Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Manhaj Pendidikan dalam Tafsir Marah Labib karya Nawawi Al-Banthani

nawawi
Sumber: Alhuda14.net

Fitrah manusia  pemilik dari akal  merupakan buah karunia dari Pencipta. Akal akan semakin berkembang dan menjadi hidup jika pemilik dari akal itu sendiri bisa merawatnya dengan baik. Merawat disini bisa diartikan sebagai mengasah dan mengontrolnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan adanyapendidikan. Syaikh Nawawi al-Banthani merupakan sosok ulama termasyhur dikalangan pondok pesantren hadir menyumbangkan hasil pemikirannya terhadap pendidikan. Salah satu fikrah beliau adalah adanya 3 aspek dasar yang harus dimiliki oleh lembaga pendidikan. Yaitu ta’lim , tarbiyah, dan ta’dib.

Definisi Manhaj Pendidikan

Guru merupakan komponen terpenting yang menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar. Oleh karena itu, seorang guru harus mengerti metode atau manhaj yang dibutuhkan anak didiknya.

Secara etimologis, metode berasal dari bahasa yunani yaitu “ metodos”. Kata ini terdiri dari dua unsur kata “ metha” ( melalui atau melewati) dan “ hodos” ( jalan atau cara). Oleh karena itu, definisi dari metode pembelajaran dari gabungan kata tersebut adalah suatu jalan atau cara dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Syaikh Nawawi al-Banthani mengemukakan bahwa, pendidikan yang seutuhnya adalah pendidikan yang didalamnya mengandung tiga aspek, yaitu; ta’lim , tarbiyah, dan ta’dib.Adapun, berikut penjelasannya:

Ta’lim : proses ta’lim dalam islam mencakup transfer ilmu , nilai, dan suatu metode maupun transformasi

Tarbiyah : adalah menunjuk kepada pendidikan.

Ta’dib : Syaikh Nawawi al-Banthani menyamakan antara konsep Ta’lim dan Ta’dib

Analisa Teoritik Manhaj Pendidikan Syaikh Nawawi Al- Banthani

Beberapa aspek yang Syaikh Nawawi al-Banthani kemukakan terkait tujuan pendidikan di antaranya:

Baca Juga  Pelajaran Bertani dalam Islam

“ ketika niat dan tujuan kamu mencari ilmu hanya semata-mata karena Allah maka kamu akan mendapat hidayah-Nya. Dengan niat mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan diri sendiri, orang lain dan dengan ilmu itu kita bisa menghidupkandan meyakini kebenaran Islam,kehidupan di akhirat, dan Ridho Allah. Begitu juga mencari ilmu itu kita harus dilandasi dengan niat, mensyukuri nikmatnya akal dan sehatnya badan”.

Sedangkan untuk kurikulum terbesar dalam pandangan Syaikh Nawawi al-Banthani adalah al-Qur’an al-Karim.

“Tauhid, Diwajibkan bagi kamu pertama kali adalah mengetahui Dzat yang disembah kemudian menyembah-Nya.Bagaimana kamu bisa menyembah Dzat yang tidak kamu ketahuinama-Nya,  sifat-sifat Dzat-Nya, sifat-sifat wajib dan mustahil-Nya. Dan terkadang kamu meyakini tentang sesuatu yang mustahil dan yang bertentangan dengan kebenaran itu masuk dalam sifat-sifat-Nya Allah. Maka ibadahmu akan seperti debu-debu yang beterbangan. Untuk itu, apabila kamu ingin beribadah kepada Allah maka wajib bagi kamu pertama kali mengetahui bahwa Tuhan yang kamu sembah adalah Dzat yang maha mengetahui, maha kuasa,..dst”

Adapun, beliau juga menyampaikan atau sependapat dengan sebagian ulama salaf, bahwa ilmu dibagi menjadi 4 bagian: fiqh ( hukum islam), lmu kedokteran , ilmu perbintangan / falaq dan Ilmu nahwu. Selanjutnya, dalam segi penting tidaknya dalam penyampaian proses pendidikan, beliau membagi kedalam beberapa kategori, yaitu:

  1. Ilmu yang terpuji, baik dalam banyak atau sedikitnya ilmu yang didapat. Dan akan lebih baik jika menguasahi dalam jumlah yang luas. Seperti : ilmu tauhid, ilmu tentang sifat dan perbuatan yang disunahkan oleh Allah, dan lain sebagainya.
  2. Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, dan tidak sembarang orang yang bisa mempelajarinya karena dapat membawa kegoncanganiman. Seperti : ilmu filsafat.
  3. Ilmu yang tercela baik banyak maupun sedikit. Seperti : ilmu sihir, dan perdukunan. Ilmu ini adalah ilmu yang mengandung nilai kemudharatan bagi pemiliknya baik didunia maupun diakhirat.  
Baca Juga  Batasan Poligami: Analisis Semiotika Barthes dalam Q.S An-Nisa' Ayat 3

***

  • Metode Pengajaran

“ sebagian ulama menggambarkan tiga perkara tersebut (syariah, thariqot, dan haqiqah) dengan buah kelapa. Syariat itu seperti kulit luar kelapa, thariqat seperti santan dan haqiqat itu minyak dalam santan. Minyak tidak dapat dihasilkan kecuali sesudah memeras santan dan santan tidak akan ditemukan kecuali membelah kulit kelapa”.

  • Adabul Muta’alim

Menurut Syaikh Nawawi al-Banthani, sorang pendidik dapat disamakan dengan seorang ulama. “ ulama adalah orang yang mempunyai ilmu dan mau mengamalkannya (guru), mereka menjadi penerang bagi kehidupan manusia disetiap zamannya. Dan sesungguhnya amal yang sedikit tetapi disertai dengan ilmu itu leih bermanfaat daripada amal banyak tetapi tanpa mempunyai ilmu. Sampai-sampai Umar binKhattab mengatakan : meninggalnya seribu orang yang malamnya mengerjakan sholat dan siangnya berpuasa itu lebih ringan daripada ditinggal mati seseorang yang tahu tentang perkara yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah”.

  • Akhlak Anak Didik

“ banyak sekali anak kecil yang tidak bisa menjaga pertolongan dari Allah, dan mereka membutukan bimbingan dari orang-orang yang lebih tua”.

Menurut Syaikh Nawawial-Banthani, ilmu dapat dicapai dengan dua cara. Yaitu dengan cara kasbi dan sama’i. Ilmu kasbi adalah ilmu yang didapat dengan cara istiqomah belajar dan membaca didepan pendidik. Sedangkan ilmu sama’i adalah ilmu yang didapatdengan jalan mendengarkan beberapa perkara ukhrawi dan dunia dari ulama, dengan cara ikut dalam suatu majlis bersama mereka.

Analisa Teoririk Manhaj Pendidikan dalam Kajian Lafadz

Qs. AL-Imron ayat 190

إِنَّفِىخَلْقِٱلسَّمَٰوَٰتِوَٱلْأَرْضِوَٱخْتِلَٰفِٱلَّيْلِوَٱلنَّهَارِلَءَايَٰتٍلِّأُو۟لِىٱلْأَلْبَٰبِ

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ( Qs. Al-Imron : 190) ”


Dalam tafsirnya (Marah Labid), beliau mengatakan bahwa yang dimaksud ulul albaabadalah, orang-orang yang mampu menggunakan akalnya untuk berfikir tentang keindahan ciptaan dan hukum-hukum serta hikmahnya.

Baca Juga  Isra Nabi Muhammad: Peristiwa Supra Rasional

Terdapat 3 aspek yang harus dimiliki oleh lembaga pendidikan. Yaitu: ta’lim, tarbiyyah, dan ta’dib. Adapunkurikulum terbesar adalah al-Qur’an.

Disamping itu, perlunya kesadaran bahwa tujuan dari pendidikan adalah mendapat ridho dari Allah serta menghilangkan kebodohan diri sendiri maupun orang lain dengan cara mengajarkan ilmu yang telah didapat. Dalam QS. Ali-Imron ayat 190, yang dimaksud dengan ulul albabadalah mereka yang menggunakan akal mereka dalam memikirkan keindahan ciptaan pencipta, Allah SWT. Sekaligus memahami hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Editor: An-Najmi