Surat Ali-Imran merupakan surat ketiga dalam al-Qur’an yang terdiri dari 200 ayat. Surat ini termasuk ke dalam surat kelompok surat Madaniyah. Selain itu surat ini memiliki banyak ayat yang mengandung pesan-pesan moral dan ajaran agama Islam yang berhubungan dengan aqidah (keyakinan), akhlak (etika), ibadah, dan muamalah (hubungan sosial). Terdapat banyak sekali pelajaran, kisah, dan hikmah yang sangat berharga bagi umat muslim dalam surat Ali-Imran.
Surat Ali-Imran mengambil namanya dari keluarga Nabi Isa As yang disebutkan dalam surat ini. Surat ini mengandung banyak kisah para Nabi, termasuk Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad.
Penafsiran surat Ali-Imran dapat dilakukan melalui pendekatan tafsir bil ma’tsur ataupun bi al-ra’yi. Salah satu ayat yang dapat ditafsirkan adalah 181. Dalam ayat 181, terdapat satu lafadz yang akan menjadi titik fokus, yaitu sami’a. Lafadz ini memiliki makna dan maksud yang luas, karena bisa digunakan oleh manusia dan Allah Swt secara langsung. Sehingga diperlukan sebuah kajian tafsir untuk mengetahui makna lafadz “sami’a” dalam ayat tersebut.
Pengertian Sami’a
Lafadz “sami’a” adalah kata dalam bahasa Arab yang sering digunakan dalam konteks agama Islam. Secara harfiah, “sami’a” memiliki arti mendengar atau telah mendengar. Dalam konteks agama Islam, “sami’a” sering digunakan dalam kalimat “sami’a Allahu liman hamidah”; yang artinya “Allah telah mendengar orang yang memuji-Nya”. Kalimat ini sering diucapkan oleh jamaah setelah ruku’ dan sujud dalam shalat.
Selain itu, “sami’a” juga digunakan dalam doa-doa dan zikir-zikir. Di mana umat muslim berdoa atau berdzikir dengan menyebut nama Allah dan menyatakan bahwa Allah mendengar doa atau zikir mereka. Dalam agama Islam, “sami’a” juga dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas; untuk mengungkapkan kepercayaan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Keyakinan ini tercermin dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang menegaskan bahwa Allah selalu mendengar doa dan permohonan hambanya.
Selain digunakan dalam konteks agama dan praktik ibadah, lafadz “sami’a” juga dapat digunakan dalam bahasa Arab sehari-hari. Untuk mengekspresikan bahwa seseorang telah mendengar atau mendapatkan informasi tentang sesuatu. Misalnya, jika seseorang bertanya apakah temannya sudah mendengar tentang suatu berita terbaru. Maka ia dapat menggunakan kata “sami’a” untuk menanyakan apakah temannya telah mendengar tentang berita tersebut.
Di samping itu, dalam bahasa Arab, “sami’a” juga dapat diikuti dengan kata kerja lain untuk mengekspresikan tindakan atau aktivitas yang melibatkan indra pendengaran. Contohnya, “sami’a musik” yang artinya “mendengarkan musik”, “sami’a kulam” yang artinya mendengarkan ceramah”, atau “sami’a shaut” yang artinya “mendengarkan suara”.
Dalam ilmu fiqh atau hukum Islam, “sami’a” juga dapat digunakan dalam konteks hukum syari’ah. Misalnya dalam hukum jual beli, “sami’a” dapat diartikan sebagai kesepakatan atau persetujuan dari kedua pihak dalam transaksi jual beli. Selain itu, sami’a juga dapat digunakan dalam konteks pernikahan. Di mana kesepakatan atau persetujuan dari kedua belah pihak adalah syarat sahnya pernikahan menurut hukum syariah.
Macam-Macam Lafadz Sami’a dalam Al-Qur’an
Lafadz “sami’a” muncul di dalam al-Qur’an sebanyak 126 kali. Lafadz ini dapat memiliki beberapa makna, di antaranya adalah:
- Mendengar: dalam banyak ayat, “sami’a” digunakan dalam arti sederhana mendengar. Contoh penggunaannya dapat ditemukan dalam surat al-Isra’ ayat 36: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.
- Mendengar dengan penuh perhatian: dalam beberapa ayat, “sami’a” digunakan dalam arti mendengar dengan penuh perhatian dan pemahaman. Contoh penggunaanya dapat ditemukan dalam surat al-Anfal ayat 21: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan congkak dan merasa diri tak tersentuh oleh apa pun (munafik) yang berkata, ‘kami mendengarkan’, padahal mereka tidak mendengarkan (karena hari mereka mengingkarinya.
- Mendengarkan dan mematuhi: dalam beberapa ayat, “sami’a” digunakan dalam arti mendengarkan dan mematuhi perintah Allah. Contoh penggunaannya dapat ditemukan dalam surat al-Baqarah ayat 285: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua itu mereka beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari (rasul-rasul) itu dan mereka berkata, ‘Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kami kembali.”
Tafsir Lafadz Sami’a dalam Surat Ali Imran Ayat 181
لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ
“Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah olehmu azab yang membakar!”
Mengutip dari tafsir “Ibn Katsir” yang menafsirkan surat Ali-Imran ayat 181. Sebagaimana berikut: “(Sungguh Allah telah mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya’) Mereka itu ialah orang-orang Yahudi yang mengatakannya tatkala turun ayat “Siapakah yang bersedia memberi pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik?” Kata mereka, “Sekiranya Dia kaya tentulah Dia tidak akan meminjam kepada kita.” (Kami akan mencatat) maksudnya akan menyuruh mencatat (apa yang mereka katakan itu) yakni dalam buku catatan amal perbuatan mereka agar mereka menerima balasannya. Menurut salah suatu qiraat dibaca ‘sayuktabu’ bukan ‘sanaktubu’.
Ayat ini mengandung beberapa pesan penting. Pertama, Allah Swt mengetahui segala sesuatu yang diucapkan oleh manusia, bahkan jika mereka mengatakan sesuatu yang salah atau menentang kebenaran tentang diri-Nya. Kedua, orang yang mengaku kaya dan menganggap bahwa Allah miskin sebenarnya menunjukkan kesombongan dan kebodohan. Ketiga, orang-orang yang membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar akan menghadapi hukuman yang pedih dari Allah Swt.
***
Dalam ayat ini, lafadz “sami’a” memiliki arti “mendengar” atau “menerima” dalam konteks yang berkaitan dengan Allah Swt. Ayat ini menyatakan bahwa Allah Swt mendengar perkataan orang-orang yang menganggap bahwa Dia miskin dan merasa bahwa diri mereka kaya. Allah Swt juga menyatakan bahwa Dia akan mencatat perkataan mereka tersebut, dan bahwa mereka akan menerima siksa yang sangat pedih sebagai akibat dari pengingkaran mereka terhadap-Nya.
Penting untuk dicatat bahwa ketika Allah disebutkan dalam al-Qur’an sebagai “al-Sami’” (Maha Mendengar), artinya Allah tidak hanya sekadar mendengar kata-kata manusia. Namun Dia juga memahami arti sebenarnya dari setiap ucapan manusia dan mengetahui segala yang tersembunyi dan terbuka. Oleh karena itu, Allah mengetahui semua kebohongan dan kesombongan manusia serta segala yang terkandung di dalam hati mereka.
Jadi dalam konteks ayat ini pada surat ali-imran kata “sami’a” juga menunjukkan bahwa Allah menanggapi apa yang diucapkan manusia. Dengan kata lain, Allah menunjukkan bahwa perkataan orang yang menyombongkan diri dan menganggap diri mereka lebih kaya daripada Allah tidak akan luput dari perhatian-Nya, dan mereka akan menerima hukuman yang pantas sebagai akibat dari kesombongan dan kezaliman mereka.
Editor: An-Najmi


























Leave a Reply