Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Puasa Sebagai Momentum Menjaga Diri dari Bahaya Lisan

Lisan
Sumber: pesantrenmaqi.net

“Puasa  itu  perisai.  Maka  apabila  salah  seorang  kamu  berpuasa,  maka  janganlah  ia  menuturkan  kata-kata   keji. Janganlah  pula  menyebarluaskan kata- kata  keji  tersebut.  Dan  apabila  seseorang  sedang  memaki-makinya atau melakukan pukulan padanya, maka (janganlah kamu balas), tapi katakanlah, saya sedang berpuasa” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Melakukan ibadah puasa bukanlah merupakan ibadah yang ringan, terlebih bagi mereka yang memaksimalkan ibadahnya. Karena berpuasa dituntut tidak hanya sebatas mengamalkan secara lahiriah, melainkan diharapkan sebagai pelajaran dalam menahan diri selama berpuasa. Terutama di sini penulis lebih menekankan dalam hal menahan diri dari lisan.

Seperti yang diketahui bahwa lisan ibarat sebagai pedang bermata dua, di satu sisi bisa menghasilkan pahala, dan disisi lain juga bisa sebagai alat dalam memanen dosa. Seperti kata pepatah lama, gara-gara pulut santan binasa, gara-gara mulut badan binasa. Maksudnya apa? Karena dari lidah yang tidak memiliki tulang, dan justru karena tidak bertulang inilah lidah memiliki kebebasan dalam berbicara.

Dalam dunia media sosial misalnya. Berawal dari gosip, beritanya sudah menyebar luas kemana-mana. Yang bahkan, belum tentu sudah terverifikasi kebenaran faktanya namun lidah sudah tidak terkendali dalam membicarakannya. Berangkat dari fakta tersebut, ada baiknya kita mulai berhati-hati dalam menggunakan lisan. Terlebih selama dalam bulan ramadhan ini. Bayangkan, kita udah cape-cape menahan lapar dan dahaga, namun pahalanya hancur seketika hanya karna satu lidah.

Bahkan dalam masalah ini, Nabi Muhammad SAW pun mengingatkan kepada umatnya untuk senantiasa berhati-hati dalam menggunakan lisan. Dari hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi dari Abi Saíd al-Khudri. Rasul bersabda “Apabila  anak  Adam  mulai  beramal  di  pagi  hari,  maka  seluruh  anggota  tubuh  akan  mempercayakan  kepada  lisan  (agar  berhati-hati).  Mereka  berpesan:  “Wahai   lisan,   bertaqwalah   kepada   Allah   dalam   membawa  kami.  Kami  bergantung  kepadamu.  Jika  kamu lurus, kami pun ikut lurus. Jika kamu bengkok, kamipun juga bengkok”.

Alasan Allah Menciptakan Satu Mulut

Dalam mengendalikan sekaligus membendung bahaya lidah ini, sebenarnya Allah SWT sudah memberikan isyarat melalui penciptaan mata, telinga dan mulut. Allah menciptakan dua mata, dua telinga tapi satu mulut beserta satu lidah. Kalau kita tadabburi lebih dalam, sesungguhnya itu mengandung makna simbolik .

Baca Juga  Resensi Buku: Pemikiran Islam Indonesia Karya Mujamil Qomar

Apa maksud dan alasan Allah menciptakan dua mata, dua telinga dan satu mulut. Jika kita pikir-pikir fungsi dan manfaat mulut justru lebih urgen dan memiliki peran lebih dalam kehidupan sehari-hari, dibanding dua mata dan dua telinga.

Di sini alasan Allah menciptakan satu mulut, agar penggunaan telinga dan mata porsinya harus dua kali lebih berperan daripada penggunaan mulut. Dalam artian, sebelum mulut menggunakan otoritasnya dalam berbicara, hendaknya lihat dulu baik-baik. Apakah memang yang kita bicarakan sejalan dengan kebenaran atau tidaknya yang dilihat oleh mata?. Apa kita sudah mencerna dengan baik penjelasan orang lain dalam pendengaran secara cermat? Jika sudah, berbicaralah sesuai porsi yang diinfokan oleh telinga dan mata.

Jika kita sudah memahami dan mempedomani konsep simbolik tersebut. InsyaAllah mulut  atau  lidah  kita  akan  selalu  terkontrol,  terkendali  dan  terpelihara  dari  berbagai  perkataan dan pembicaraan yang tidak pantas maupun keliru.

Lisan Sebagai Ladang Pahala sekaligus Dosa

Seperti yang disebutkan tadi, keberadaan lidah/mulut ibarat pedang bermata dua. Karena lidah bisa membawa kita bahaga, namun bisa pula membawa kita sengsara. Puasa ramadhan ini seyogyanya juga harus dilengkapi dengan memperbaiki kebiasaan lidah. Yang awalnya suka berbicara sia-sia bahkan kotor diganti dengan mengucapkan kalimat yang mendatangkan pahala.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori, Rasul SAW bersabda, “Berkata yang baik adalah sedekah”. Luar biasa bukan, yang umunya orang bersedekah dengan harta, ini cukup bermodalkan dengan perkataan yang baik. Mudah namun jarang yang melakukan.

Memang bahwa hal-hal yang membatalkan puasa itu makan, minum dan yang telah ditetapkan oleh ulama fikih. Namun Lisan dapat merusak amalan-amalan puasa baik itu dengan mengumpat atau menggunjing, berbohong, caci maki, adu domba, menghina, berkata yang bermakna kotor.

Baca Juga  Arif Menyikapi Perbedaan

Itu semua dapat merusak pahala puasa kita, sungguh suatu kerugian bukan, apabila ibadah puasa yang kita kerjakan, dengan menahan segala penderitaan lapar dan dahaga serta menahan diri dari hal lain-lain. Ternyata malah ternoda nilai pahala puasanya, bahkan mungkin akan menjadi ibadah yang sia-sia, hanya karena lidah yang tidak terkontrol.

Oleh karena itu, marilah kita saling menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang tidak jelas, tidak ada manfaatnya dan bahkan dilarang oleh syara’. Sebab, orang yang berpuasa itu tidak saja  mampu menahan diri dari makan dan minum, tetapi berpuasa itu juga hendaknya mampu  menahan diri dari perkataan yang sia-sia, dan tidak sopan.

Semoga ibadah puasa kita tahun ini benar-benar menjadi ibadah yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena kita jalankan dengan penuh kesungguhan dan hanya mengharap maghfirah dari Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

Penyunting: M. Bukhari Muslim