Salah satu aliran dalam filsafat ialah eksistensialisme yang hendak mengungkap keberadaan manusia sebagaimana yang dialami oleh manusia itu sendiri. Eksistensialisme tidak mencari esensi atau substansi yang ada dibalik penampakan manusia melainkan eksistensi mengacu pada sesuatu yang konkret, individual dan dinamis.
Salah satu tokoh eksistensialisme ialah Soren Aabye Kierkegaard yang menyebut bahwa setiap individu pada asasnya (harus) mempunyai keterlibatan dan komitmen tertentu pada setiap peristiwa yang dilihat atau dialaminya, sehingga ia tidak bisa hanya berperan sebagai seorang pengamat objektif, melainkan sekaligus adalah seorang aktor yang berperan aktif dalam setiap apa yang dillihat atau dialaminya itu.
Jadi, seseorang dapat disebut ada keberadaannya jika ia dinamis dalam realitas yang dialaminya. Namun sebaliknya jika seseorang bersikap statis menghadapi realitas maka orang tersebut dapat dikatakan tidak nampak keberadaannya.
Eksistensialisme Berdimensi Esoteris
Berbeda dengan Seyyed Hossein Nasr yang cenderung menekankan eksistensi seseorang pada aspek kontemplatif yang terhubung dengan sebuah aksi. Kontemplasi di dalam spiritualitas Islam pada dasarnya adalah sebuah pengetahuan yang menghubungkan si pengamat dengan mode-mode kehidupan yang lebih tinggi. Kontemplasi dapat merubah pengetahuan teoritis kedalam realisasi yang konkrit, kemudian realisasi yang konkrit ini menyebabkan aksi yang benar, baik itu berupa aksi batiniah maupun lahiriah.
Ada sebuah perbedaan yang sangat besar antara seorang manusia yang tidak mempraktekkan tradisi dan hidupnya secara “eksistensial” serta tidak terikat kepada suatu alam tradisional, dengan manusia lainnya yang berpartisipasi didalam alam tradisional; terutama sekali apabila partisipasinya itu bersifat aktif dan ia senantiasa menyadari bahwa setiap saat didalam hidupnya ia dorong oleh “tangan” Allah (Q.S. 48:10).
Sebagai contoh, seorang artis mencipta dan melakukan aksi-aksi tertentu terhadap materi. Tetapi karena ia mengikuti pola-pola, norma-norma, peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tradisional yang semuanya diperoleh dari dan sebagai akibat dari pemahaman kontemplatif, maka aksinya tersebut terjadi sesudah kontemplasi. Kontemplasi dan aksi saling menjalin dan melengkapi, sedang hubungan hierarki keduanya dimana kontemplasi mendahului aksi.
Nasr menghubungkan eksistensi manusia dengan hal-hal yang bersifat esoteris. Mengapa demikian? Tentunya hal tersebut tidak terlepas pada pandangannya yang melihat didalam diri manusia modern tidak adanya dimensi kontemplatif, keadaan seperti itu membuat manusia tidak lagi eksis. Karena telah mengakibatkan keretakan antara manusia dengan alam, padahal manusia diciptakan agar bisa mencapai kembali kepada pusat eksistensi dengan melakukan tindakan yang benar.
Ia membagi ke dalam dua tipe manusia; pertama, manusia suci senantiasa berada dalam eksistensi dirinya sebagai khalifah yang menjaga dan menguasai alam. Kedua, manusia promethean yang mengingkari tersebut. Ia melakukan berbagai kerusakan dan manipulasi terhadap alam. Eksistensi manusia yang terhubung dengan pusat eksistensi (ilahi) akan menyempurnakan eksistensinya sebagai manusia yang suci.
Distingsi Pemikiran Barat dengan Seyyed Hossein Nasr
Seyyed Hossein Nasr melihat eksistensialisme bukan hanya sekadar berperan aktif namun juga memikirkan basis atas peran aktif tersebut agar peran atau aksinya tersebut bernilai benar. kebenaran aksi yang berdasar pada kontemplasi akan membawa manusia beraksi sesuai kehendak Tuhan dan pandangannya senantiasa tertuju kepada realitas-realitas ilahi.
Keharmonisan antara kontemplasi dengan aksi, antara hati yang senantiasa menemukan damai didalam hadirat ilahi dengan akal pikiran, serta jasmani yang melakukan aksi dengan tekad, serta kepasrahan yang sebesar-besarnya kepada kehendak ilahi merupakan perwujudan atau eksistensi yang sempurna dari hubungan yang ideal dan saling melengkapi antara kontemplasi dengan aksi.
Perbedaan yang signifikan antara tokoh eksistensialis barat cenderung melihat eksistensi manusia pada ranah eksoterik, sementara Seyyed Hossein Nasr melihat eksistensi manusia lebih dalam lagi mengarah pada ranah esoteris. Sebelumnya, eksistensialisme tidak mencari esensi dibalik penampakan manusia, sedangkan Nasr justru membuat terobosan bahwa eksistensialisme dapat mencari substansi dibalik keberadaan manusia.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply