Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kemiskinan dan Semangat Berderma dalam Islam

Sumber: istockphoto.com

Kemiskinan merupakan tema besar yang tidak pernah selesai diuraikan. Menurut Qurasy Shihab kata miskin berasal dari kata sa-ka-na berati diam atau tenang. Sehingga makna kata ini merujuk kepada seseorang yang diam disebabkan sudah tidak berdaya. Dewasa ini kita hidup dalam kondisi sistem ekonomi pasar neoliberal. Alih-alih menjanjikan kesejahteraan, justru melahirkan banyaknya angka kemiskinan. Kondisi struktural yang menindas demikian tentu membuat kita refleksi panjang tentang kaum yang tidak berdaya. Perlunya semangat baru untuk melawan kemiskinan tersebut.

Angka terakhir tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 9,54% per maret 2022. Meski ada penurunan sebanyak 0,17 dari tahun sebelumnya sebanyak 9,71% tentu ini masih menjadi tugas kita bersama untuk senantiasa menyelesaikan persoalan kemiskinan. Pasalnya, kita memiliki tugas penurunan kemiskinan hingga nol persen sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang memuat konsolidasi bersama tingkat global di tahun 2030 kemiskinan ekstrem terhapuskan.

Selain mendorong aktor kebijakan mengusahakan pengurangan beban pengeluaran, meningkatkan kemampuan pendapatan dan pemberdayaan peningkatan unit mikro masyarakat. Kita juga dituntut untuk saling bergotong royong dengan masyarakat sekitar yang mengalami kondisi kemiskinan. Untuk memantik persoalan ini, penulis mengambil spirit api Islam guna menyoroti persoalan kemiskinan. Setidaknya ada banyak prinsip Islam yang menyodorkan kekuatan solidaritas antarsesama.

Islam Agama Anti Kemiskinan

Menurut Dr. Ali Syariati, Nabi terbagi menjadi dua macam. Pertama, nabi Ibrahimiah, dan kedua, nabi non ibrahimiah. Menurutnya, nabi non ibrahimiah adalah orang-orang yang lahir dari lingkungan istana, seperti kongfucu, Lao Tse, dan Sidharta Gautama. Sedangkan nabi ibrahimiah yakni nabi-nabi dalam Islam. Dalam pandangan Syariati, Sidharta Gautama mulanya lahir dari istana, kemudian mengasingkan diri dan menerima wahyu, lalu kembali ke istana. Sebaliknya, nabi Ibrahimiah berasal rakyat jelata, berkhutbah di kalangan rakyat jelata, dan pengikut pertama mereka dari golongan rakyat jelata.

Baca Juga  Realisasi Profil Pelajar Pancasila Menurut Al-Qur'an

Nabi Ibrahim menentang Namrud, Musa yang rakyat biasa melawan kelompok fFraun dan berusaha membebaskan Israel dari perbudakan panjang menentang istana. Pada posisi tertentu, lembaran Al Qur’an mengisahkan bagaimana nabi Nuh diejek oleh para pembesar. ‘’Berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina-hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”(Surat Hud : 27)

Kalimat orang-orang hina (Aradziluna) ini sebagai orang menafsirkan sebagai kaum jelata. Di dalam tafsir Al Misbah Quraish Shihab, ayat ini  diartikan sebagai respon dari tingkatan sosial yang lebih rendah tidak lebih terhormat dibanding mereka. Senada demikian, dalam Surat Saba ayat 34 menjelaskan hal yang sama. ‘’Dan setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, “Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan.”

Islam sebagai agama pembebas kaum lemah, tertindas, terinjak mewariskan spirit ini dari zaman ke zaman. Sebagai ajaran yang melarang eksploitasi manusia, semangat prinsip asasi ini mendorong hadirnya rasa solidaritas antarsesama. Dalam Al Quran Allah berfirman, ‘’Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.’’

Islam Mengajarkan Umatnya Menjadi Kaya

Ayat ini berdampingan erat dengan suatu hadist yang diriwayatkan Thabrani, Rasul Saw bersabda, ‘’“Sesungguhnya Allah mewajibkan atas orang-orang kaya Muslim untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keleluasaan hidup bagi orang-orang miskin. Dan tidaklah orang-orang miskin mengalami ke-sengsaraan, bila mereka lapar atau telanjang itu ada karena perbuatan orang-orang kaya juga. Ketahuilah, Allah akan meminta pertanggungjawaban orang kaya itu dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.”

Islam menyuruh umat manusia mencari kekayaan yang sah guna membantu orang lain, karena itu sifat kemulian. Nilai moral charity mengenai sedekah, zakat, infaq sebagai bentuk meneguhkan komitmen umat Islam turut terlibat membebaskan umat dari beban yang menghimpit serta belenggu dari kemiskinan yang menimpa antarsesama.

Baca Juga  Tentang Waktu dan Pertanggungjawabannya

***

Disamping itu, dewasa ini berbagi antarsesama menjadi riset yang memiliki kaitan dengan kebahagiaan. Power of giving, charity, pilantrophy membuat manusia menjadi mahluk yang berbahagia. Live scince mempublikasi hasil riset yang berjudul Key to Happines : Give Away Money. Hasilnya, melalui uji statistik uang dibelanjakan untuk membantu orang lain lebih membahagiakan respoden, daripada untuk keperluan diri sendiri.

Secara ilmiah power of giving memberikan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih bermakna kepada sang pemberi. Tentu hal ini, memiliki korelasi dengan semangat semua agama yang mengajarkan bahwa harta yang kita peroleh sejatinya hanyalah titipan dari yang maha kuasa. Kemiskinan yang menimpa manusia disekitar kita harus menjadi persoalan yang dapat diselesaikan, hal yang sederhana bisa kita lakukan memulai berdema dengan sesama manusia.