Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Qur’an di Media Sosial: Urgensi dan Cara Penulisannya

tafsir Al-Qur'an media sosial

Kehadiran media sosial saat ini telah memberi ruang khusus pada Al-Qur’an. Untuk mencari suatu ayat, asbabun nuzul, dan tafsirannya, masyarakat tidak perlu repot-repot lagi untuk membuka Al-Qur’an atau kitab-kitab tafsir kuno masa lampau. Tafsir Al-Qur’an Media Sosial menjadi kajian menarik di era kontemporer.

Karakter Media Sosial

Sebelum mengupas tafsir di media sosial, kita harus tau dulu, bagaimana karakter media sosial itu sendiri. Karakter media sosial adalah dinamis. Cepat sekali mengikuti perkembangan zaman. Yang viral di hari ini belum tentu viral di hari esok.

Untuk menulis Tafsir Al-Qur’an di media sosial, kita sebagai penulis harus cepat dan tanggap dalam merespon isu-isu aktual. Kecepatan dalam mersepon isu-isu aktual tersebut membutuhkan suatu energi untuk terus memantau isu-isu aktual yang ada. Seperti istilah anjay, seblew, odading mang oleng, dan lain sebagainya. Istilah tersebut, kalau kita tidak aktif di media sosial, maka kita tidak akan tahu.

Fungsi Istilah Viral dalam Menulis Tafsir di Media Sosial

Kita menggunakan istilah-istilah viral yang sedang trend, bukan hanya sekedar untuk gaya-gayaan belaka. Namun untuk menyampaikan pesan kita kepada masyarakat melalui kata-kata trend yang sering di ucapkan di tengah masyarakat.

Misalnya, ketika kita berbicara tentang drakor, yang disampaikan bukan alur atau isi ceritanya, bukan tentang tokoh-tokohnya yang good looking, namun bagaimana kita tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu hanya dengan menonton satu episode saja.

Begitupula dengan kehidupan manusia. Alur kehidupan manusia itu berepisode-episode. Kita tidak boleh menilai seseorang dari first impression saja. Karena itu belum tentu menjadi sifat atau asli dari wataknya. Seperti halnya yang benci bisa menjadi cinta, yang oposisi bisa menjadi kualisi, yang dulunya nakal bisa menjadi kyai. Maka dari itu jangan buru-buru menjudge seseorang dari luar/fisrt impression-nya.

Baca Juga  Menafsirkan Al-Qur’an Dengan Pendapat Pribadi: Kontroversi dan Pembagian

Cara Menulis Tafsir Al-Qur’an di Media Sosial

Apabila kita ingin membahas atau menulis tafsir di media sosial, gunakanlah pembahasan yang sederhana. Membahas tafsir Al-Qur’an di media sosial tidak bisa rumit seperti membahas tentang nahwu, mufrodat, dan I’rob secara mendalam. Kecuali memang ada hal yang menyimpang dan harus diluruskan.

Mengapa hal ini perlu dilakukan?

Karena pembahasannya nanti akan ribet dan jlimet. Sasaran pembaca kita di media sosial bukan hanya orang-orang pondok yang sudah ahli dalam nahwu shorof, melainkan masyarakat yang hegemoni dengan latar belakang yang berbeda-beda. Jika tulisan kita membahas tentang nahwu shorof secara mendalam, maka masyarakat awam yang bukan lulusan pesantren akan kesusahan dalam mencerna dan memahami tulisan kita. Maka dari itu, penulis tafsir yang baik di media sosial harus bisa memilah dan memilih diksi agar tulisan kita dapat dengan mudah dicerna oleh masyarakat.

Selain itu, penulis tafsir Al-Qur’an di media sosial harus bisa menahan diri untuk tidak menceritakan semua hal yang kita tahu. Karena kita harus fokus pada pesan utama dari tulisan, bukan bermain kata-kata. Tipe-tipe tulisan tafsir di media sosial haruslah sederhana, cepat, dan ringkas, namun kajian yang dibahas harus mendalam. Karena kalau pembahasan kita kurang mendalam, penjelasannya tidak pas, keliru, atau biasa-biasa saja,  banyak orang-orang berilmu di luaran sana dengan latar belakang ormas yang berbeda akan siap menjatuhkan kritikannya.

Itulah titik kerumitan menulis tafsir di media sosial. Disatu sisi tulisan harus sederhana, cepat, dan ringkas, namun kita harus memperhatikan kajian yang kita bahas. Kalau pembahasannya biasa-biasa saja, maka tulisan yang kita tulis tidak akan viral dan tidak akan menjadi bahan permbincangan.

Baca Juga  Makna dan Sifat Ideal Imam dalam Al-Qur'an

Urgensi Tafsir Al-Qur’an di Media Sosial

Menulis tafsir di media sosial, ibarat seperti menyelami samudra ilmu tafsir. Banyak tulisan-tulisan dari berbagai rujukan, seperti kitab tafsir klasik dan modern. Sebagai seorang penulis tafsir di media sosial, kita hanya merangkum dan mengkompilasi keragaman tafsir Al-Qur’an yang telah di bahas oleh ulama tafsir klasik maupun kontemporer. Ibaratnya, kita hanya sebagai koki, bukan yang punya resepnya.

Tafsir di media sosial itu urgensinya bukan ingin menggeser atau bahkan melenyapkan kitab-kitab tafsir kuno di zaman dahulu. Melainkan untuk memperkenalkan keragaman tafsir dari perbedaan pendapat para ulama.

Pesan utama kita dalam menulis adalah menanamkan di dalam benak masyarakat bahwa kita bisa hidup dalam naungan Al-Qur’an yang sama, namun dalam keragaman pendapat. Hal tersebut dilakukan karena untuk menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama rahmatan lil alamin.

Penjelasan dari satu ayat itu banyak dan panjang lebar. Tinggal kita sebagai penulis memilih pendapat mana yang mau dimasukkan ke dalam tulisan kita. Itulah yang disebut  sebagai koki, tugas kita hanya meramu dan meracik bumbu sehingga terhidang makanan yang enak. Resepnya sudah ada ; Pendapat tafsirnya sudah ada, namu setiap koki pasti mempunyai sentuhan yang berbeda untuk menghidangkan sebuah makanan; setiap penulis pasti mempunyai ciri khas tersendiri untuk menuliskan penjelasannya menjadi sebuah tulisan.

Poin bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin itu lah yang paling utama. Tinggal selanjutnya adalah menentukan siapa target dari tulisan kita. Misal target kita adalah anak-anak millennial, atau majelis ta’lim ibu-ibu, maka ayat yang sama bisa ditulis dengan model yang berbeda penjelasannya. Kalau kita tidak menentukan target, tulisan kita akan meleleh ke mana-mana, kurang mendalam , dan tidak spesifik.

Baca Juga  Al-Qur'an Selalu Relevan (1): Melihat Sisi Temporal dan Universal

Penutup

Intinya, dalam menulis tafsir di media sosial, fokuslah pada pesan daripada kemasan. Target sasaran harus jelas, karena kalau target kita ingin dibaca semua orang, itu termasuk khayal, kita tidak bisa memuaskan semua orang.

Gunakanlah seni dan skill. Seninya adalah menulis apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, bukan apa yang kita inginkan. Sedangkan skill nya mengemas tulisan kita semenarik mungkin, namun tetap memperhatikan kajian yang mendalam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi