Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kajian Semantik: Mendalami Makna Kata Khair dalam Al-Qur’an

kebaikan
Sumber: istockphoto.com

Khair merupakan kosakata yang sangat populer dalam Al-Qur’an. Kata Khair diulangdalam al-Qur’an sebanyak 188 kali beserta derivasinya, dan tersebar dalam 52 surat. Dalam kamus Munawwir karyanya K.H Ahmad Warsoen Munawwir, disebutkan bahwa kata Khair merupakan bentuk masdar dari lafadzخَارَ –يَخِيْرُ – خيرا  yang memiliki arti “baik” atau “kebaikan” dan juga bisa bermakna “memilih/pilihan”.

Al-Qur’an memaknai kata Khair tidak hanya satu makna saja, melainkan beberapa makna di antaranya: Pertama, bermakna paling atau sebaik-baiknya sesuatu, karena kata Khair menunjukkan kesempurnaan yang dimiliki Allah, contohnya: sebaik-baik penolong ( وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ ), sebaik-baik hakim ( وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِيْنَ  ).Ayat-ayat yang seperti ini diantaranya terdapat pada surah Ali Imran [3] : 54 dan 150, Al-An’am [6] : 57, Al-A’raf [7] :87, dan lain sebagainya.

Derivasi Kata Khair dalam Al-Qur’an

Kemudian mengutip dari jurnal Studi Analisis Kata Khair pada Ayat al-Qur’an karya Muhammad Reza Fadil, yang bermakna “paling”menunjukkan keutamaan makhluk jenis kedua. Hampir sama dengan sebelumnya, hanya saja diperuntukkan untuk mensifati makhluk yang disebut seorang hamba, seperti dalam surah Yusuf [12] : 59, Al-Qashash[28] : 26, dan Al-Bayyinah [98] : 7. Bisa juga untuk sebuah tempat seperti dalam surah Al-Furqan[25] : 24 yaitu:

اَصْحٰبُالْجَنَّةِيَوْمَئِذٍخَيْرٌمُّسْتَقَرًّاوَّاَحْسَنُمَقِيْلًا

Artinya: “Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya”.

Kedua, bermakna harta. Selain kata مال  atau اموالuntuk memaknai harta, kata الخير pun pada tiga ayat dalam Al-Qur’an bermakna harta, yaitu pada surah Al-Baqarah [2] : 80, Shad[38] : 32, Al-Ma’arij [70] : 21 dan Al-‘Adiyat [100] : 8. Karena sejatinya harta memiliki dua sisi, yakni sisi positif sebagai nikmat dan sarana ibadah atau sisi negatif sebagai ujian dan sarana maksiat. Contohnya pada penggalan ayat surah Shad [38] : 32yaitu:

Baca Juga  Dua Makna Kemudahan Dari Allah dalam Surah Al-Lail

فَقَالَاِنِّيْٓاَحْبَبْتُحُبَّالْخَيْرِعَنْذِكْرِرَبِّيْۚحَتّٰىتَوَارَتْبِالْحِجَابِ

Artinya: Maka, dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap harta (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai ia (matahari atau kuda itu) bersembunyi di balik tabir (hilang dari pandangan).

Ketiga, bermakna sifat. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an kata خير digunakan untuk mensifati perbuatan atau amal,  dalam ayat tersebut diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi baik, kebaikan, atau kebajikan. Contohnya dalam surah Al-Zalzalah [99] : 7 yang berbunyi:

فَمَنْيَّعْمَلْمِثْقَالَذَرَّةٍخَيْرًايَّرَهٗۚ

Artinya: “Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, dia akan melihat (balasan)-nya.”

Keempat, bermakna perbandingan. Kata Khair ada yang bermakna lebih baik namun penggunaanya dalam konteks membandingkan dan kata itu masuk pada dialog makhluk yang diceritakan di dalam Al-Qur’an, seperti dalam surah Shad [38] : 76, yaitu:

قَالَاَنَا۠خَيْرٌمِّنْهُخَلَقْتَنِيْمِنْنَّارٍوَّخَلَقْتَهٗمِنْطِيْنٍ

Artinya: (Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Semantik Kata Khair

Al-Qur’an memilki gaya bahasa yang sangat unik, semakin digali keunikannya semakin nampak juga kemukjizatan Al-Qur’annya. Adapun salah satu keunikan Al-Qur’an yaitupenggunaan kata-kata yang sama artinya tapi berbeda dalam lafaznya yang disebut dengan sinonim atau muradif, dalam hal ini dapat dicontohkan pada kata Khair, Ma’ruf, Birr, dan Hasan, keempat  kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu kebaikan, namun konsepnya berbeda. Perbedaan dari keempat kata tersebut adalah:

  1. Khair, adalah kebaikan yang menjadi pilihan dan diperoleh dengan cara berjuang dan berusaha tanpa bergantung pada orang lain. Misalnya seseorang menghafal Al-Qur’an karena pilihannya dia sendiri bukan karena tuntutan dari orang tua nya atau karena sesuatu apapun.
  2. Ma’ruf, adalah kebaikan yang terasa sampai ke hati, baik hatinya atau hati orang lain. Misalnya menolong seseorang dengan cara yang baik yang membuat seseorang yang ditolong itu hatinya senang dan nyaman.
  3. Birr, adalah kebaikan yang bisa menghantarkan ke surga. Misalnya berinfak kepada seseorang yang sangat membutuhkan dengan niat yang ikhlas karena Allah swt.
  4. Hasan, adalah kebaikan yang dilakukan bukan karena apapun atau siapapun, benar-benar hanya karena Allah swt.
Baca Juga  Analisis Makna Wahyu dengan Teori Semantik Toshihiko Izutsu

Kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sangat kekal, sedangkan kehidupan dunia hanyalah ladang untuk beramal sebagai bekal di akhirat nanti. Karena balasan yang akan kita dapatkan di akhirat sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan keburukan akan dibalas dengan keburukan. Untuk itu, sebisa mungkin kita harus senantiasa berbuat baik dan meninggalkan apapun yang yang dilarang oleh agama atau yang disebut dengan taqwa, yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Wallahua’lam.

Editor: An-Najmi