Muhammad Mustafa Azami adalah seorang Ilmuwan muslim asal India. Ia dikenal sebagai seoarang cendikiawan terkemuka di bidang Ilmu hadis. Ia memiki banyak karya dalam bidang Ilmu hadis. Kendati demikian ternyata ia juga menaruh perhatian yang begitu besar terhadap Studi Al-Qur’an. Ada 2 karyanya yang sangat fenomenal dalam studi Qur’an yaitu The History of Qur’anic Text: From Revelation to Compilation & Ageless Qur’an Timeless Text.
Dalam bukunya The History of Qur’anic Text: From Revelation to Compilation ia menyebutkan bahwa, buku tersebut ia tulis karena keresahannya terhadap kalangan orientalis yang dalam-dalam karyanya (orientaslis) seakan menyatakan bahwa naskah Al-Qur’an yang ada pada kaum muslim saat ini bukanlah naskah yang sama dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Orientalis dan Kajian Otentisitas Al-Qur’an
Menurut Azami, dalam kajian orientalis setidaknya ada beberapa pintu gerbang yang dijadikan sebagai pintu masuk untuk mengkritisi Al-Qur’an (Azami, 2005: 340 – 343), yaitu:
Pertama, mengkritisi penulisan Al-Qur’an dan kompilasinya. Dalam The History of Qur’anic Text (2005) Azami menyebutkan bahwa menurut Jeffery “Para ilmuwan Barat tidak sependapat bahwa susunan teks Al-Qur’an yang ada di tangan kita sekarang, sama dengan apa yang terdapat pada zaman Nabi Muhrammad Saw”. Di sini apa yang dimaksud Jeffery adalah susunan surah dan ayat-ayatnya. (Masahif Introduction: 5).
Terkait dengan hal ini, kemudian muncul beberapa pertanyaan dari kalangan orientalis, diantaranya: jika Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman Nabi Muhammad Saw, mengapa Umar merasa khawatir dengan kematian para huffadz dalam perang Yamamah?. Lebih jauh lagi, mengapa bahan yang ditulis tidak disimpan oleh Nabi Muhammad Saw sendiri?
Azami menanggapi hal semacam ini dengan mengemukakan hukum persaksian. Menurutnya, misalnya terdapat satu naskah milik Nabi. Nabi tidak menyerahkan naskah tersebut kepada sahabat untuk disimak atau dimanfaatkan. Karena merasa bahwa turunnya Al-Qur’an masih terus berproses (turunnya wahyu baru, munculnya kemungkinan nasikh-mansukh ataupun perpindahan urutan ayat-ayat). Selanjutnya, mengapa Umar takut kehilangan Al-Qur’an? Karena tradisi penurunan Al-Qur’an melalui otoritas yang saling beruntun, mulai dari Nabi hingga sahabat. Dan kematian mereka mengancam terputusnya hukum kesaksian. (Azami, 2005: 338-339).
Tanggapan Mustafa Azami Terhadap Kritik Orientalis
Kedua, memberikan tuduhan bahwa Al-Qur’an (Islam) merupakan bentuk pemalsuan dari agama Yahudi dan Kristen. Terkait dengan hal ini, Azami memberikan tanggapan sebagai berikut:
1) Adanya tuduhan dalam Al-Qur’an terdapat penyesuaian kata yang merusak. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Noldeke: “bahwa kekeliruan pada Al-Qur’an karena kebodohan Muhammad tentang sejarah awal agama Yahudi”.
Contohnya dituduhkan bahwa orang Yahudi yang paling tolol sekalipun tidak akan pernah menyebut Haman (menteri Ahasuerus) untuk menteri Fir’aun. (Noldeke, “The Koran“, dalam Ibn Warraq (ed.), The Origins of the Koran: 43.). Azami memberikan jawaban bahwa itu merupakan tuduhan yang hendak mengubah wajah Islam dengan istilah orang lain. Berkesimpulan bahwa Fir’aun tidak mempunyai seorang menteri bernama Haman hanya karena tidak disebut pada kitab suci terdahulu. Hal ini adalah sebuah kecerobohan.
2) Adanya tuduhan Hirschfeld bahwa Al-Qur’an adalah Injil palsu, disebabkan penolakannya terhadap informasi Perjanjian Baru tentang dua doktrin utama dalam Kristen tentang dosa warisan dan penebusannya. Pertama adalah warisan otomatis yang ada pada setiap insan, karena mereka keturunan Adam. Kedua karena terbentuknya kepercayaan bahwa Tuhan telah mengorbankan satu-satunya anak yang lahir ke dunia sebagai penghapus dosa”.
Bantahan Al-Quran
Azami menaggapi hal tersebut dengan menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an. Untuk menentang pernyataan tersebut. Allah berfirman QS.al-Baqarah/2: 37:
(فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنۡ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيۡهِؕ ……..)
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya.”
Kemudian dalam QS.Al-An’am/6: 164 :
(…. وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ)
“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang Lain.”
Menurut Azami dua doktrin utama dalam Kristen tentang dosa warisan dan penebusannya, sebagai esensi ajaran Kristen, tidak diberi peluang sama sekali dalam al-Qur’an. Allah menegaskan pada (QS.al-Baqarah/2: 37) bahwa Allah telah menerima taubat dari Nabi Adam. Kemudian tentang dosa warisan, Allah juga menegaskan bahwa setiap orang akan memikul dosanya masing-masing, dan tidak dibenarkan adanya dosa warisan. Kemudian Azami menambahkan bahwa cerita-cerita Injil yang ada tidak lebih dari sekedar masalah kesejarahan, dan bukan masalah ideologi.
Meneladani Semangat Intelektual Mustafa Azami
Tanggapan Azami terhadap tuduhan-tuduhan kaum orientalis sangatlah berbobot. Dalam artian Azami memperlihatkan kepada kita sebuah semangat intelektual. Ia menjawab intelektualisme Barat dengan intelektual juga. Seakan memberikan pesan bahwa ketika tidak setuju dengan sebuah karya (karya Barat), maka kita seyogyanya memberikan tanggapan dan kritikan juga dengan sebuah karya yang argumentatif dan punya bobot ilmiah serupa. Wallahu’alam bish Shawab
Penyunting: Bukhari



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.