Ketidakabadian adalah suatu hal yang mutlak bagi setiap makhluk hidup yang Allah Swt ciptakan. Tidak terkecuali juga pada malaikat, nabi-nabi dan para ulama’ yang mana mereka senantiasa beribadah kepada Allah Swt . Kematian bagaikan antrian panjang yang pasti akan dilalui setiap manusia yang hidup di dunia. Untuk itu, tiada yang lebih berhak atas keabadiannya, kecuali Allah Swt. sang maha hidup diantara segala makhluk-Nya. Hal ini juga dibuktikan, bahwa tiada makhluk ciptaannya yang mampu hidup dengan sendirinya, kecuali atas izin-Nya. Dalam Asmaul Husna, sifat Allah Swt. yang maha hidup di maknai dengan lafal al-Hayyu (الحي), dan lawan dari sifat ini adalah al-Mumit (المميت) yang artinya maha mematikan.
Sepertihalnya Allah Swt memiliki kuasa untuk mematikan makhluknya sesuai dengan kehendaknya. Dengan melekatnya sifat al-Hayyu pada Allah Swt. menjadikan melekatlah kesempurnaan yang dimiliki-Nya, seperti al-Ilmu (Ilmu), al’ Izzah (mulia), al-qudrah (kemampuan), al-iradah (keinginan), al-kibriyah (maha tinggi) dan sifat-sifat dzatiyah yang sangat suci (sakral) lainnya.
Definisi Lafal al-Hayyu (الْحَيُّ)
Secara etimologi (bahasa), al-Hayyu (الْحَيُّ) merupakan salah satu sifat Allah Swt. yang berarti Maha Menghidupkan. Dalam asmaul husna, sifat al-Hayyu (الْحَيُّ) merupakan sifat Allah Swt dengan urutan ke-62. Secara implisit arti “hidup” memiliki makna kekal, tidak pernah lelah, tidur, dan mati. Terdapat juga sifat Allah Swt. lainnya yang masih memiliki keterikatan dan biasa digunakan sebagai media bedzikir, yaitu asma al-Qoyyum yang memiliki arti Maha Mandiri. Dikatan bahwa Al-Hayyu dan Al-Qoyyum tidak bisa dipisahkan, sebabnya orang berdzikir al-Hayyu dan al-Qoyyum tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana yang telah termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman :
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ (٢)
Artinya : “Allah Swt, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)“. (QS. Ali Imran [3]: 2)
Secara terminologis (istilah) sifat Allah Swt. al-Hayyu memiliki berbagai pendapat menurut para ulama’. Menurut Al-Imam Qatadah, al-Hayyu adalah yang tidak mati. Di sisi lain, menurut Imam Ath-Thabari, bahwa firman Allah Swt. al-Hayyu memiliki arti yang terus menerus, kekekalan yang tidak di awali dengan suatu batasan dan tidak diakhiri dengan suatu kesudahan. Sedangkan selain-Nya walaupun tetap memiliki awal batasan dan akhir yang berkesudahan. Adapun juga menurut Syaikh Ibnu Taimiyah, berpendapat bahwa asma al-Hayyu mencakup semua sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah Swt. menurutnya, sifat al-Hayyu adalah sifat yang paling agung.
Lafal Al-Hayyu (الحَيُّ) Dalam Al-Qur’an
Dalam kitab Mu’jam Mufahros karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, lafal al-Hayyu (الحي) disebutkan sebanyak 14 kali dalam Al-Qur’an. Dengan tema pembahasan yang berbeda-beda, akan tetapi terdapat juga yang memiliki kesamaan pembahasan pada penyebutannya dalam Al-Qur’an. Berikut adalah bukti persebarannya dalam Al-Qur’an.
Untuk memberi penjelsan lebih lanjut mengenai pembahsan lafal al-Hayyu ( الحي) dalam Al-Qur’an. Penulis menghadirkan salah satu dalil Al-Qur’an yang telah di sebutkan pada tabel di atas, yang menunjukkan adanya pengaplikasian lafal al-Hayyu ( الحي) dan merujuknya pada salah satu kitab tafsir yaitu tafsir Al-Azhar. Salah satu dalil Al-Qur’an tersebut adalah QS. Al-Baqarah ayat 255, Allah Swt. berfirman :
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ. (٢٥٥)
Artinya : “Allah Swt, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar“.
***
Dari pemaparan ayat yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa pejelasan rahasia lafal al-Hayyu ( الحي) dalam Al-Qur’an yang bisa diambil hikmahnya. Sebagaimana yang termaktub dalam penafsiran Tafsir Al-Azhar. Bahwa manusia itu hidup dan alam sekelilingnya juga hidup. Kehidupan yang ada ini, bersumber dari yang sebenarnya hidup yaitu Allah Swt. Hal ini memberi pesan, bahwa kesadaran akan adanya diri kitalah yang menunjukkan kita hidup. Hal serupa juga di katakan oleh filsuf barat, Rene Descartes: “ Aku berfikir, sebab itu aku ada”.
Dalam penafsiran ayat tersebut, terdapat juga suatu perumpamaan. Berupa aktifitas keseharian manusia, dimana saat manusia melihat tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan. Buah-buahan yang beraneka ragam rasa: ada mangga. rambutan, durian, jeruk yang bebagai ragam. Keseluruhannya hidup di atas tanah. Dari hal tersebut, menghadirkan suatu pertanyaan, dari mana segala sesuatu yang ada ini hidup ?.Tentu, segala makhluk yang ada ini bisa hidup tidak tekecuali atas izin Allah Swt.
Maka kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan ini adalah bahwa segala suatu yang hidup, disebabkan adanya citraan dari sang maha hidup. Adapun, seorang manusia harus mampu mengenali dirinya, karena dengan itu bisa menjadi wasilah bagi manusia untuk bisa mengenal tuhannya.
Editor: An-Najmi
























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.