Resepsi atas buah karya sastra sejatinya tidak cukup dilakukan hanya dengan ‘membaca’. Dalam tradisi sastra, penerimaan dimaksudkan pada reaksi yang muncul setelah memahami isi kandungan teks sastra. Itulah mengapa, ‘membaca’ lebih tepat dikategorikan sebagai bagian dari tahapan awal sebuah resepsi.
Beberapa literatur sastra, seperti Resepsi Sastra tulisan Umar Junus yang dianggap sebagai salah satu karya induk di Indonesia, atau karya lain yang lebih muda seperti tulisan Rachmat Djoko Pradopo, Nyoman Kutha Ratna, serta Emzir dan Saifur Rohman. Mereka mencontohkan praktik resepsi dengan tafsir, resensi, terjemah, atau bentuk lain seperti cerpen dan novel.
Dalam frame penjelasan semacam ini, resepsi Alquran yang hanya dilakukan dengan ‘membaca’ saja kiranya belum cukup. Lantas bagaimana dengan praktik yang selama ini terjadi hanya dengan ‘membaca’ Alquran?
Resepsi Alquran
Sebagai catatan awal, menganggap Alquran sebagai bagian dari karya sastra oleh akademisi dianggap bukan sebagai masalah yang berarti. Hal ini sebagaimana didukung dengan keberadaan teks Alquran yang menyastra. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah dalam Al-Madkhal li Dirasah al-Qur’an al-Karim menyebut Alquran sebagai kitab al-‘arabiyyah al-akbar.
Pertimbangan lain, Manna‘ Khalil dalam Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an telah menetapkan unsur sastrawi Alquran setelah membandingkannya dengan syair-syair Jahiliyyah. Indikator yang digunakan antara lain al-fashahah (kefasihan), al-tanasub fi al-balagh (kesesuaian konteks), dan nizham al-shaut al-badi‘ (keselarasan dan keindahan bunyi).
Apabila dua pertimbangan ini belum cukup, Safuddin Zuhri Qudsy dalam Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi telah secara jelas menyebutkan keabsahan penggunaan teori resepsi sebagai piranti analisis teks sastra ataupun teks nonsastra.
Praktik Resepsi Alquran
Praktik resepsi dalam Alquran sendiri, sebagaimana diketahui, banyak yang hanya dilakukan dengan membaca. Beberapa praktik yang lazim dilakukan seperti khataman, membaca surah Yasin [36], surah Alwaqi‘ah [56], kompilasi dan adaptasi ayat-ayat Alquran dalam wirid, atau praktik pembacaan lain.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga praktik resepsi yang berupaya menghasilkan ‘produk’ sastra baru. Berbagai karya tulisan para ulama dan cendekiawan muslim lintas sejarah menjadi contoh konkrit atas praktik ini. Namun demikian, prosentase dan frekuensi kemunculannya tidak sebanyak praktik ‘membaca’ yang dianggap lebih sederhana.
Respon Pembaca
Menanggapi resepsi dalam Alquran tersebut, penulis menganggap penting pernyataan Harold Coward dalam Sacred Word dan Sacred Text sebagaimana dinukil A. Rafiq dalam disertasinya, The Reception of the Qur’an in Indonesia: A Case Study of the Place of the Qur’an in a Non-Arabic Speaking Community.
Coward menyebutkan bahwa teks suci (sacred text) yang memberikan tekanan yang kuat (strong stress) pada aspek oral, seperti Alquran, lebih berperan sebagai sebuah simbol (symbol). Seorang pembaca memang tidak dapat membebaskan diri dari struktur teksnya, baik secara tertulis (written) maupun pelafalannya (oral). Namun demikian, teks tersebut akan melambangkan nilai-nilai praktis sesuai dengan perspektif yang dibentuk oleh pembaca tadi.
Dalam kasus Alquran, pembaca tetap harus berpegang pada struktur teks dan pelafalannya dalam melakukan pembacaan. Namun begitu, pembacaan yang telah dilakukan tadi merupakan produk dari perspektif yang dia bentuk sendiri. Ringkasnya, pembacaan itu sendiri merupakan sebuah resepsi dari seorang pembaca.
Resepsi Pada Aspek Pengucapan
Pernyataan Coward ini agaknya cukup terkait dengan klasifikasi yang dilakukan Junus terhadap ragam kemungkinan resepsi. Menurutnya, resepsi dapat berupa reaksi aktif -dengan menghasilkan karya sastra lain-, reaksi pasif -dengan sekedar memberikan komentar atau like-, dan bentuk reaksi lain yang menitikberatkan pada aspek-aspek tertentu dari karya sastra, seperti pengucapan atau estetika.
Dalam klasifikasi ini, resepsi terhadap Alquran menjadi bagian dari model ketiga yang memberikan penekanan pada aspek pengucapan. Sesuatu yang barangkali memiliki kaitan dengan asal penamaan Alquran secara literal, qara’a-qira’atan-qur’anan: teks yang dibaca.
Perspektif yang dibentuk pembaca sebelumnya, dalam resepsi Alquran akan mempengaruhi setidaknya dua unsur dalam pembacaan, komposisi dan momen. Unsur komposisi berpengaruh terhadap susunan pembacaan yang dilakukan, termasuk pada kuantitas bacaan. Unsur ini terlihat dalam praktik wirid yang dikompilasi dari ayat-ayat Alquran. Sementara momen akan mempengaruhi waktu pelaksanaan pembacaan yang juga mencakup aspek mode of conduct pembaca. Unsur ini seperti dapat diamati dalam pembacaan surah Yasin [36] dan Alwaqi’ah [56] setiap malam Jumat.
Perbedaan Resepsi Alquran dan Sastra
Dari ulasan singkat ini diketahui bahwa adaptasi penggunaan teori resepsi dalam Alquran memiliki sedikit perbedaan dari teori aslinya dalam disiplin sastra. Perbedaan itu terletak pada bentuk penerimaan yang dilakukan dikarenakan adanya perbedaan pada teks yang tengah dihadapi. Alquran, kendati lebih menekankan aspek kandungan teksnya, juga tidak mengesampingkan aspek oral atau pelafalannya.
Perbedaan ini yang kemudian membawa ‘pembacaan’ Alquran sebagai bagian dari ragam model resepsi karya sastra. Karena praktik pembacaan Alquran oleh komunitas muslim memiliki ragam bentuk yang dipengaruhi oleh komposisi dan momen tertentu. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []
Penyunting: Ahmed Zaranggi

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.