Hidup adalah perjalanan yang setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak dapat dipungkiri, bahwa buaian dunia tampak sangat indah di pelupuk mata. Apalagi dengan teknologi yang semakin berkembang. Segala jenis media sosial menyita banyak waktu penggunannya, segala macam game membuat pecandu-pecandunya lupa akan waktu, situs perbelanjaan online membuat ibu-ibu, wanita, remaja, dan siapapun berloma-lomba mendapatkan barang terbaru yang sedang ngetrend demi sebuah kata bernama ‘pujian’.
Sehingga tidak heran, 24 jam waktu yang kita miliki seperti bergerak sangat cepat, separuhnya telah dihabiskan untuk bersenang-senang di alam maya yang bisa saja menyesatkan. Segala yang kita miliki akan dipertanyakan, termasuk waktu yang kita lewatkan. Untuk apa kesempatan yang diamanahkan Tuhan kepada kita? Kita habiskan untuk apa?
Pepatah Arab mengatakan bahwa waktu adalah pedang, yang jika tidak kita gunakan dengan baik, maka ia akan melukai. Seperti halnya waktu. Jika tidak digunakan dengan tepat, cermat, dan baik, maka waktu yang akan membinasakan kita, membuat diri kita terlena terhadap hal yang sia-sia. Na’udzubillah. Jika di dunia Arab waktu ibarat pedang, maka di dunia Barat waktu diibaratkan dengan uang.
Sehingga sudah sangat familiar di telinga, ‘time is money’ yang menggambarkan betapa sangat berharganya waktu yang kita miliki. Setiap detiknya harus terlewati dengan aktivitas baik yang berharga. Rasulullah saw. Bersabda,
“Kelak, kedua kaki anak adam tidak akan beranjak di hari kiamat sehingga ia ditanyai mengenai untuk apa umurnya dihabiskan, apakah ilmunya diamalkan, bagaimana ia memperolah hartanya, dimana ia menginfakkan hartanya, dan bagaimana tubuhnya usang.” HR. Tirmidzi dari Abi Barzah al-islami. Hadis ini dikomentari oleh Syaikh al-Albani dengan kualitas shahih.
Hadis tersebut menggambarkan betapa Islam sangat menghargai waktu, yang kemudian dirincikan sedemikian rupa.
- Umur
Setiap manusia dianugerahkan umur yang berbeda-beda. Tentu, umur menjadi hal yang sangat berharga bagi jiwa-jiwa yang hidup, dan ternyata, hal inilah yang akan ditanya pertama kali nantinya, untuk apa umur kita dihabiskan. Jika manfaat yang ditebar, kebaikan yang dilakukan, maka tentu kemuliaan akan menghampiri, jika sebaliknya? Maka yang kita temui hanyalah kebinasaan.
- Ilmu
Setiap muslim memiliki kewajiban menuntut ilmu yang sama, baik laki-laki maupun wanita, tua atau muda, kaya atau miskin. Aktivitas mulia ini merupakan sebuah cara yang sangat efektif untuk memanfaatkan waktu, yang selain menuntut ilmu, kita juga akan mempertanggungjawabkan untuk apa ilmu tersebut kita gunakan. Apakah ilmu tersebut hanya tersimpan untuk kita, atau kita sebarkan? Apakah ilmu tersebut menuntun kita kepada kebaikan atau keburukan? Atau, apakah ilmu tersebut menjadikan kita dekat dengan Rabb atau sebaliknya?
Hal ini juga berkaitan dengan waktu. Jika kesempatan dan waktu yang ada digunakan dengan sangat baik, digunakan untuk mengamalkan ilmu, bukankah kebaikan pula yang akan dituai?
- Harta
Sebagian besar waktu manusia dihabiskan untuk mencari nafkah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga bagaimana kita memperolehnya tentu sangatlah penting. Perkara menimbang halal dan haram tetap harus menjadi prioritas. Sehingga jika waktu yang digunakan adalah untuk mencari harta yang halal, maka hal tersebut pasti akan menjadi waktu yang berkualitas dan penuh kebaikan.
- Tubuh
Terkahir, untuk apa tubuh dibinasakan atau dihabiskan. Seluruh anggota tubuh manusia akan dipertanyakan, mulai dari mulut, kaki, tangan, dan anggota tubuh lainnya apakah digunakan untuk hal baik atau untuk menyakiti orang lain. Semuanya akan ditanyakan, dibalas, dan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah bersabda,
“Di antara kebaikan seorang muslim adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” HR. Tirmidzi, Ibn Majah. Syaikh al-Albani berkomentar bahwa hadis ini shahih.
Maka sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya kita dapat memilah antara kebaikan dan keburukan, hal apa yang meski dikerjakan dan ditinggalkan, karena satu detik dari tarikan nafas sangatlah berarti. Dengan meninggalkan hal-hal yang tidak berguna adalah sebuah upaya yang bisa gunakan agar kita tetap bisa melakukan hal-hal positif.
Sehingga mengetahui prioritas minoritas, mendesak santai , dan mana yang harus mana yang bisa ditinggalkan sangatlah penting untuk menghindari kelalaian. Kita tidak pernah tahu kapan waktu itu akan berhenti, maka mari menggunakannya untuk menanam bekal di hari perhitungan. Wallahua’lam.
Editor: Rubyanto
























Leave a Reply