Pada pertengahan abad 19, studi mengenai al-Qur`an di Barat distimulasi dan dipengaruhi oleh dua karya berbahasa Jerman. Pertama, Historish-Kritisch Einleitung in der Koran (1844) karya Gustav Weil. Kedua, Geischihte des Qurans (1860) karya Theodor Noldeke. Theodor Noldeke masuk ke dalam orientalis golongan pertama. Orientalis model ini menitikberatkan kajiannya pada pengaruh tradisi Yahudi dan Kristen dalam Al-Qur`an. Berikut analisis terhadap pemikiran Noldeke sang pelopor kajian al-Qur`an.
Noldeke dan Ke-ummi-an Muhammad
Melalui pendekatan filologi, Noldeke memberikan kesimpulan yang berbeda dari perspektif lazimnya orang terkait predikat ummi bagi Muhammad. Menurutnya tidak benar jika dipahami ummi sebagai antonim dari “orang bisa membaca dan menulis. Noldeke memahami ummi sebagai antonim dari “orang yang mengenal kitab suci”.
Pendapat Noldeke ini berdasarkan pada Surah Al-Ankabut Ayat 48. Dalam ayat tersebut, Noldeke memahami predikat ummi sebagai orang yang tidak bisa baca dan tulis jika disandarkan kepada Muhammad akan nampak lemah. Pemahaman yang cocok adalah Muhammad tidak mengenal kitab-kitab terdahulu kecuali sedikit dan melalui pemahaman wahyu.
Perspektif Noldeke tentang pengertian ummi diamini oleh `Abid Al-Jabiri. Kata ummi adalah kebalikan dari ahl kitab (kaum Yahudi dan Nasrani). Ummiyun ditujukan bagi orang-orang Arab yang tidak faham terhadap kitab Taurat dan Injil, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat yaitu Surah Al-Baqarah Ayat 78, Ali Imran Ayat 20 dan 75 serta Al-Jumu`ah Ayat 2.
Berbeda dengan pendapat Al-Jabiri yang menolak penggunaan ummi untuk orang yang tidak bisa baca dan tulis, Al-Syatibi lebih jauh memahami term ummi sebagai sifat keawaman seseorang terhadap ilmu-ilmu terdahulu termasuk awam dalam tulis menulis dan ilmu hitung.
Menelisik pemikiran Noldeke terkait hal tersebut dan didukung oleh adanya dua perbedaan di antara tokoh Muslim, maka menurut hemat penulis kategori keduanya bisa dimaksudkan sebagai makna ummi. Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan tidak pahamnya Nabi Muhammad terkait baca dan tulis maka Nabi Muhammad tidak akan bisa memahami kitab suci terdahulu.
Hal itu menjadi benar karena jika Nabi bisa menulis maka al-Qur`an akan diragukan keotentikannya karena diduga karangan Nabi Muhammad. Demikian pula dengan tidak bisanya Nabi Muhammad memahami kitab terdahulu menjadikan al-Qur`an otentik dan terbebas dari ungkapan al-Qur`an mengadopsi dari kitab sebelumnya.
Noldeke dan Anasir Yahudi-Nasrani dalam Al-Qur`an
Noldeke memahami Nabi Muhammad tidak mengenal banyak kitab-kitab terdahulu. Oleh karenanya menurut Noldeke sumber terpenting yang menjadi rujukan Muhammad bukan kitab suci, namun berupa ajaran-ajaran kepercayaan dan sumber tinggi. Banyak sekali kosa kata dalam al-Qur`an yang jelas-jelas berasal dari tradisi Yahudi dan Nasrani.
Menurut hemat penulis dalam hal ini jika mengatakan Nabi Muhammad merujuk berarti Nabi Muhammad sebagai pengarang. Sementara telah diketahui, al-Qur`an adalah kalam Allah yang mana Nabi Muhammad hanya bertugas menyampaikan bukan mengarang. Terkait kosa kata dalam al-Qur`an yang menurut Noldeke berasal dari tradisi Yahudi dan Nasrani tidaklah benar.
Dalam al-Qur`an banyak ayat yang menjelaskan tentang Yahudi dan Nasrani termasuk tradisinya. Seperti halnya ketika ingin menceritakan keadaan suatu kaum termasuk tradisinya bukan berarti pengetahuan tersebut diambil dari kaum pemilik tradisi tersebut. Allah Maha Mengetahui termasuk mengetahui segala tradisi dan bahasa semua makhluk. Hal ini adalah bukti salh satu kekuasaan Allah.
Pengaruh Yahudi
Banyaknya orang Yahudi yang berdiam di Jazirah Arab termasuk Madinah memunculkan anggapan Noldeke bahwa ajaran Muhamamd tidaklah asli. Beberapa contoh yang disampaikan Noldeke seperti kalimat syahadah menurutnya diadopsi dari kitab Samoel II=Mazmur 18, 32, basmalah yang biasa diungkapkan dalam tradisi Yahudi yaitu pada kisah Nabi Nuh dan Nabi Sulaiman.
Dari tradisi inilah, tegas Noldeke Muhammad menirukan hal yang sama terutama ketika di Madinah. Surah al-Anbiya` Ayat 105 menurut Noldeke diambil dari Perjanjian Lama. Selain itu terkait kisah umat terdahulu menurut Noldeke, Muhammad telah melakukan kesalahpahaman. Misalnya status Haman dalam al-Qur`an disebutkan sebagai menteri Fir`aun sedangkan menurut Noldeke sebagai menteri dari Ahaseurus.
Asumsi Noldeke terkait kesalahpahaman menguatkan pendapatnya bahwa Nabi Muhammad adalah pembawa agama baru yang ummi tidak memahami kitab-kitab terdahulu.
Menelisik beberapa hal di atas ungkapan Noldeke perlu diluruskan. Agama yang dibawa Nabi dan Rasul Allah adalah sama. Pada intinya meng-esa-kan Allah. Hanya saja Islam adalah penyempurna agama-agama yang dibawa oleh Nabi dan Rasul terdahulu. Oleh karenanya syahadat dan basmallah bukanlah mengadopsi tradisi Yahudi, namun bentuk melestarikan agama Allah. Karena pada intinya kedua kalimat tersebut meng-Esakan dan mengagungkan Allah sang Khaliq.
Terkait ayat yang diduga sama dengan Perjanjian Lama (Injil) bukanlah suatu problem seharusnya. Mengingat antara Injil dan al-Qur`an sama-sama kitab suci yang berasal dari Allah. Hanya saja al-Qur`an keotentikannya terjaga, sedangkan Injil banyak yang sudah mengalami perubahan.
Sebagaimana kisah Haman, penulis mempercayai sebagai ,enteri Fir`aun karena itu dari al-Qur`an yang jelas terjaga. Adanya Noldeke berpendapat bahwa Haman bukan Menteri dari Fir`aun karena kitab yang dibacanya telah mengalami perubahan tidak otentik lagi.
Selanjutnya Nabi Muhammad bukanlah pembawa ajaran baru, hanya saja penyempurna risalah. Hal tersebut terlihat dari banyaknya ajaran terdahulu yang masih tetap lestari hingga sekarang misalnya Haji.
Pengaruh Nasrani
Sebagaimana Mannavel, Tor Andrae dan Richard Bell, Noldeke juga meyakini Muhammad telah mengadopsi beberapa term Kristen ke dalam al-Qur`an. Namun pengadopsian term asli milik agama Kristen ini tidak sebanyak Yahudi. Menurut Noldeke, di antara contoh pengadopsian tersebut dapat ditelusuri pada kitab perjanjian baru.
Kisah Maryam dan kelahiran Isa tegasnya diadopsi Muhammad sebagimana dubuktikan dalam al-Qur`an surah Ali Imran Ayat 41-47 dan surah Maryam Ayat 17. Demikian pula kerasulan Isa, namun tambah Noldeke keterangan terkait Allah akan mengutus rasul setelah Nabi Isa yang bernama Muhammad tidak ada disebutkan dalam perjanjian baru.
Menelisik hal di atas kembali ditegaskan bukan Nabi Muhammad yang mengadopsi karena Nabi Muhammad bukan pengarang al-Qur`an. Adanya kesamaan karya dari asal yang sama adalah wajar. Hal tersebut mengingat al-Qur`an dan Injil adalah sama-sama dari Allah.
Terkait pernyataan Muhammad sebagai utusan setelah Nabi Isa yang tidak tercantum dalam perjanjian baru, hal tersebut menunjukkan bahwa kitab mereka telah mengalami perubahan. Orang-orang Yahudi dan Nasrani enggan ada Nabi yang bukan keturunan Bani Israil, oleh karenanya pernyataan yang menunjukkan hal terkait dihilangkan.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply