Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Interpretasi QS. Ar-Ra’d Ayat 28 : Benarkah Sejatinya Healing?

Sumber: tribun.com

Fenomena penyebutan “healing” dalam generasi Z sangat jauh dari bentuk leksikal aslinya. Acapkali acara jalan-jalan, makan-makan, bahkan pesta pora disebut dengan definisi healing. Padahal healing sendiri mengacu pada arti penyembuhan, baik penyembuhan jiwa, perasaan, batin, maupun pikiran. Walapun demikian, istilah yang digunakan remaja sekarang secara tidak langsung juga dapat memperluas deskripsi dari healing tersebut. Asalkan kegiatan yang dilakukan berdampak pada penyembuhan. Lalu bagaimana al-Qur’an menanggapi terkait healing?

Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia, tetapi salah satu vitalitas yang dimiliki al-Qur’an sendiri adalah sebagai syifa’ (obat). Apalagi perihal penyembuhan yang menyangkut sakit batin dan ketergangguan psikologi. Namun terdapat ayat al-Qur’an yang menjelaskan secara spesifik terkait penyembuhan yaitu QS.Ar-Ra’d [13]:28. Secara gamblang, ayat tersebut menginformasikan bahwa jika seseorang menginginkan hatinya tentram, maka langkah yang dilakukan adalah mengingat Allah SWT.

Penafsiran QS.Ar-Ra’d [13]:28

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ٢٨

Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Era mufasir klasik Al-Qurthubi dalam tafsirnya Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an menafsirkan ayat tersebut maksudnya tenang dan tentram dengan mentauhidkan Allah SWT. Namun ada yang mengatakan pada lafadz بِذِكْرِ اللّٰهِ  adalah mengingat Allah SWT serta meneliti tanda-tandanya sehingga akan mengetahui kesempurnaan kekuasaanya secara yakin. Selain pendapat lain menjelaskan pada lafadz بِذِكْرِ اللّٰهِ mengandung penjelasan dengan taat kepada Allah SWT.

Senada dengan Al-Qurthubi di atas, Tafsir Ibnu Katsir karangan Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa hati itu menjadi baik apabila bersandar kepada Allah SWT dan menjadi tenang ketika mengingat dan ridha kepada Allah SWT. Bahkan Ibn Katsir dalam lafadz اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tentram) maksudnya adalah itulah hal yang sepantasnya diperoleh dengan mengingat Allah SWT.

Baca Juga  Makna Pemberian Terbaik dalam Q.S Al-Baqarah: 267

Lebih detail lagi Quraish Shihab memaparkan indikasi dari ayat tersebut bahwa dzikir maksudnya adalah mengingat Allah SWT baik melalui hati maupun lisan. Karena dengan dzikir seseorang akan keluar dari rasa ragu, bimbang, bahkan kekhawatiran. Lanjut, kata dzikir pada mulanya berarti mengucapkan dengan lidah. Kemudian makna tersebut berkembang menjadi “mengingat”, karena hal ini berkaitan apabila seseorang mengingat suatu hal, mesti akan termanifestasi dalam ucapannya. Sehingga mengingat sesuatu akan mengantar lidah menyebutnya.

***

Penjelasan Quraish Shihab di atas, dijelaskan lebih spesifik lagi dalam channel Youtube Najwa Shihab bertajuk Ramadhan Shihab & Shihab bahwa salah satu cara penyembuhan adalah mengingat Allah SWT dengan mengucapkan istighfar. Hakekatnya mengingat Allah SWT sebagai Maha yang kekal merupakan puncak dari ketentraman. Sebaliknya embel-embel healing yang berbasis hal duniawi seperti mendengarkan musik, bertapa, jalan-jalan dll adalah sesuatu yang bersifat sementara dalam penyembuhan.

Penjelasan yang komplikatif di atas, memberikan titik terang pada maksud QS.Ar-Ra’d ayat 28 bahwa pada lafadz بِذِكْرِ اللّٰهِ sebenarnya banyak cara untuk mengingat Allah SWT. Akan tetapi penjelasan yang signifikan terkait healing lebih dominan pada penjabaran Quraish Shihab bahwa untuk penyembuhan batin bisa dilakukan dengan istighfar. Hal ini juga dapat melatih konsentrasi pikiran untuk selalu tenang dalam menanggapi situasi kondisi apapun. Istighfar yang terkadang dianggap remeh justru sebenarnya memberikan pengaruh terapi batin seseorang untuk merasa kedamaian.

Kesimpulan            

Adanya healing biasanya disebabkan karena kegalauan yang terjadi dalam manusia itu sendiri. Kegalauan dipicu oleh nafsu yang belum tercapai, sehingga seseorang merasa khawatir atau kecewa dengan ketidaksesuaian ekspektasi yang diharapkan. Pengertian healing disini adalah sebuah proses dalam meringankan beban mental melalui kekuatan pikiran. Sedangkan agama Islam sendiri tidak menghendaki kesulitan, tetapi memberikan kemudian.

Baca Juga  Rasulullah Sebagai Karunia Ilahi: Maka Berbahagialah Atas Kelahirannya!

Di antaranya berupa al-Qur’an yang memberikan petunjuk terkait cara mengobati batin yang sakit yaitu dengan mengingat Allah SWT salah satunya beristighfar kepadanya. Dengan mengingat Allah SWT melalui dzikir, pikiran akan terarah untuk khunudzon kepada Sang pencipta. Sehingga kegalauan akan hilang walaupun membutuhkan sebuah proses, tapi sejatinya itulah cara yang dianjurkan. Wallahu A’lam Bishowab.

Editor: An-Najmi