Manusia menangis, hewan juga menangis, akan tetapi menangis pada manusia memiliki fungsi yang berbeda. Tangisan manusia bukan hanya sekadar karena masalah bio-mekanis, melainkan respon alami terhadap berbagai macam emosi seperti kesedihan, kebahagiaan dan frustasi. Walau memang, ia lebih banyak disebabkan oleh emosi sedih. Ada banyak sekali dampak positif dari tangisan yang disengaja—tidak karena irisan bawang, iritasi mata dan sejenisnya.
Berbagai Macam Dampak Positif dari Menangis
Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena luapan emosi mengandung 24% protein albumin yang bermanfaat dalam mengatur kembali sistem metabolisme tubuh. Menangis mampu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang membantu orang rileks, mengeluarkan hormon stress yang terdapat dalam tubuh yakni endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin serta air mata yang mengandung lisozim dapat membunuh bakteri yang ada di mata.
Selain itu, tangisan juga mampu menurunkan agresivitas seseorang ketika amarahnya meletup yang boleh jadi berdampak destruktif. Seperti yang diungkapkan Oren Hasson—seorang ilmuwan dari Universitas Tel Aviv, Israel—bahwa dengan air mata, seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah.
Pernyataan Oren Hasson mengenai turunnya agresivitas seseorang dengan menangis bisa memberikan sebuah kausalitas terhadap keberadaan dan hubungan seseorang secara sosial. Tangisan bisa membantu seseorang membangun komunitas. Namun, tidak juga dipungkiri bahwasanya kerapuhan dan ketidakmandirian identik dengan tangisan yang acapkali hal tersebut dinisbatkan pada perempuan.
Perempuan menangis rata-rata 3,5 kali per bulan sedangkan laki-laki 1,9 kali sebulan. Menurut Michael Trimble, hal itu disebabkan secara biologis perempuan memiliki jumlah hormon proclatin lebih tinggi dari laki-laki. Hormon ini punya kecendurungan yang mendorong seseorang untuk menangis. Sementara pada laki-laki hormon testosteron mengurangi kecenderungan seseorang untuk menangis.
Cinderella Complex
Meski begitu, kerapuhan dan ketidakmandirian di titik tertentu termasuk gangguan psikologis yang dewasa ini disebut sebagai sindrom Cinderella Complex.
Istilah Cinderella Complex merupakan istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Colette Dowling, seorang terapis asal New York sekaligus penulis buku “The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Indepenence” (1981). Dalam bukunya tersebut, ia menjelaskan bahwasanya perempuan pada umumnya tidak dididik untuk menghadapi ketakutannya, dan tidak diajarkan mengatasi segala masalahnya sendiri.
Di sisi lain, banyak juga kisah terkait sahabat, tabi’in dan ulama yang juga menangis, bahkan hingga tersedu-sedu. Di antaranya kisah Sayyidina Umar bin Khattab ketika salat Subuh berjamaah. Beliau membaca surat Yusuf, lalu beliau menangis hingga mengalir air matanya sampai tenggorokan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwasanya menangis adalah hak bagi perempuan maupun laki-laki. Menangis adalah pemberian Allah, seperti dalam QS. An-Najm (53): 43.
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
“Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,”
Menangis dalam Al-Qur’an
Islam memandang fenomena menangis tidak selalu identik dengan cengeng, lemah, rapuh dan lain sebagainya. Bahkan, dalam konteks yang tepat menangis justru dianjurkan. Di berbagai ayat Al-Qur’an maupun hadist disebutkan bahwa Allah sangat senang melihat hamba-Nya menangis. Rasulullah Saw. bersabda bahwasanya, “Tidak akan masuk ke dalam neraka seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah.” (H.R. Tirmidzi).
Dalam Q.S. Maryam (19): 58, Allah menyinggung tentang fenomena ini:
أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
Mengenai ayat tersebut, dalam kitab tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menerangkan bahwasanya menangis merupakan karakter pemisah antara generasi bertakwa dan generasi pendosa karena ia menandakan kuatnya sensitivitas seorang hamba pada Tuhannya. Hati mereka akan bergetar ketika dibacakan ayat-ayat-Nya. Sehingga rangkaian kata tidak mampu mengungkapkan apa yang sedang memenuhi ruang hatinya oleh keterkesananan di satu sisi dan rasa takut yang tinggi karena mengingat Allah di sisi lain.
Dari sini, kita dapat melihat bahwasanya orang yang seringkali menangis, justru mereka adalah yang paling banyak menggunakan akalnya, karena itu adalah respon. Adanya respon tentu didahulai oleh suatu kejadian atau peristiwa dalam hal ini adalah realitas. Rasa cinta dan takut tersebutlah yang akan menumbuhkan kesadaran bagi yang merasakannya untuk senantiasa berbuat baik. Dalam sabdanya, Rasulullah pernah mengatakan, “Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu semua akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Mengapa Ada Tangisan?
Berkaitan dengan manangis karena suatu masalah, apakah itu selalu bisa diartikan bahwasanya seseorang tidak bersyukur pada Allah dan tidak percaya akan ketetapan-ketetapan-Nya? Tidak juga.
Manusia merupakan makhluk dua dimensi yakni makhluk yang berdimensi ukhrawi dan duniawi. Sebagai makhluk yang berdimensi ukhrawi, tentu seseorang meyakini bahwasanya apapun yang telah digariskan-Nya adalah yang terbaik. Karena manusia dibatasi oleh keterbatasan pengetahuan-Nya, hanya Allah yang mampu mengetahui segala sesuatu sacara holistik. Allah memegang kehidupan yang telah lampau, saat ini dan yang akan datang. Allah pulalah yang paham mekanismenya, maka sebuah tindakan yang sembrono ketika ada seorang manusia hendak menentukan pilihan tanpa melibatkan Allah.
Namun, sebagai makhluk yang berdimensi duniawi dalam artian diliputi oleh berbagai macam keterbatasan, ‘dikutuk’ dengan hawa nafsu, tentu wajar apabila ia menangis. Bukan untuk merutuki langit, melainkan hanya sekadar menghiba pada Allah, bahwasanya dirinya lemah, lemah sekali.
Kesadaran akan kelemahannya sebagai manusia, tidak lantas membuat seseorang kemudian berputus asa menghadapi masalah yang ada. Ia hanya butuh jeda, mengumpulkan sebanyak mungkin kekuatan untuk meneruskan apa yang sedari awal telah diputuskannya. Yakni menjadi khalifah (dimensi duniawi) sekaligus hamba (dimensi ukhrawi).



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.