Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mencari Tuhan Bukan Hanya di Bulan Ramadhan

ramdhan
Sumber: popbela.com

Kehidupan terkadang “menjebak”, karena seringkali rekayasa kehidupan di luar waras kemanusiaan. Narasi-narasi keagamaan yang bernafaskan kebencian semakin hari semakin mengeras dan tak bisa kita bendung. Memang politik kadang membuat seseorang lupa dengan jalan agamanya. Sehingga sikap egois seringkali menempel pada dinding pembuluh darah sebagai kebenaran tunggal yang harus diikuti. Tulisan ini akan membahas konteks di bulan Ramadhan.

Banyak orang bilang bahwa Covid-19 ini merupakan hasil rekayasa sains. Lalu, mengapa orang-orang cerdas jadi depresi oleh pandemi Covid-19, sedangkan orang awam justru rileks dan enjoy saja? Bukankah ini semua adalah realitas, seperti kata Charles Bukowski “The problem with the world is that the intelligent people are full of doubts, while the stupid ones are full of confifidence” (Masalah dengan dunia adalah  orang-orang cerdas penuh dengan keraguan, sedangkan orang bodoh penuh percaya diri).

Pandemi Covid-19 melanda eksistensi kemanusiaan di alam jagad. Justru yang abai adalah orang yang tidak paham tentang Corona. Boleh jadi tidak sepaham, tapi menarik sentilan Richard Feynman bahwa The most common cause of stress nowadays is dealing with idiots (penyebab stress paling umum saat ini adalah berurusan dengan orang idiot). Semoga sikap ‘idiot’ kita terhadap pandemi Covid-19 adalah refleksi semangat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Menghidupkan Spirit Agama Yang Humanis

Bulan Ramadan ini merupakan waktu yang tepat mengembalikan spirit agama yang humanis bisa tampil paling depan dengan segala kreatifitas dan aktivitasnya. Dalam kitab Lataaif Al Ma’arif, Imam Ibnu Rajab pernah menukil ucapan seorang ulama yang bernama Ma’ala bin Fadl. Beliau mengatakan, bahwa para ulama salaf selalu berdoa memohon kepada Allah agar selalu diberi kesempatan untuk beribadah di bulan Ramadhan, enam bulan sebelum Ramadhan datang, dan mereka memohon kepada Allah agar Allah menerima seluruh ibadah yang mereka lakukan.

Baca Juga  Keteguhan Ulama dalam Menuntut Ilmu

Itulah keadaan para ulama salaf sebelum kita, dalam menyongsong kedatangan bulan suci Ramadhan. Kerinduan mereka kepada Ramadhan begitu memuncak dan membuncah, bahkan enam bulan sebelum Ramadhan itu datang. Kerinduan mereka mendorong mereka untuk terus berdoa, meminta kepada Allah agar Allah memberi kesempatan umur untuk bertemu dengan Ramadhan dan menghabiskan hari-hari dalam beribadah kepada Allah.

Bagaimana tidak, Ramadhan adalah bulan istimewa yang tentunya tidak seperti bulan-bulan yang lainnya. Ramadan memiliki keistimewaan dibanding bulan lainnya dalam tahun Hijriyah. Bulan Ramadan sebagai bulan diwajibkannya berpuasa bagi setiap mukmin (QS. 2: 183); bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk dan perisai hak dan bathil (QS. 2: 185); Ramadan sebagai bulan penuh berkah bagi umat yang menjalankan sepenuh hati untuk meraih ridha-Nya (H.R. Ahmad); Berlimpah pahala bagi mukmin yang melaksanakan qiyamullail (H.R. Abu Daud, No. 1370); Totalitas berpuasa pada Bulan Ramadan dapat men-delete dosa-dosa di masa lampau kecuali dosa besar (H.R. Muslim, No. 233); Bulan Ramadan sebagai momentum terbukanya pintu-pintu kebaikan (surga), ditutup pintu keburukan (neraka), dan tangan-tangan syaitan (hawa nafsu) terbelenggu (HR. Bukhari, No. 1898 & 1899); dan berbagai dalil lain yang menunjuk kemuliaan dan keistimewahan di Bulan Suci Ramadan yang menginspirasi bagi transformasi kehidupan bagi seluruh umat Islam.

Mencari Tuhan Bukan Hanya di Bulan Ramadhan

Ramadan tahun ini dilanda sebuah tragedi kemanusiaan, yakni adanya pandemi Covid-19 yang sangat mencekam dan bagai ‘mesin pembunuh’ di era digital. Pandemi Covid-19 ‘memaksa’ orang berpuasa tidak boleh berkumpul membeli ta’jil, apalagi ngabuburit di tempat umum, tidak diperbolehkan salat berjamaah, salat jumat, dan salat tarawih di masjid (Lihat Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020). Masjid tadinya ramai menjelang buka puasa, lalu masuk salat maghrib, tadarrusan, salat Isya, ceramah, kemudian Tarawih, lalu kembali tadarrus bersama, hingga tengah malam. Semua itu kini sudah tinggal kenangan, luar biasa sepi, tiada tanda-tanda lagi ramadan tiba dan dilakoni, semua tampak jadi “sirna”.

Baca Juga  Puasa Sebagai Momentum Menjaga Diri dari Bahaya Lisan

Covid-19 ‘memaksa’ manusia untuk menengadah ke langit, berharap ‘hidayah’ untuk mencari solusi atas tragedi semesta.  Di kala nalar telah terkatup oleh kegamangan pandemi, tiada tempat pelarian akhir yang paling mengagumkan kecuali kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Tapi ketahuilah, mencari Tuhan bukan hanya di waktu bulan Ramadhan saja. Karena pandemi tidak cukup hanya 1 atau 2 tahun. Ia akan berakhir ketika dunia memilih untuk mengakhirinya. Kegelisahan dan kecemasan merambah ke seluruh relung emosional setiap orang, berharap mencari ketenangan, dengan kelegaan hati yang tercerahkan, walau tetap di rumah. Menghadirkan Tuhan di tengah pandemic, apalagi di bulan Ramadhan menjadi jalan terbaik karena semua ikhtiar yang dilakukan diiringi oleh curahan hati kepada-Nya melalui do’a.

Jalan Doa

Doa-doa pencari keberkatan telah menyusuri ‘kanal-kanal’ langit di setiap saat, mengharap ada arus solusi alternatif dan berhentinya pandemi Covid-19.  Kecemasan itu bukan saja dari pandemi Covid-19, tetapi implikasinya pada aspek ekonomi sangat besar. Masyarakat tidak lagi bekerja, dengan bermodalkan sisa tabungan (jika ada), telah merongrong “kebulan” asap dapur, menjadi perisai kedua atas pandemi tersebut. Doa-doa selanjutnya yang ‘menyerbu’ pintu-pintu langit adalah ekspektasi ekonomi yang dapat terpenuhi di tengah kepungan pandemi Covid-19.

Manusia merasa lebih nyaman dengan keakraban diri kepada Allah Swt., karena semua ini adalah skenario-Nya untuk mengembalikan manusia ke kodrat yang esensialnya. Jika manusia dalam genggaman hidayah-Nya, maka yang kurang mengharap iba dan yang berlebih menjadi memberi. Covid-19 memiliki sudut pandang teologi kemanusiaan yang menggugat egoisme dan arogansi menuju kerendahan hati dan kemuliaan jati diri.

Spirit Ramdhan Menuju Endemic Covid-19

Pandemi Covid-19 mendorong umat Islam meninjau kembali bulan ramadan dalam konteks yang berbeda, yaitu menuju endemic covid-19. Adanya bulan Ramadan mampu mendorong orang yang berpuasa agar rajin tadarrus dan tadabbur Alquran sebagai media memperkaya khazanah kearifan (QS. Shad: 29). Bukankah Covid-19 menghantarkan kita kepada pencarian rahasia kehidupan yang lebih bermakna, bernilai, dan esensial.

Baca Juga  Lafadz Rayb dan Syak: Sebuah Analisa Semantik dalam Al-Qur’an

Spirit Ramadhan dalam hal beribadah mahdah, baik yang wajib maupun sunah (salat, puasa, zakat, infak, zikir, tilawah, dan sebagainya harus ditingkatkan. Seperti salat sunnah, terutama di malam hari (tarawih dan witir) agar terbuka pintu hidayah dan maghfirah dari Allah Swt., atas kekhilafan di masa lalu. Selain itu, semangat dalam hal berdisiplin dalam menjalankan semua aktivitas juga harus dijaga. Ini terkait dengan berbagai aktivitas, baik yang terkait dengan ibadah mahdah maupun ibadah ghaira mahdah (muamalah).

Spirit yang ke-3 yang harus dijaga  adalah berbagi. Ramadan mengajak mukmin lebih banyak berinfak, bersedekah, berbagi kepada yang belum beruntung (fakir miskin), dan mengeluarkan zakat fitrah. Memberi makan bagi orang yang berpuasa, pahalanya baginya seperti orang yang berpuasa tersebut (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192).

Spirit yang terakhir adalah bersilaturahim. yang selama Ramadhan dilakukan dengan intens melalui berbagai aktivitas, seperti buka bersama yang dilakukan oleh semua kalangan, baik oleh individu maupun organisasi. Juga aktivitas lain, seperti tarawih, tadarus, ataupun sahur bersama. Inilah spirit Ramadhan yang harus mampu kita aplikasikan bukan hanya ditengah endemic covid-19, namun sepanjang tahun setiap bulan ramdhan. Wallahu’alam bisshowab.

Penyunting: Ahmed Zaranggi