Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Pemikiran Gerd R. Puin Tentang Manuskrip Naskah Sana’a

Puin
Gambar: Channel Youtube Inarah

Al Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi pedoman umat Islam dan juga lebih terakhir hadir dari beberapa ajaran (kitab suci) laìnnya. Bagi seorang muslim, tentu saja Al Quran merupakan solusi terbaik dalam menemui permasalahan yang ada. Baik secara ibadah maupun muamalah. Dalam Al Qur’an tentu saja ada namanya muhkamat dan mutasyabihat.

Seperti yang kita ketahui juga, bahwa Al Qur’an merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril dan di turunkan dengan “hafalan”. Bukan dengan tulisan-tulisan yang ada, apalagi seperti manuskrip seperti pada kitab-kitab lainnya.

Pada tahun 1972, Presiden Yaman, memerintahkan beberapa jumlah pekerja untuk merenovasi dinding di loteng masjid Agung Sana’a yang terletak di Yaman. Para pekerja menemukan beberapa jumlah perkamen dan manuskrip kuno. Awalnya mereka tidak menyadari apa yang mereka temukan dan mengumpulkan dokumen-dokumen tersebut dalam 2 kantong karung kentang dan diberikan kepada presiden dari otoritas purbakalaan Yaman yakni, Qadhi Ismail al-Akwa.

Proyek Gerd R. Puin

Al-Akwa menyadari bahwa yang ditemukan ini merupakan hal yang sangat penting untuk diteliti. Al-Akwa meminta bantuan internasional untuk meneliti dan melestarikan serpihan naksah tersebut. Pada tahun 1979 berhasil menarik perhatian seorang sarjanawan Jerman, yang kemudian membujuk pemerintah Jerman Barat, untuk mengorganisir dan membiayai proyek tersebut.

Manuskrip tersebut diorganisir oleh seorang ahli kaligrafi Arab dan juga sebagai peleografi Al-Qur’an yang bernama Gerd R. Puin. Puin telah memeriksa bagian-bagian perkamen yang ada dan mendapati urutan ayat demi ayat yang tidak biasa. Baik secara perbedaan kecil dalam teks tersebut.

Puin mengatakan, “Beberapa manuskrip ini merupakan langka yang dituliskan dalam bahasa Arab Hijazi awal. Meskipun bagian-bagian ini ditemukan dari sebuah al-Qur’an tertua yang pernah ditemukan”. Bagian-bagian ini juga merupakan sebuah palimpsest (naskah perkamen yang dituliskan di atas bahan yang dituliskan di atas bahan yang pernah ditulisi tulisan lain.) dengan tulisan baru yang menggatikan versi al-Qur’an yang bahkan lebih tua.

Baca Juga  Tafsir Maqashidi: Model Penafsiran yang Cocok di Era Milenial

Penemuan ini ditemukan dari Yaman berasal dari abad ketujuh dan kedelapan. Atau dua abad pertama agama Islam itu sendiri. Perkamen yang ditemukan adalah sebuah Al-Qur’an yang tertua yang pernah ada. Selain itu, sebagian menunjukkan perbedaan kecil yang menganggu teks Qur’an pada biasanya.

Naskah Al-Quran Tertua

Dalam pernyataan lain, Gerd Puin mengatakan, “Bagian dari Al-Qur’an bahkan seratus tahun lebih tua dari Islam sendiri dan bahwa al-Qur’an kemungkinan besar adalah semacam koktail teks yang tidak semuanya dipahami oleh pada zaman Muhammad.”

Padahal bila kita mengkaji lebih dalam ada beberapa ayat yang tergolong muhkamat dab mustasuyabihat. Kalau seandainya para sahabat merasa gelisah atau tidak tahu maksud dari wahyu yang dituliskan, tentu saja, mereka akan bertanya langsung kepada Rasulullah terkait hal tersebut.

Pernyataan ini didasarkan pada studi Puin tentang beberapa dari 15.000 lembar kertas kuno yang ditemukan di Yaman pada tahun 1972. Dan dikatakan berisi bagian-bagian tertua yang masih ada catatan ayat-ayat Al-Qur’an

Gerd Puin mengklaim bahwa teks-teks Al-Qur’an ditemukan di Yaman menunjukkan urutan ayat yang tidak konvensional dan variasi tekstual. Dan ini menjadi bahan mereka untuk mencela Al-Qur’an itu sendiri. Kalau seadainya tidak konvesional atau ada perbedaan, maka di manakah letak perbedaannya? Padahal Al-Qur’an merupakan wahyu yang tidak terawat dengan baik, sebagiamana Allah berfirman pada QS. Al-Hijr : 09:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya”.

Bagaimana Menguji Klaim Gres Puin?

Pandangan Gred Puin tentang potensi manuskrip Yaman dibagikan oleh yang lain ulama Al-Qur’an, yang mengakui potensi dampak varian itu bacaan dan urutan ayat akan memiliki pemahaman modern awalnya sejarah. Namun, mengingat kurangnya ketersediaan manuskrip Yaman pada tahap ini, sulit bagi siapa pun untuk menawarkan evaluasi atas klaim Gred Puin.

Baca Juga  Bagaimana Status Hukum Barang Gadai Menurut Al-Quran dan Sunnah?

Bila kita bertanya-tanya, meskipun Gerd Puin seorang ahli dalam kaligrafi, tapi ini menunjukkan ketidaktahuan terhadap Àl Qur’an itu sendiri. Atau apakah beliah menceritakan pemahamannya temtang Qur’an?

Penyunting: Bukhari