Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Pandangan Al-Qur’an Terhadap Fenomena Beauty Privilege

Sumber: istockphoto.com

Menarik sekali ketika saya membaca sebuah jurnal penelitian yang berjudul: Beauty Privilege Wanita Menurut Pandangan Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik) yang ditulis Wahyu Ihsan dkk (El-Afkar Vol. 11 Nomor 2, 2022). Sebab penelitian ini menyinggung tema yang diangkat banyak artikel, namun tidak banyak yang menampilkan sudut pandang al-Qur’an sebagaimana jurnal tersebut. Berikut akan dibahas secara ringkas mengenai isi dari jurnal tersebut.

Ukuran Kecantikan

Beauty Privilege sejatinya adalah wanita yang memiliki daya tarik fisik, dan diasumsikan memiliki hidup lebih baik dan sukses dalam segala lini dibanding yang tidak memiliki daya tarik fisik. Ringkasnya, beauty privilege sebagai istilah yang merujuk pada hak istimewa wanita yang dianugerahi paras yang rupawan, dan memiliki tempat yang tinggi dalam struktur publik.

Hal ini semakin dikuatkan dengan fenomena lowongan kerja yang tidak sedikit mengutamakan kriteria wanita yang berpenampilan menarik. Hal inilah yang menyebabkan wanita semakin terjerumus kepada jurang kekeliruan dari persepsi cantik dan bernampilan yang hakiki dan sebenarnya.

Beauty privilege bisa merugikan wanita, karena eksistensinya memberi ruang untuk perempuan yang dianggap cantik dan berpenampilan menarik oleh masyarakat. Sedangkan mereka yang kurang sesuai dengan standar kecantikan, membuat ruang gerak semakin sempit dan sulit untuk mendapat hak yang seharusnya ia peroleh.

***

Ungkapan bahwa “yang cantik dan berpenampilan menarik itulah yang dihargai”, mereka yang memiliki kriteria putih, tinggi, mancung, rambut pirang berkilau, langsing, bermake up dan memakai style baju trend kekinian. Selalu mendapat sanjungan dan kehormatan yang lebih dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki kriteria tersebut.

Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Hadis tersebut memberikan nasehat bagi kita khususnya kaum wanita bahwa wajah dan penampilan itu tidak penting, yang terpenting adalah amal perbuatan, kebaikan hati dan bermanfaat bagi sesama manusia.

Baca Juga  Mengurai Gagal Paham Terhadap Hadis Perempuan Kurang Akal

Beauty Privilege dalam Alquran

Alquran tidak pernah melarang untuk berpenampilan menarik dan merawat tubuh. Selama penampilan itu tidak melewati batas norma-norma sosial dan agama. Cantik yang sebenarnya memang terletak pada kesalehan. Akan tetapi, jika ditambah dengan perawatan wajah dan tubuh, membuat kesalehan lebih indah dan menumbuhkan rasa percaya diri pada wanita.

Setidaknya konteks beauty privilege dalam Alquran terbagi menjadi dua kategori: kecantikan dan penampilan. Kategori pertama, yang bermakna kecantikan. Memang tidak ada ayat yang secara eksplisit membahas kecantikan. Namun dalam terminologi Alquran, kecantikan dikaitkan dengan bidadari. Ayat yang menyinggung kecantikan terdapat dalam surah ash-Shaffat ayat 48-49, ar-Rahman ayat 56 dan 70-72, al-Waqiah ayat 35-37, serta surah at-Tin ayat 4.

Konteks kecantikan yang dimaksud antara lain perintah kepada istri untuk berdandan, bersolek dan memakai wewangian di depan suami (QS. ash-Shaffat ayat 48-49), menjaga pandangan (QS. ar-Rahman ayat 56), serta hakikat  wanita yang baik sebagai yang akan selalu menjaga hati, jiwa, akhlak serta penampilan tubuhnya ketika di dunia agar bisa seperti bidadari-bidadari surga (QS  ar-Rahman ayat 70-72).

Seorang wanita yang ingin cantik, hendaknya mencontoh kriteria bidadari berdasarkan ayat-ayat di atas. Bahwa bidadari di samping cantik, harum, juga bersifat menjaga pandangan. Konteks bidadari lekat kaitannya dengan figur seorang istri yang hanya menampilkan paras terbaiknya di depan suaminya.

***

Interpretasi ayat di atas juga menggambarkan tips cantik luar dalam. Seorang wanita jika menginginkan cantik luar dan dalam (akhlak, kepintaran, ketakwaan) harus berproses lama atau memakan waktu sampai bertahun-tahun, bahkan hingga berumur tua dan meninggal. Jika wanita mampu bertahan dari segala cobaan dan godaan duniawi, Allah SWT akan menjanjikan balasan yang setimpal yaitu paras cantik dan akhlak yang kekal abadi. (QS. a-Waqiah ayag 35-37).

Baca Juga  Menjadi Perempuan Sholehah Sejati Melebihi Bidadari Surga

Kemudian, wajah dan tubuh tidak akan menjadi jaminan hidup nyaman di dunia bahkan di akhirat kelak. Yang menjadi jaminan hidup nyaman di dunia dan akhirat adalah ketakwaan. (QS. at-Tin ayat 4). Kategori kedua, yang bermakna penampilan. Berpenampilan menarik dalam Islam bukan dilihat dari standar kecantikan yang telah dibuat saat ini, seperti yang berkulit putih, bersolek berlebihan, dan memperlihatkan hiasan tubuh.

Dalam Al-Qur’an, berpenampilan menarik sangat penting tetapi tetap ada batasan-batasannya. Ayat-ayat yang menyinggung penampilan terdapat dalam surah al-A’raf ayat 31-32, an-Nur ayat 31, al-Ahzab ayat 59, dan al-Mudatsir ayat 4. Interpretasi dari ayat-ayat ini antara lain larangan mengenakan style fashion yang berlebihan (QS. Al-A’raf ayat 31), menyukai keindahan sebagai fitrah dan dibolehkannya berpenampilan menggunakan perhiasan dengan tetap memperhatikan batasannya (QS. al-A’raf ayat 32). Kemudian, nikmat berpakaian dari Allah juga sebagai bahan tafakur dan sarana mendekatkan diri kepada Allah (QS. An-Nahl ayat 81).

Selain itu, interpretasi penampilan ini juga menyinggung larangan menampakan perhiasan yang dapat menarik perhatian lawan jenis dan tabarruj serta memakai wewangian berlebihan (QS. An-Nur ayat 31), perintah kepada muslimah agar menutup auratnya ketika keluar rumah agar tidak menimbulkan fitnah (QS. Al-Ahzab ayat 59), serta menjaga kebersihan dan kerapian pakaian yang dikenakan (QS. Al-Mudatsir ayat 4).

Kesimpulan

Beauty privilege dalam Alquran ialah berkenaan ayat-ayat yang menyinggung kecantikan dan penampilan seorang wanita. Hendaknya wanita muslimah mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang membahas bidadari agar termotivasi mensyukuri dan mengoptimalkan kecantikan yang dimilikinya seperti bidadari surga. Seperti menampilkan paras terbaik di depan suami, menjaga pandangan, cantik luar dalam serta tidak mengukur kecantikan dari fisik.

Baca Juga  Pentingnya Ilmu Pengetahuan Dalam Islam

Adapun Alquran yang berbicara penampilan mengharuskan seorang wanita muslimah untuk menutup aurat dengan benar dan tidak berlebihan, menggunakan perhiasan sewajarnya, berpakaian sebagain sarana beribadah, serta menjaga kebersihan pakaian.

Pesan-pesan pada ayat Al-Qur’an tidak membenarkan adanya beauty privilege. Alquran menganggap semua wanita itu sama, yaitu memiliki taraf kecantikan masing-masing, yang membedakan hanya tingkat ketakwaannya. Sehingga wanita diharapkan selalu meningkatkan kualitas akhlak (inner beauty) dan memperhatikan etika berpenampilan.

Wallah a’lam.

Editor: An-Najmi