqila adalah furqan (QS. al-Anfal [8]: 29), sebenarnya secara konteks merupakan pemberian Allah kepada Nabi Muhammad setelah melaksanakan perintah-Nya. Tentu saja, hati yang luwes sangat berperan di dalam diri Nabi Muhammad. Untuk itu, perihal ini memang sangat diperlukan untuk diterapkannya dalam menjalankan etika komunikasi kepada sesama.

Baca Juga  Konsep Imamah dan Taqiyah dalam Tafsir Majma’ Al-Bayān Karya Al-Ṭabrasi

Penyunting: Bukhari