Pada abad ke II para ulama mulai memberikan prioritas atas penyusunan tafsir sebab tafsir merupakan induk Ulumul Quran. Di antaranya adalah Syu’bah al-Hajjaj (w. 160 H), Sufyan bin Uyainah (w. 198 H), Sufyan al-Tsauri (w. 161 H), Waqi’ bin al-Jarrh (w. 197 H), Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H), Ibn Jarir Ath-Thabari (w. 310 H). Dan seiring berjalannya waktu maka penyusunan dan kodifikasi tafsir semakin berkembang. Dan diantara mufassir yang kian mengembangkan keilmuaanya di abad ke VI salah satunya adalah Ibnul Jauzi.
Biografi Ibnu Jauzi
Beliau adalah Abu Al Faraj Jamaluddin Abdurrahman Bin Ali Bin Muhammad Bin Ali Bin ‘Ubaidillah Bin Al Jauzi Al Qurasy At Tamimy Al Bakri Bin Bani Muhammad Bin Abu Bakr Ash-Shiddiq. Dengan demikian ibnul jauzi adalah orang arab asli dikarenakan termasuk kaun Quraisy dari Bani Tamim.
Adapun penyebutan dengan ibnul jauzi terdapat banyak perbedaan diantaranya adalah karena berhubungan dengan gang al jauz di Basrah tempat tinggal kakeknya. Dikatakan juga bahwa nama itu di nisbatkan pada buah Jauzah yang ada dirumah ibnul jauzi.
Beliau dilahirkan di Baghdad di Darb Habib, sekitar tahun 510 – 512 H ada perbedaan pendapat mengenai hal ini. Bapaknya meninggal ketika ia berusia 3 tahun, sepeninggal ayahnya, beliau diasuh oleh bibinya, sampai ketia ia baligh bibi nya membawanya kepada syaikh abu fadhl Muhammad bin nashir untuk mengambil ilmu darinya, yang mana beliau adalah orang yang bertakwa, shalih, ahli fiqih sekaligusl ahli Bahasa. Beliau membawa ibnul jauzi untuk bisa belajar dengan masyakh yang lain. Dari beliau ibnul jauzi mengetahui tentang hadits dan periwayatannya.
Dan masa kecil ibnul jauzi penuh dengan kelezatan menuntut ilmu. Jika dibandingkan dengan anak seumurannya yang asik bermain di sungai Tigris, maka beliau lebih menyukai untuk mengabiskan waktunya menghafalkan ayat al qur’an, memisahkan diri dan menyibukkan dri untuk memperdalam ilmu.
Kehidupan Ibnul Jauzi
Karena keilmuan yang beliau miliki, maka sejak berusia 9 tahun beliau sudah disibukkan dengan majelis nasehat. Dan beliau diizinkan untuk mengurusi majelis taklim di masjid jami’ al manshur, yang mana majelis tersebut dihadiri oleh para ahli fikih terkemuka, seperti abdul wahid bin saif, abu ali bin al qadhi dan yang lainya.
Ibnul jauzi memiliki hubungan yang cukup dekat dengan khalifah Dinasti Abbasiayh ke 24 yaitu Khalifah al Mustadli’, karena kedekatannya inilah beliau membuat sebuah karangan berjudul Al Misbah Al Mudli’ Fii Daulah Al Mustadli’ (lampu yang bersinar di dalam daulah al mustadli’), dan khalifah juga memberikan izin untuk membuka majelis taklim di dalam istana, tepatnya di depan pintu Badr.
Beliau memiliki peran dalam semua bidang ilmu. Beliau adalah seorang yang sangat menonjol dalam bidang tafsir, memiliki gelar al-Hafidz dalam bidang hadits, termasuk ulama yang sangat luas dalam bidang sejarah.
Di antara kitab karya beliau adalah:
- Nawaasikhul Quraan
- Zaadul Masirfii ‘Ilmit Tafsir
- Dzammul Hawa
- Shifatus Shofwah
- Shaidul Khathir
- Al–Qushshash wal mudzakkirun
- Al–Mishbahul Mudhi’
- Al-Muntazham fii Taariikhil Muluk wal Umam
- Al-Maudhuu’aat dll
Keistimewaan dan Karakteristik Tafsir Zaadul Masir
Karakteristik yang menonjol dalam buku ini seperti yang beliau tuliskan adalah:
- Memenuhi kaidah penafsir ayat, sehingga yang membaca kitabnya tidak perlu membaca kitab lain.
- Menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an, seperti nasikh wal Mansukh, makkiyah madaniyah, asbabun nuzul dan sebagainya..
- Memilih penafsiran terbaik, mengambil yang paling benar dan terbaik, dan mengaturnya menjadi ungkapan yang ringkas.
- memperhatikan qiraat dan petunjuk atau pengarahan yang ada..
- Meninggalkan penyandaran.
Kitab tersebut memiliki nilai ilmiah di antara orang-orang yang berkecimpung dalam ilmu tafsir, dan merupakan salah satu kitab yang diandalkan oleh Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam tafsir.
Editor: An-Najmi


























Leave a Reply