Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Perjalanan Bangsa Indonesia dan Tafsir Surah Al-Balad

Bangsa Indonesia
Gambar: kompasiana

Merdeka berarti bebas. Dalam sudut pandang bernegara merdeka adalah bebas mengendalikan negara tanpa campur tangan negara lainnya. Dalam alenia pertama pembukaan UUD 1945 dituliskan “bahwa kemerdekaan itu ialah hak dari segala bangsa”. 

76 tahun yang lalu tanggal 17 Agustus 1945 Hindia Belanda yang sebelumnya bernama Nusantara mendeklarasikan kemerdekaan dan terbentuklah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Tentu saja hal itu butuh kerja keras, perjuangan juga pengorbanan.

Kita sebagai bangsa Indonesia harus berterima kasih pada para pahlawan kemerdekaan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan bentuk terima kasih seperti belajar sejarah kemudian memperingati setiap tanggal 17 Agustus dengan berbagai rangkaian acara.

Hal tersebut bisa membuat kita merasakan pengorbanan mereka lantas mendoakannya “semoga mereka para pahlawan yang telah gugur dalam mengapai kemerdekaan diberikan tempat terbaik disisi Allah”. Selain itu yang paling penting adalah menjaga keutuhan NKRI. Jangan sampai perjuangan para pahlawan sia-sia karena perbedaan yang lantas menimbulkan perpecahan.

Jika kita memebaca sejarah, mega proyek Hindia-Belanda yang paling banyak memakan korban adalah proyek pembuatan jalan raya dari ujung Barat pulau Jawa (Anyer) sampai ujung Timur pulau Jawa (Panarukan) yang sekrang jalan tersebut dinamai dengan jalan Deandles. Proyek tersebut digagas oleh Herman Willem Deandles yang ditunjuk Raja Louis Napolion (adik dari Napolion Bonaparte) sebagai pemimpin proyek tersebut.

Kebutuhan pemerintah kolonial Hindia-Belanda saat itu untuk mempertahankan diri dari serangan Inggris. Pada masa tersebut, Belanda sedang berada di bawah pendudukan Prancis akibat peristiwa besar di benua Eropa yaitu Revolusi Prancis. Dengan demikian, pemerintah kolonial Hindia-Belanda saat itu di Nusantara sebenarnya adalah pemerintahan koloni yang dikendalikan oleh Negara Prancis.

Baca Juga  Ledakan Bom Bunuh Diri di Makassar, Rohim dari Maarif Institute Sampaikan Peringatan

Masa-masa ini dapat dianggap juga sebagai masa pendudukan bangsa Prancis di Indonesia. Pada masa Revolusi Prancis, Inggris berperang dengan Prancis yang telah mencaplok negara Belanda beserta para koloninya. Artinya, Inggris juga berperang dengan para koloni Belanda yang sekarang telah dikendalikan oleh Prancis. Untuk mempercepat ketuntasan proyek, Herman Willem Daendels mencanangkan kebijakan kerja rodi atau “kerja wajib negara” agar mendapatkan tenaga kerja murah yang tersedia dalam waktu cepat.

Kebijakan tersebutlah yang membuat rakyat Indonesia semakin tersiksa. Pasalnya rakyat Indonesia yang tinggal di area proyek tersebut dipaksa bekerja untuk pemerintah colonial. Meskipun upahnya sangat sedikit, bahkan banyak pula diantara yang tidak mendapatkan upah. Hal tersebut mengakibatkan banyak rakyat Indonesia yang meninggal saat melakukan kerja rodi. Bahkan menurut cerita jalan Deandles merupakan kuburan para pahlawan kerja rodi

Jauh ke belakang ke masa sejarah Islam saat perbudakan masih dianggap hal yang biasa meskipun bentuknya adalah kebebesan individu bukan bangsa. Akan tetapi, mulai dari kebebasan individulah kebebasan bernegara atau berbangsa muncul. Maka Islam hadir untuk menghapus hal itu. Proses penghapusan perbudakan memang tidak berjaan secara revolusioner melainkan secara bertahap atau evolusioner.

Paza zaman Mesir Kuno, Babilonia, Hittit, Yunani Kuno, Kana’an, Israel, Persia dan lain-lain. Islam telah berlaku ramah dan membela budak dengan memberi pahala jika budak taat kepada tuannya.

Di zaman nabi Muhammad, dalam sebuah hadis riwayat Bukhari-Muslim Nabi Muhammad SAW bersabda. “Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan: Hai hamba laki-lakiku, hai hamba perempuanku. Akan tetapi katakanlah: Hai pemudaku (laki-laki), hai pemudiku (perempuan).”  

Bahkan Rasulullah menjadikan budaknya, Zaid bin Haritsah sebagai anak angkatnya. Kejadian itu sebelum anak angkat sampai nasabnya berganti kepada bapak angakatnya dilarang dalam islam.

Baca Juga  Lebih Dekat dengan Nabi Muhammad Saw.

Dalam al-Quran surat al-Balad terdapat pertanyaan sekaligus jawaban tentang kebebasan:

 وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ

Dan tahukah kamu apa itu jalan yang mendaki dan sukar itu?”

Dalalm surat tersebut terdapat banyak jawaban. Jawaban yang pertama adalah:

فَكُّ رَقَبَةٍۙ

“(Yaitu) melepaskan perbudakan”.

Ada pesan yang tersirat dari hal tersebut: mengapa hal yang menyangkut kebebesan disebut pertama kali yaitu hak kebebasan manusia adalah yang paling utama.

***

Jika  ditinjau dari prespektif hubungan internasional, bangsa Indonesia memang telah merdeka 76 tahun yang lalu. Akan tetapi jika kita tinjau dari prespektif lain Indonesia masih jauh dari kata merdeka. Pasalnya Indonesia masih menyimpan berbagai persoalan seperti praktik korupsi yang hukumannya semakin tidak masuk akal.

Kemudian persoalan kemiskinan, kebodohan, kejahatan juga permasalahan pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai. Hal tersebut belum masuk pada kriteria jalan yang mendaki (kebaikan) pada al-Qur’an surat al-Balad yang kriteria pertama telah dicapai oleh bangsa inonesia yaitu kebebasan.

أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ

“Atau memberi makan pada hari kelapara.”

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ

“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”

أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

“Atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”

ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ

“Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”

Wallahu’a’lam.

Penyunting: M. Bukhari Muslim

Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Ushuluddin Cabang Ciputat