Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Tarbawi: Empat Strategi Pembelajaran Efektif

Sumber: istockphoto.com

Ada suatu maqalah yang masyhur “siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal tuhannya” (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu). Maqalah tersebut jika ditilik secara mendalam sangat relevan terhadap dunia pendidikan. Artinya, bagi seorang guru penting untuk bisa mengenali karakteristik murid sehingga memudahkannya dalam menyampaikan materi secara efektif dan efisien. Dalam konteks tersebut, artikel ini mengulas bagaimana strategi yang harus dilakukan seorang guru agar mampu menyelenggarakan pembelajaran secara efektif dan efisien dengan tetap berlandaskan pada Al-Quran dan hadis.

Kenali Mereka

Strategi pertama adalah mengenali karakter dan kebutuhan peserta didik. Untuk dapat mengenali, seorang guru harus berinteraksi secara positif, menunjukkan kepribadian yang open minded dan meneduhkan jika dipandang oleh mereka. Hal tersebut sangatlah penting agar pembelajaran dapat berlangsung dengan kondusif sehingga pesan atau materi yang diajarkan tersampaikan dengan baik.

Pentingnya mengenali murid dan diri sendiri juga ditegaskan dalam Q.S. An-Naml [27]: 93,

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ سَيُرِيْكُمْ اٰيٰتِهٖ فَتَعْرِفُوْنَهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ࣖ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Segala puji bagi Allah. Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kebesaran)-Nya sehingga kamu akan mengetahuinya. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Naml [27]: 93)

Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa Allah akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran berupa hamparan ciptaan-Nya di muka bumi sehingga kamu akan mengetahui. Ayat ini sebetulnya menggugah manusia untuk selalu berusaha menggunakan akalnya guna memahami segala sesuatu yang terjadi. Dalam konteks pendidikan, seorang guru sebelum memulai proses pembelajaran hendaknya mengidentifikasi, menganalisis, mengenali dan memetakan potensi peserta didiknya agar terjadi miskomunikasi dalam mengembangkan potensi sesuai fitrah yang Tuhan titipkan padanya.

Pembelajaran Menyenangkan

Strategi yang kedua adalah guru melakukan proses pembelajaran dengan menyenangkan (happiness). Pembelajaran menyenangkan adalah terciptanya suasana belajar yang membuat peserta didik antusias untuk turut serta berpartisipasi aktif di dalamnya sehingga ketika pembelajaran berlangsung mereka tidak merasa bosan atau jenuh. Melalui pembelajaran menyenangkan, akan menarik minat peserta didik dalam mensukseskan tujuan pembelajaran, dan tentunya membuat mereka berkesan.

Baca Juga  Perdebatan Teologis Seputar Corona, Kita Ikut yang Mana?

Dengan kata lain, seorang guru harus memiliki beragam pendekatan, metode, dan cara pengajaran yang variatif sehingga peserta didik mendapatkan pengayaan perspektif. Artinya, pembelajaran menyenangkan mengandaikan ketidakterpakuan pada satu metode, pendekatan dan materi pengajaran. Dalam Al-Quran disebutkan,

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. (Q.S. Al-Qasas [28]: 77)

Jika dikontekstualisasikan ke dunia pendidikan, ayat di atas memacu bagaimana seorang guru tidak boleh melupakan esensi pembelajaran yang dapat menarik minat dan atensi peserta didik sehingga membuat mereka senang, antusias dan menyenangkan, di samping tetap tidak mengabaikan administrasi pembelajaran di dalamnya seperti pembuatan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), desain dan metode pembelajaran, evaluasi dan lain sebagainya.

Ibn Katsir menambahkan dengan mengutip sebuah hadits,

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا  قَالَ : إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ اَحَبَّ الْاَعْمَالِ اِلَى اللهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُسْلِمِ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain”.

Responsif

Strategi ang ketiga adalah memberikan respons (feedback). Indikator pembelajaran efektif adalah saling memberikan respons, baik verbal maupun non verbal. Artinya, keberhasilan seorang guru dalam mengajar ditopang dengan adanya pemberian feedback dari peserta didiknya meskipun secara sederhana. Umpan balik (feedback) ini tidak boleh dianggap sepele mengingat sangat menunjang kesuksesan proses pembelajaran.

Umpan balik dalam Kasus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki dua arti, yang pertama adalah hasil atau akibat yang berbalik mengenai (berguna bagi) kita sebagai rangsangan (dorongan dan sebagainya) untuk bertindak lebih lanjut. Dan yang kedua adalah bahan yang diperoleh kembali dari penerapan sesuatu untuk unsur perbaikan dalam tindak lanjut (RTL).

Baca Juga  Etika Memasuki Kamar Orang Tua Menurut Al-Qur'an

Umpan balik ini dapat diberikan dalam dua bentuk, yaitu hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Bentuk pertama diberikan sebagai bentuk apresiasi dan meningkatkan motivasi bagi peserta didik, sedang yang kedua sebagai bentuk teguran agar mereka mengerti bahwa ia melakukan kesalahan dan oleh sebab itu harus diberi sanksi.

***

Pemberian hadiah dan teguran ini juga sangat dianjurkan oleh Nabi saw sebagai berikut,

تهادوا تحابوا

Artinya: “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR al-Bukhari).

Kemudian, terkait teguran Nabi saw memberikan pedoman,

عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

Artinya: “Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya.” (H.R Abu Daud)

Tentu, yang perlu digaris bawahi di sini adalah pemberian hadiah (reward) dan hukuman/ sanksi (punishment) dilakukan dalam rangka mendidik dan tidak boleh asal-asalan. Oleh karena itu, dalam hal ini, guru haruslah bijak dan tepat dalam memberikan dua hal tersebut kepada mereka.

Relasi Positif

Strategi pembelajaran efektif yang keempat adalah adanya relasi positif antara guru dan murid. Relasi yang dimaksud adalah tercipta emosional (chemistry) di antara keduanya sehingga saling percaya (trust) dan mereka merasa nyaman ketika berinteraksi dengannya. Dalam bahasa pendidikan, guru harus memiliki kepribadian sosial yang baik. Tidak boleh bagi seorang guru bertindak sewenang-wenang dan berperilaku tidak mencerminkan seorang pendidik terhadap muridnya. Karena di dalamnya terkandung uswah hasanah (teladan) bagi seorang murid. Ada pepatah yang patut direnungkan bersama, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Artinya, segala tingkah laku guru akan digugu dan ditiru.

Baca Juga  Logika Jodoh dalam Penafsiran QS. An-Nur 36

Dalam hal ini, Allah menurunkan Nabi Muhammad saw sebagai seorang rasul yang khatamul anbiya wal mursalin (penutup para nabi) yang tugas utamanya adalah mendidik umat dan memperbaiki akhlak manusia. Dalam rangka menunjang tugas utamanya tersebut, Allah swt menyematkan kepada Nabi saw berupa pribadi yang uswah hasanah sebagaimana termaktub dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah“. (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)

Dengan demikian, yang lebih penting dari seorang guru adalah ia berupaya terus-menerus memberikan yang terbaik kepada peserta didiknya. Baik berupa pengajaran terbaik, perilaku/ teladan terbaik, materi/ kurikulum terbaik maupun keikhlasan doa dalam rangka mendoakannya sehingga tujuan akhir dari pendidikan adalah menyempurnakan akhlak manusia. Wallahu a’lam.

Editor: An-Najmi

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Penikmat kajian keislaman, pendidikan Islam, pemikiran dan filsafat Islam, sosiologi dan studi al-Quran