Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kajian Semantik Lafaz Istiwa’ dalam Al-Qur’an

Sumber: istockphoto.com

Aqidah yang condong terhadap “tasyabbuh” (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk) akhir-akhir ini mulai marak. Mereka menganggap bahwa Allah ialah Zat yang bertempat atau duduk di atas “Arsy” . Aqidah seperti ini sangat miris karena muncul spekulasi bahwa Allah sebagai (khaliq) membutuhkan sandaran (makhluk) berupa Arsy. Padahal Allah adalah zat yang qiyamuhu binafsifi (berdiri sendiri), yang memiliki lawan sifat qiyamuhu lighairihi (berdiri dengan bantuan). Di akhir zaman ini banyak orang-orang yang tidak selektif dalam memilih pembimbing ruhani. Banyak dari orang awam yang terjebak (karena ketidaktahuan) dalam ajaran dan aqidah yang sesat. Mereka mengambil ilmu kepada orang-orang yang memahami ayat Al Qur’an hanya secara zahir. Sebagai contoh mereka mengartikan makna “istiwa’ ”  dengan makna duduk, atau bertempat.

Term “Istiwaa’ ” Dalam Al Qur’an

Dalam Al Qur’an kata istiwa’ diulang sebanyak  7 kali. Enam kali dengan redaksi yang sama yaitu pada surat Al A’Raaf:54, Yunus:3, Al Ra’du:2, Al Furqan:59, Al Sajdah:4, dan Al Hadid:4. Dan sekali dengan redaksi yang sedikit berbeda pada surat Taha:5. Makna yang melekat pada benda seperti duduk, bertempat, bersemayam, membayangi sesuatu, wajib kita nafikan ketika mengartikan ayat-ayat di atas. Sebab sifat tersebut tidak mustahil melekat pada Allah. Kita wajib berkeyakinan bahwa term tersebut dalam ayat-ayat tersebut mempunyai arti sifat Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya. Bukan makna yang telah dimiliki makhluk, karena Allah berfirman pada surat Al Qasas:11 yang artinya “Allah sama sekali tidak menyerupai sesuatu apapun dari makhluknya”.

Makna istiwa’ Dalam Tinjauan Bahasa

Arti term ” istiwa’ ” memiliki sekian makna yang disesuaikan dengan konteksnya. Makna tersebut telah dikemukakan ulama ahlu lughat pada masa itu, termasuk imam Fairuzalbaadi dalam kamus beliau basaa’iru zawi tamyiiz, beberapa rangkuman dari makna tersebut yaitu:

Baca Juga  Kajian Semantik: Mendalami Makna Kata Khair dalam Al-Qur’an

1) Istiwa’ berarti (telah mencapai kesempurnaan) “ التَّمَام  “ . Contoh makna ini dalam Al Qur’an terdapat di surat Al Qasas:14, وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَ عِلْمًا.  . Makna dari istiwa’ pada ayat tersebut ialah ketika nabi Musa beranjak dewasa dan telah sempurna kekuatan tubuhnya Ia diberi Allah kenabian dan ilmu itu.

2) Istiwa’ berarti (bertempat atau menetap)    “ التَّمَكُّنُ و الاِسْتِقْرَار” .  Contoh makna tersebut dalam  Al Qur’an pada surat Hud:44, وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ . Makna istiwa’ dari ayat tersebut yaitu perahu nabi Nuh telah berlabuh atau bertempat dan menetap di atas gunung Al Juudy.

3) Istiwa’  berarti (lurus dan tegak atau tidak condong dan tidak bengkok) “الاستقامة و العدالة” . Contoh makna tersebut dalam Al Qur’an yaitu pada surat Al Fath:29,   فَاسْتَوَى عَلَى سُوْقِهِ  . Makna istiwa’ dari ayat tersebut adalah tanaman tersebut telah menjadi tegak lurus di atas pangkalnya.

4) Istiwa’ berarti (berada di tempat atas atau tempat yang tinggi) “ الْعُلُوُّ وَ الاِرْتِفَاعُ  “. Contoh makna tersebut dalam Al Qur’an yaitu pada surat Al Mu’minun:28, فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَ مَنْ مَعَكَ . Makna istiwa’ dari ayat tersebut yaitu berada pada tempat yang tinggi atau dalam artian indrawi (hissiyah).

***

5) Istiwa’ berarti “qahara, istawla, atau haimana yang berarti menguasai “. Dalam konteks ini terbagi menjadi dua pemaknaan, antara lain:

a) Menguasai dalam bentuk mengalahkan suatu objek

b)Menguasai tanpa mengalahkan atau menundukkan suatu objek

6) Istiwa’ berarti (menuju suatu perbuatan) ”  قَصْدُ الشَّيْءِ” . Contoh makna tersebut yang tercantum pada Al Qur’an yaitu surat Al Baqarah:29, ثُمَّ اسْتَوَى  إِلَى السَّمَاءِ   . Makna istiwa’ dari ayat tersebut yaitu Allah berkehendak menciptakan langit.

Baca Juga  Beberapa Makna Kata Kafir Di dalam Al-Qur'an

7) Istiwa’ berarti (sepadan)” التَّمَاثُلُ وَ التَسَاوِى”. Contoh yang terdapat pada Al Qur’an yaitu surat Al Zumar:9,      قلْ هَلْ يَسْتَوِى الّذِيْنَ يَعْلَمْوْنَ وَ الّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ . Makna istiwa’ dari ayat yang tercantum  adalah يَعْتَدِل ُ     atau yang sepadan.

8) Istiwa’ berarti (matang atau sudah layak untuk dimakan). Contoh apabila dikatakan dalam bahas Arab “اِسْتَوَى الطَعَامُ”    

9) Istiwa’ berarti (menaiki kendaraan tunggangan dan duduk di atasnya) الركوب و الاستعلاء”  “. Contoh yang terdapat pada Al Qur’an yaitu surat Al Zukhruf:13,  ثُمَّ تَذْكُرُوْا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ إِ لَيْهِ .  Makna ayat tersebut yaitu hendaknya (kalian) mengingat nikmat Allah yang telah dianugerahkan apabila telah berada di atas tunggangan kalian.

***

Dari beberapa makna istiwa’ secara bahasa di atas, dapat kita fahami bahwa, terdapat dua makna ini secara umum, yaitu terkadang diartikan dengan arti yang sesuai dengan keagungan-Nya dan beberapa kali tidak diartikan dengan keagungan-Nya. Makna tersebut bermakna berbeda karena menyesuaikan kata (konteks) yang terkait dengan lafaz tersebut. Pemaknaan dengan metode seperti ini wajib karena ilmu yang kita dapat bersanad hingga Rasulullah SAW, sehingga tidak keluar dari aqidah dan syariat islam seperti sikap tasyabbuh, takyiif, ta’thiil, tamtsiil, dan lain-lain.

Editor: An-Najmi