Peradaban Ribuan Tahun Zoroastrian dan Kemundurannya
Penyebutan tentang kenabian juga ditemukan dalam tulisan-tulisan Zoroastrian, khususnya pada teks Bahman Yast (dalam terjemahan bahasa Inggris). Dalam bagian pertama (ayat 2–5) dari Yast tersebut, digambarkan sebuah mimpi yang benar, sebuah penglihatan ilahi yang dialami oleh Zarathustra. Mimpi itu memuat gambaran mengenai seribu tahun perjalanan ajaran Zoroastrianisme yang akan dilalui oleh para pengikutnya, suatu periode yang dikenal sebagai ‘Milenium Zarathustra’. Dalam penglihatan tersebut, Zarathustra melihat sebuah pohon besar yang memiliki empat cabang. Setiap cabang terbuat dari logam yang berbeda-beda. Cabang pertama tersusun dari emas, cabang kedua dari perak, cabang ketiga dari baja, dan cabang keempat dari besi. Gambaran simbolis ini dipahami oleh para penafsir sebagai isyarat tentang tahap-tahap penting yang akan dialami ajaran Zoroastrianisme sepanjang perjalanan sejarahnya.[1]
Cabang pertama mewakili zaman keemasan Zarathustra saat Raja Gustasp Zoroastrian menerima agama itu dan menghancurkan patung-patung setan, yaitu pada zaman Gustasp. Yang kedua adalah zaman kekuasaan Raja Ardashir. Cabang ketiga adalah masa pemerintahan Khosrow anak Kavad[2]. Sedangkan cabang keempat adalah cabang yang paling jatuh, yaitu masa pemerintahan setan-setan dan zaman petaka terbesar ketika Kerajaan Persia jatuh ke dalam kehancuran. Kemudian ia benar-benar hancur di tangan umat Muslim.[3]
Gambaran Sifat Muhammad Saw. dalam Kitab Suci Zoroastrianisme
Hal yang menarik dalam konteks ini, sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Thalabah, adalah bahwa salah satu kitab suci Zoroastrianisme menggambarkan sosok yang kelak akan menghancurkan dua kekaisaran mereka dengan sifat kejujuran dan kebaikan. Gambaran ini menjadi isyarat yang menonjol, sebab tidak ada pihak lain dalam sejarah yang menggulingkan Kekaisaran Persia setelah ajaran mereka mengalami berbagai penyimpangan, kecuali pasukan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad. Dengan demikian, nubuat tersebut dipahami sebagai petunjuk mengenai kedatangan seorang tokoh kebenaran yang akan membawa perubahan besar dan menutup masa kekuasaan Persia dengan cara yang selaras dengan sifat-sifat luhur yang disandarkan kepadanya.[4]
Hilangnya Zoroastrianisme dan Kemunculan Islam
Jejak keyakinan hilangnya agama Zoroastrianisme dan kejatuhan Raja Persia tertanam dalam pikiran pemimpin Zoroastrianisme, karena Raja Sasanid Ardasyir pada abad ke-2 menyatakan, “Aku telah mengikatkan janji kepada kalian dengan janjiku. Di dalamnya ada kesejahteraan bagi kalian, para raja kalian, dan rakyat kalian. Dan kalian tidak akan kehilangan apa yang kalian pertahankan dari apa yang telah aku atur untuk kalian. Seandainya bukan karena keyakinan terhadap kehancuran yang akan turun pada penghujung seribu tahun, maka aku akan menganggap bahwa aku telah meninggalkan sesuatu di dalam diri kalian. Jika kalian tidak memberikannya prioritas dan tetap memegangnya, maka itu akan menjadi tanda keabadian kalian yang tersisa di dunia ini. Tetapi, ketika waktu kehancuran datang, kalian akan mengikuti orang-orang ini. Kalian akan menggunakan nalar kalian, meninggalkan derajat kalian, durhaka kepada orang-orang baik di antara kalian, dan menaati orang-orang jahat.”[5]
Bahkan jika kita menelusuri sejarah perutusan Zarathustra, diketahui bahwa masa dakwahnya terjadi sekitar abad ke-7 SM. Perkiraan terbaik menyebutkan bahwa ia lahir sekitar tahun 660 SM dan wafat sekitar tahun 583 SM.[6] Di sisi lain, berakhirnya Kekaisaran Persia terjadi lebih dari satu milenium kemudian, bermula dari runtuhnya kekuasaan Khosrow II, yang menandai melemahnya struktur kerajaan secara drastis. Tak lama setelah itu, pada abad ke-7 M, wilayah Persia akhirnya ditaklukkan oleh kaum Muslim. Rentang waktu panjang antara misi Zarathustra dan kejatuhan Persia ini sering dijadikan bahan kajian, terutama oleh mereka yang menilai bahwa nubuat dalam tradisi Zoroastrianisme mengisyaratkan perubahan besar yang kelak benar-benar terjadi pada masa kedatangan Islam.
***
Dengan demikian, seribu tahun Zoroastrianisme berlalu. Dimulai dengan kesucian dan kekuatan dari kerasulan Allah kepada nabi-Nya, Zarathustra. Berlanjut kemudian iman Raja Gustasp dan dukungan agama Allah di bumi oleh raja-raja yang adil setelahnya, seperti Zulkarnain (Koresy). Begitu pula dengan tahap-tahap lainnya, seperti Raja Ardashir Sasanid yang berusaha melakukan reformasi.
Tetapi hal ini tidak sampai mengakibatkan kejatuhan Zoroastrianisme dengan dukungan yang lemah dari raja-raja untuk agama yang benar. Sampai pada akhirnya dikuasai Khosrow II, Raja Persia jahat terakhir, ketika Nabi Muhammad mengirimkan surat kepadanya untuk memeluk Islam, tetapi dia merobeknya, sehingga beliau mengutuknya agar kerajaanya juga terbelah. Inilah yang benar-benar terjadi, karena doa Nabi dikabulkan. Tidak ada Raja Persia yang berikutnya.[7]
Doa ini menimpa Khosrow, sehingga tidak ada Khosrow setelahnya. Persia ditaklukan oleh tentara kaum Muslim dan mereka membelanjakan harta karun mereka di jalan Allah. Rasulullah bersabda, “Jika Khosrow mati, tidak akan ada Khosrow setelahnya. Dan jika Caesar mati, tidak akan ada Caesar setelahnya. Demi Zat Yang Menguasai jiwa Muhammad, kalian benar-benar akan membelanjakan harta mereka di jalan Allah.”[8]
Daftar Pustaka
[1] Amin Riyadh La’ribi, Al-Zaradasytiyah al-Diyanah al-Samawiyah allati Busyirat bi Muhammad, (Aljazair: Dār Qurṭubāh, 2003), hlm. 165.
[2] Dia adalah Khosrow pertama, kakek dari Khosrow kedua yang didoakan celaka oleh Nabi Muhammad bahwa kerajaannya akan dihancurkan karena ia mengoyak surat yang beliau kirimkan kepadanya.
[3] Ibid, hlm. 165.
[4] Muhammad Thalabah, Muhammad Saw. fi al-Tarjum wa al-Talmud wa Ghairiha min Kutub Ahl al-Kitab wa Ashab al-Diyanat, (Kairo: KetabPedia, t.th), hlm. 79.
[5] Mahi Ahmad, محمد في أسفار المجوس, Jurnal Universitas Raja Saud, Vol. 6, Ilmu Pendidikan dan Studi Islam (1414 H/1994 M), hlm. 272.
[6] GSP Molesworth Sykes, A History of Persia, (London: Macmillan and Co, 1930), hlm. 109.
[7] Amin Riyadh La’ribi, Al-Zaradasytiyah al-Diyanah al-Samawiyah allati Busyirat bi Muhammad, (Aljazair: Dār Qurṭubāh, 2003), hlm. 166.
[8] Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), j. 3, hlm. 489.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.