Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Melacak Model Hermeneutika Perspektif Islam dan Barat

model hermeneutika
Sumber: https://stock.adobe.com

Terlepas dari pro kontra mengenai aplikasi hermeneutika dalam ranah penafsiran al-Qur`an, kajian ini tetap menarik untuk ditelaah. Hermeneutika dianggap berasal dari Barat dan sebagai metode atau alat untuk mengkaji Bibel. Ternyata, hermenutika sendiri sudah ada dan dipraktikkan sejak dahulu oleh ulama-ulama Islam. Seperti apakah model hermeneutika tersebut? Tulisan ini akan melacak model hermeneutika di kedua tradisi tersebut.

Imam Ghazali: Proses Pemahaman Manusia

Al-Qur`an merupakan kalam Allah yang qadīm yang tanpa suara dan huruf (bi lā harfin wa lā ṣautin). Allah menurunkan al-Qur`an melalui malaikat Jibril itu tanpa adanya suara dan huruf. Tetapi menggunakan ilmu dharūriy yaitu ilmu tanpa usaha. Sehingga malaikat tahu begitu saja.

Ketika malaikat menurunkan al-Qur`an itu kepada Nabi itu berupa huruf dan suara atas tindakan Malaikat sendiri supaya dapat dipahami. Begitupun Nabi yang mengajarkan al-Qur`an kepada manusia berbentuk huruf dan suara supaya mudah dipahami. Namun sejatinya kalam Allah tidak mengandung suara dan huruf tetapi tetap dinamakan kalam Allah.

Kalam Allah itu kalam nafsi yang qadīm. Jika qadīm maka tidak bisa dikaji atau teliti. Untuk itu, harus ada teks yang sudah mengandung suara dan huruf. Teks inilah yang dijadikan sebagai objek dalam kajian hermenutis.

Teks inilah yang akhirnya digunakan manusia sebagai sarana dalam memahami al-Qur`an. Berbentuk teks yang mengandung suara dan huruf inilah sehingga al-Qur`an menjadi mudah dipahami oleh manusia. Dalam memahami inilah, bagaimana proses suatu pemahaman  atau proses orang menafsirkan tersebut terjadi.

Izzat Darwazah: Sirah Nabi Muhammad Sebagai Konteks Budaya (Siyāq) Arab

Teks harus dipahami menurut konteks budaya al-Qur`an diturunkan, yaitu abad ke-7. Al-Qur`an diturunkan pada Nabi Muhammad untuk bangsa Arab. Untuk itu, al-Qur`an berjalan beriringan dengan sejarah sirah nabawiyah Muhammad.

Baca Juga  Tradisi Genealogis: Pertarungan Ideologi Tafsir di Dunia Arab

Dengan mengetahui sirah Nabi zaman itu, baik bahasa, budaya, dan sejarah sosiohistoris maka seluruh makna al-Qur`an akan terungkap. Dengan demikian, penafsiran kembali ke konteks budaya al-Qur`an saat diturunkan, sehingga akan dikehendaki makna sejati yang diharapkan oleh al-Qur`an.

Memahami konteks turunnya wahyu dengan memahami sirah Nabi Muhammad dalam bahasa Schleiermacher disebut aspek psikologis sebagai bagian dari keseluruhan yaitu konteks budaya Arab saat itu. Sehingga memahami sirah Nabi sebagai bagian dari konteks budaya Arab. Penjelasan seperti ini sudah ada dalam kitab-kitab dahulu atau didalam tafsir seperti yang diuraikan oleh Izzah Darwazah.

Sudah dipraktekkan meski tidak diletakkan dalam pembahasan tersendiri, tetapi itu dibahas dengan gaya berbeda dan tidak sistematis. Akhirnya, oleh Bapak hermeneutik modern, Schleiermacher dijelaskan secara sistematis dalam pembahasan tersendiri, yakni kajian hermeneutika. Tetapi intinya sama bahwa suatu pemahaman tidak keluar dari konteks.

Hermeneutika Schleiermacher: Metode Seni Memahami

Schleiermacher memiliki metode seni memahami yaitu langkah-langkah untuk mendapat pemahaman yang benar dan proses untuk mendapatkan makna dari suatu teks. Pembaca lebih memahami dari penulis dengan interpretasi gramatikal dan psikologis. Model hermeneutika ini mengawali perkembangan hermenneutika di Barat.

Pemahaman ini harus fleksibel baik dari aspek gramatikal atau bahasa dan interpretasi psikologis. Keduanya harus ada, bekerja secara bersama dan terintegrasi. Psikologis disini bukan dimaknai psikologis marah, sedih, atau bahagia tetapi bagaimana suasana pemikiran penafsir. Berada dalam satu kesatuan, situasi, dan kondisi budaya dalam memproduksi teks. Kondisi penulis merupakan bagian dari kondisi teks keseluruhan ketika teks itu dibuat.

Untuk memahami sebagian itu dari keseluruhan. Sebaliknya untuk memahami keseluruhan itu dari sebagian. Dalam istilah Islam atau Izzat Darwazah disebut asbāb al-nuzūl, baik asbāb al-nuzūl mikro maupun makro.

Baca Juga  Menelusuri Jejak Referensi Rasm Mushaf Kuno (Part II)

Psikologis penulis ini merupakan bagian dari keseluruhan kondisi atau sosial budaya bangsa Arab saat itu. Jika pengarang teks itu adalah Allah maka tidak bisa masuk ke dunia mental pengarang. Sehingga memasuki dunia Nabi (sirah nabawiyah) sebagai bagian dari kondisi konteks budaya Arab sebagai ruang konteks al-Qur`an diturunkan.

Dalam muqaddimah tafsir Izzat Darwazah, secara tidak langsung dia memahami dan mempraktikkan hermeneutika. Teks dan makna teks bergantung pada konteks. Sehingga makna teks dipahami hanya dalam lingkup teks atau sebuah konteks. Yakni situasi atau kondisi penulis pada saat memproduksi teks itu. Bahwa pemahaman harus menyertakan konteks atau siyāq budaya. Secara tidak langsung telah terjadi praktik hermeneutika hanya saja baru tersistematis menjadi sebuah kajian setelah dirumuskan oleh Bapak hermeneutika modern, Schleiermacher.

Penyunting: Ahmed Zaranggi