Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Psikoterapi Spiritual Dalam Al-Quran

psikoterapi
Sumber: https://unsplash.com/photos/7blIFp0kFP4

Seiring dengan terus berkembangnya keilmuan modern melalui kampus dan pusat-pusat kajian sebagai mercusuar keilmuan, kita mengenali banyak sekali khazanah keilmuan yang pada masa lalu tidak familiar di tengah masyarakat. Salah satunya dalam keilmuan medis, adalah mental health issue.

Isu Kesehatan Mental

Belakangan informasi seputar mental health issue semakin mudah dijangkau publik melalui konten-konten di internet; baik berupa artikel maupun video edukasi. Konten yang bersumber dari lembaga-lembaga kesehatan, para ahli, maupun pegiat-pegiat sosial di bidang mental health issue.

Pada skala internasional, dari 7 remaja di seluruh dunia, 1 di antaranya mengalami kelainan mental. Selanjutnya, lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Bunuh diri merupakan penyebab kematian keempat tertinggi pada individu berusia 15-29 tahun (WHO, 2022).

Sedang pada kasus di Indonesia, 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. (Riskesdas, 2018).

Salah satu metode yang telah ditemukan penelitian kontemporer untuk penanganan mental health issue ialah psikoterapi spiritual. Psikoterapi spiritual merupakan aspek praktis psikologi yang menggunakan energi praktek spiritualitas pada penyembuhan mental dan fisik (Ahmad Rusydi, 2015).

Psikoterapi Spiritual

Saat ini sudah banyak cendekiawan yang menggeluti psikoterapi spiritual, salah satunya Professor Bruce H. Lipton ahli biologi sel induk yang merintis dan mengenalkan terapi yang disarikan dari praktek spiritual dari khazanah dunia timur, di antaranya melalui The Biology of Belief (2005).

Sedang dalam khazanah keislaman, Sheikh Ragip Frager al-Jerrahi seorang ahli psikologi modern sekaligus mursyid thariqah Khalwatiyyah Jerrahiyah menyambungkan penanganan-penanganan terapi psikologis melalui praktek tasawuf Islam.

Baca Juga  Angin Ibrah dari Gaza

Praktek-praktek psikoterapi spiritual dalam sejarah peradaban Islam selalu bertumpu pada pedoman Al-Qur’an. Sebagaimana Allah swt berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman. Sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS al-Isra [17]: 82)

Hidroterapi dan Zikir Sebagai Psikoterapi Spiritual

Salah satu perintis psikoterapi spiritual berbasis al-Qur’an di Indonesia, Pondok Pesantren Suryalaya menjawab kebutuhan masyarakat berkaitan gangguan mental akibat obat-obat terlarang melalui metode Inabah (hidroterapi dan zikir).

Dalam Lentera Hidup, Buya Hamka memberikan penjelasan terperinci mengenai wudhu sebagai sarana psikoterapi spiritual,

“Oleh ahli tasawuf, diterangkan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka artinya mencuci mata, hidung, mulut, dan lidah kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata dan makan. Kemudian, mencuci tangan dengan air dalam hati dirasa seakan-akan membasuh tangan yang telanjur berbuat salah. Membasuh kaki dan lain-lain demikian pula.

Mereka memperbuat hikmat-hikmat itu meskipun dalam hadis dan dalil tidak ditemukan. Tujuannya adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, sementara batinnya masih tetap kotor.

Hati yang masih tamak, loba, dan rakus, kendati sudah berwudhu, maka wudhunya lima kali sehari-semalam itu berarti tidak berbekas dan tidak diterima oleh Allah SWT. Dan salatnya pun tidak akan mampu menjauhkan dirinya dari perbuatan fakhsya’ (keji) dan mungkar (dibenci).”

Zikir Spiritual

Sedangkan zikir sebagai sarana psikoterapi spiritual, al-Qur’an menyebutnya sebagai sarana untuk menjaga kejernihan hati.

Baca Juga  Pengaruh Syukur Terhadap Kesehatan Mental dalam Al-Qur'an

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Artinya: “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha [20]: 14)

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28)

Tanpa penempatan pada koordinat yang tepat, usaha yang dikerahkan seseorang akan berujung pada inefisiensi tenaga, waktu, dan sumber daya, malah bisa berujung pada kontraproduktifitas. Maka kita perlu mengembalikan standar efektifitas, efisiensi, serta ketepatan usaha kita pada Dzat yang sejak awal memberikan pinjaman daya-Nya kepada kita.

Hati yang tenanglah menjaga kondusifitas kesehatan mental, sehingga pikiran mampu bekerja secara jernih dan optimal di dalam naungan rahimiyyah Allah swt, demikian pula dengan keterbukaan berbagai pemahaman (futuh). Selain itu berbagai riset akademis juga telah menemukan besarnya pengaruh kualitas mental terhadap kondisi fisiologis manusia (Lipton, 2005).

Maka sangat wajar jika kita jumpai para masyayikh pemimpin halaqah spiritual Islam sepanjang peradaban senantiasa Islam menekankan zikir untuk upaya penjernihan hati yang senantiasa. Sebab Nabi Muhammad pun bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyunting: Ahmed Zaranggi