Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Rahasia Bulan: dari Yasin ke Yunus

Bulan
Sumber: Pixabay/AlexAntropov86

Bulan memang objek langit yang indah, apalagi diamati di tempat yang minim polusi cahaya. Di samping keindahan tersebut, benda langit ini memiliki peran penting bagi kehidupan di bumi. Tanpanya, pasang surut laut dapat berubah drastis dan iklim mengalami gangguan signifikan.

Al-Qur’an pun berulang kali menyinggung bulan sebagai tanda kebesaran-Nya. Menariknya, penemuan astronomi juga mendukung pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an. Bagaimana keteraturan orbit, perubahan fase, hingga fungsinya sebagai penentu waktu menjadi topik pembahasan dalam artikel ini.

Bulan dan Ketaatan Kosmik

Surah Yasin: 40 menegaskan bahwa matahari tidak akan dapat mengejar bulan dan malam pun tidak akan mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. Menurut Tafsir Jalalain, maksud ayat ini adalah matahari dan bulan memiliki jalur edar yang berbeda, sehingga tidak mungkin saling melampaui atau bertemu pada satu lintasan.[1]

Ketepatan bahwa orbit matahari dan mulan berbeda saja sudah mengesankan. Matahari tampak bergerak di ekliptika akibat revolusi bumi,[2] sementara bulan mengitari bumi dengan jalur miring sekitar lima derajat dari bidang edar matahari.[3] Perbedaan ini menjamin keduanya tak akan saling mendahului.

Namun, bagian paling memukau bukan hanya pada orbitnya yang berbeda, melainkan pada rahasia gerak semu bulan. Di mata manusia, karena rotasi bumi dari timur ke barat, rembulan tampak mengikuti arus dari Timur ke Barat, padahal sejatinya ia melaju dari Barat ke Timur mengelilingi bumi.

Akibat pergerakan ini, bulan bergeser sekitar 13° busur per hari terhadap bintang latar. Ini menyebabkan waktu terbitnya benda langit ini tertunda rata-rata 50 menit setiap malam dibandingkan bintang yang sama di malam sebelumnya. Sementara matahari bergeser sekitar 1° per hari akibat revolusi bumi mengelilingi matahari.[4]

Baca Juga  Kontribusi Ilmu Matematika dalam Sejarah Islam

Selisih dari kedua gerakan ini adalah sekitar 12° per hari (13° – 1° = 12°). Artinya, setiap hari posisi rembulan justru mundur sekitar 12° dari matahari, atau sekitar 0,5° setiap jam. Fakta bahwa bulan setiap hari malah mundur dari matahari, bukan mendekat, menjadi bukti ilmiah yang memperkuat makna Surah Yasin: 40, matahari tidak akan pernah dapat mengejar rembulan.

Fase Bulan dan Perhitungan Waktu

Al-Qur’an dalam Surah Yunus ayat 5 menggambarkan bulan bukan sekadar hiasan malam, tapi penanda waktu yang sangat presisi. Allah berfirman bahwa Dia menjadikan matahari bersinar (dhiyā’) dan bulan bercahaya (nūr), lalu menetapkan manzilah-manzilah agar manusia bisa menghitung tahun dan menentukan waktu.

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manzilah-manzilah bulan merupakan tahapan perjalanan rembulan yang setiap malam berpindah dari satu posisi ke posisi lain hingga kembali ke awalnya. Perubahan ini menjadi acuan bagi manusia dalam menentukan waktu, bulan, dan tahun.[5]

Quraish Shihab, lewat Tafsir Al-Misbah, menggarisbawahi perbedaan sifat cahaya matahari dan bulan. Kata dhiyā’ untuk matahari menunjukkan bahwa sinarnya bersumber dari dirinya sendiri. Sedangkan nūr untuk rembulan menegaskan bahwa cahayanya hanyalah pantulan sinar matahari. Isyarat ini selaras dengan temuan astronomi modern, bahkan menjadi bagian dari kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an.[6]

Secara sains, bulan adalah benda langit yang tidak memancarkan cahaya sendiri. Cahaya yang kita lihat hanyalah pantulan sinar matahari. Fenomenanya mirip seperti batu yang tersinari senter di tengah gelap: batu itu tampak bercahaya, padahal hanya memantulkan cahaya dari sumber lain.

***

Perubahan bentuk bulan disebabkan revolusinya mengelilingi bumi, sehingga sudut pandang kita terhadap bagian rembulan yang terkena sinar matahari terus berubah. Inilah yang kita kenal sebagai fase-fase bulan: rembulan baru (new moon), sabit awal (waxing crescent), kuartal pertama (first quarter), cembung awal (waxing gibbous), bulan purnama (full moon), cembung akhir (waning gibbous), kuartal terakhir (last quarter), dan sabit akhir (waning crescent).[7]

Baca Juga  Analisis Semantik Kata Hujan dalam Al-Qur’an

Satu siklus penuh bulan—dari satu fase ke fase yang sama—memakan waktu ±29,53 hari.[8] Inilah acuan kalender hijriah yang umat Islam gunakan yang berkisar 29 dan 30 hari.  Sebagaimana disampaikan Ibnu Umar, Rasulullah memberi isyarat dengan jarinya bahwa hitungan bulan terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari.[9]

Penentuan apakah bulan berjalan 29 atau 30 hari dilakukan dengan rukyat hilal, yaitu pengamatan sabit pertama setelah konjungsi. Meskipun kriteria visibilitas hilal masih diperdebatkan, hal ini menjadi bukti bahwa pengamatan fase bulan adalah bagian dari penentu waktu sebagaimana yang disampaikan dalam Surah Yunus: 5.

Penutup

Bulan mengajarkan bahwa sains dan wahyu tidak berjalan di jalur yang berbeda. Penjelasan astronomi tentang orbit dan fase bulan mengonfirmasi apa yang telah Al-Qur’an sebutkan sejak lama. Tidak ada pertentangan, melainkan harmoni yang saling menguatkan.

Memahami alam semesta bukan sekadar memuaskan rasa ingin tahu, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa setiap fenomena adalah bagian dari rencana Ilahi yang sempurna. Dari ketundukan langit pada hukum Tuhan ini, manusia yang dianugerahi akal seharusnya lebih mampu menjaga keselarasan itu.


Daftar Pustaka

[1] Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli & Jalaluddin Muhammad bin Abu Bakar as-Suyuthi, Terjemah Tafsir Jalalain Jilid 2, terj. Abu Firly Bassam Taqiy, S.Ag. (Depok: Senja Media Utama, 2017), h. 437.

[2] A. Jamil, Ilmu Falak Teori Dan Aplikasi: Hisab Arah Kiblat, Awal Waktu, dan Awal Bulan (Hisab Kontemporer) (Jakarta: Amzah, 2020), h. 6–7.

[3] Muh. Hadi Bashori, Penanggalan Islam, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2013), h. 65.

[4] Slamet Hambali, Pengantar Ilmu Falak Menyimak Proses Pembentukan Alam Semesta, (Yogyakarta: Bismillah Publisher, 2012), h. 224.

Baca Juga  Wawasan Al-Qur'an Tentang Lingkungan Hidup Sesuai Urutan Mushaf

[5] Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, terj. M. Abdul Ghoffar E.M. (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2003), h. 244.

[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 20.

[7] Tono Saksono, Mengkompromikan Rukyat dan Hisab, (Jakarta: Amythas Publicita, 2007), h. 32.

[8] NASA Science, Lunar Phases and Eclipses, (Washington DC: NASA, 2024), https://science.nasa.gov/moon/moon-phases/. Tanggal akses: 14 Agustus 2025.

[9] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Hadits Shahih Bukhari Muslim, terj. Abu Firly Bassam Taqiy (Depok: Fathan Prima Media, 2013), h. 279.

Editor: Dzaki Kusumaning SM