Tulisan ini menyambung pada artikel pertama tentang kesamaan manusia dalam al-Qur’an.
Kesamaan dalam Kesempatan Mengelola Dunia
Manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki kelembihan berupa akal dan hati. Kedua unsur ini diberikan kepada mansuai dalam rangka meyakinkan manusia dapat mengelola dunia dan seisinya (khalifatullah). Mengelola yang dimaksud adalah dapat memakmurkan kehidupan dunia, yaitu kehidupan yang baik sehingga dunia dapat menghadirkan kebaikan di akhirat juga. Tentunya manusia yang faham akan dirinya diberikan tanggung jawah sebagai khalifatullah akan sadar terhadap kebesaran Allah SWT sebagai penguasa atas dunia dan isinya itu pertama. Kedua manusia akan sadar tentang kedudukan dirinya di dunia serta mengetahui apa yang harus dilakukan terhada diri dan juga kepada Allah SWT.
Bagaiman Al Qur’an membahasa kesamaan ini, ada dalam surat Al Baqarah ayat 30, “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”. Dengan tegas, Allah SWT menyampaikan kepada penduduk langit saat itu malaikat tentang amanah yang adan diberikan kepada manusia.
Dialogpun terjadi, berisi tentang ketidak percayaan malaikat atas amanah yang akan diberikan kepada manusia. Ketidak percayaan itu bukan tanpa alasan, bahwa manusia akan melakukan kerusan di dunia dan juga akan menjadikan dunia surat karena permusuhan manusa satu dengan lainnya yang akan menimbulkan pembunuhan. Malikat pun menyampaikan tentang apa yang telah mereka lakukan, yang ucapan itu sebenarnya menyampaikan salah satu sikap, sifat dan prilaku yang harus dimiliki oleh makhluk pengelola dunia. Dari dialog itu, juga terbaca bahwa Allah SWT yakin bahwa manusia akan menjadi dunia tempat yang adil makmur dan tempat mulia yang dapat memuliakan dirinya di akhirat kelak.
Inilah kesamaan itu, bahwa sejatinya manusia memiliki kesempat yang sama untuk menjadi khalifahtullah yang dapat menghampar kebaikan-kebaikan di muka bumi. kesempat yang akan melahirkan keberkahan kehidupan untuk diri dan manusia lainnya serta kesamaan dalam memprilaku dalam memuji, mensucikan dan mendakatkan diri kepada Allah SWT. Walaupun pada realitanya, kesemaan itu tidak pernah sama dan inilah menyampaikan pesan bahwa hanya orang-orang terpilih yang ada dalam mengetahui akan kemuliaan hidup setelah dunia.
Kesamaan dalam Martabat
Islam hadir untuk mengakat harkat dan martabat manusia secara keseluruhan, baik itu laki-laki maupun perempuan. Tatkala kehidupan bangsa arab penuh dengan kecaman atas jenis kelahiran jenis kelamin, Islam datang dengan ajaran untuk memberikan pembebasan. Ketika seorang perempuan bisa dijadikan pertaruhan, Islam dengan narasinya memuliakan perempuan. Ketika kehidupan Arab dengan perilaku yang merendahkan seorang budak dan perlakukan sewenang-wenang bahkan melebihi rendah seekor binatang, Islam hadir untuk memberi pembelaan dengan perkataan bahwa semua manusia itu sama dihadapan Allah SWT.
Islam tidak mengajarkan umat untuk berlaku diskriminasi, sebab Islam memahami manusia pada hakekatnya ada dicipta dalam sebaik-baiknya ciptaan. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Qs. At Tiin: 4). Ayat ini memberi informasi tentang derajat manusia itu sama. Laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan dalam hakekat penciptaan, semua memiliki modal kebaikan sama. Hanya jenis kelamin dan bentuk fisik saja berbeda, namun secara amanah dan tanggung jawab di hadap sang khaliq tetap sama dan yang membedakan atas pencitaan mereka adalah ketakwaan pada Illahi Rabbi.
Hal tersebut dipertegas dalam Al Qur’an surat Al Hujarat ayat 11, tentang larangan sekumpulan laki-laki dan perempuan untuk merendekah laki-laki atau perempuan lainnya. Bahkan larangan untuk mencela diri sendiri dan memanggil dengan gerlar yang mengandung ejekan. Begitulah Al Qur’an memandang manusia memiliki martabat sama, sehingga tidak ada kesempatan sedikitpun untuk menghinakan manusia dengan cara apapun. Karena pada hakekatnya perbedaan menjadi satu kemuliaan bagi manusia dan hikma berupa ilmu pengetahuan di dalamnya.
Dalam perbedaan hal ini, Al Qur’an memberikan penjelasan dan penegasan dalam surat Al Hujarat ayat 13 menegaskan “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. Inilah beberapa kesamaan manusia dalam Al Qur’an.
Editor: An-Najmi

























Leave a Reply