Dianggap sebagai musim tahunan, setiap kali momen menjelang berbuka puasa, identik dengan berburu takjil. Beragam macam jenis hidangan makanan dan minuman terjajar begitu menggiurkan terpampang di setiap sudut jalan. Orang-orang yang hendak berbuka, bahkan yang tidak berpuasa-pun turut berlomba-lomba mendapatkan takjil.
Sebagai momen yang terjadi setiap satu tahun sekali, pastilah sebagian orang tidak ingin meninggalkan kesempatan itu. Tradisi ini bukanlah suatu hal yang buruk, sebab di sisi lain berdampak pada peningkatan UMKM masyarakat. Penjual senang, pembeli-pun juga senang. Selain berburu takjil, tidak jarang juga orang-orang menghidangkan begitu banyak macam jenis hidangan di meja makan. Baik itu kolak, es sirup, es buah, kue, gorengan, dan lain-lain.
Namun, dalam hal ini perlu memerhatikan segi kuantitas bagi kapasitas diri sendiri. Apakah berlebihan sehingga membuang-buang uang? Banyaknya makanan dan minuman yang masuk apakah sampai melemahkan dan membebani jiwa dalam menjalankan ibadah? Selain itu, juga termasuk menyia-nyiakan waktu untuk berbelanja dan memasak jika terlalu berlebihan, yang seharusnya dipergunakan untuk memperbanyak amal di bulan Ramadan.
Menghidangkan menu berbuka yang berlebihan bagi sebagian umat Islam, secara tidak sadar mampu mengurangi hikmah puasa, kesehatan terganggu, dan memperburuk pengelolaan harta. Tindakan melebih-lebihkan ini tidak lain dipicu oleh rasa pelampiasan atau balas dendam karena telah menahan lapar dan minum selama berjam-jam. Sehingga dalam kondisi lapar dan haus, nafsu sulit terkendali jika diperhadapkan dengan beragam jenis hidangan makanan dan minuman.
Dalil Larangan Berlebihan dalam Makan dan Minum
Tindakan rakus terhadap makanan dan minuman saat berbuka, mampu mengurangi esensi puasa itu sendiri. Larangan berlebih-lebihan dalam makan dan minum telah dijelaskan dalam firman Allah dalam Q.S. al-A’raf Ayat 31 berikut.
وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ المسرفين
Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.
Sebagian ulama salaf mengomentari ayat ini bahwa segala ilmu kedokteran dikumpulkan oleh Allah dalam separuh ayat ini. Ini telah dibuktikan oleh sebagian ahli kedokteran pada berbagai penelitian yang telah dilakukan. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, mengenai ayat ini Ibnu Abbas berkata: “Makanlah apa yang kamu kehendaki, dan pakailah apa yang kamu kehendaki. Allah menghalalkan makan dan minum, selagi tidak berlebihan dan melebihi batas.”[Mukhtaṣar Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 2/15]
Al-Maraghi mengungkapkan dalam tafsirannya, bahwa hendaknya manusia makan dan minum dengan sesuatu yang baik, yaitu halal. Namun, tidak diperbolehkan berlebihan hingga menyebabkan kekenyangan yang sangat. Melainkan makan dan minum dengan cukup. [Tafsīr al-Maraghi, 8/133] Perbuatan berlebihan disebut dengan israf. Az-Zuhaili memaknai israf dengan segala tindakan yang melampaui batas alami yang dimiliki manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. [Tafsīr al-Munīr, 8/184].
Berkenaan dengan dilarangnya israf dalam hal makan dan minum, juga telah dijelaskan dalam hadis Nabi riwayat Ahmad yang disahihkan oleh al-Albani dalam kitab Saḥīḥ al-Jāmi’ berikut.
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Tidak ada tempat Bani Adam yang lebih buruk daripada memenuhi perutnya. Cukup Bani Adam mengkonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya. [Durūs Ramaḍān, 8]
Manfaat Makan dan Minum Secukupnya
Di balik perintah Allah, pasti memiliki hikmah tersendiri bagi manusia yang mau mengungkapnya melalui anugerah akal pikiran yang dimiliki melalui penelitian. Perlu diketahui bahwa ejak lama, para ilmuwan Eropa merekomendasikan hidup sehat dengan mengatur pola makan yang baik, yakni menghindari pola makan yang berlebihan dan meninggalkan budaya makan dan minum serba enak. Bahkan selain itu, puasa merupakan sebuah rekomendasi dalam rangka menekan nafsu hedonis.
Ludwick Carnaro, salah seorang ilmuwan Italia bahkan sampai menulis beberapa karya berkenaan dengan manfaat puasa. Menurut penelitiannya, makan dan minum secara berlebihan memang memberikan kepuasan kepada diri manusia, namun pada akhirnya bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri karena dapat memunculkan beragam penyakit dan dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan kematian. [Rahasia Resep Sehat dari Jepang dan Tiongkok, 135]
Memperbaruhi Hakikat Puasa
Hakikat puasa sesungguhnya adalah menahan dari segala bentuk hawa nafsu, tidak hanya makan dan minum semata. Sehingga momen berbuka puasa hendaknya bukan menjadi ajang melampiaskan atau balas dendam dari menahannya hidangan makan dan minum selama waktu berpuasa dengan memperbanyak makan dan minum. Ini merupakan cara pikir yang salah kaprah.
Sebagai bulan ibadah, Ramadan yang hendaknya dipergunakan sebagai waktu memaksimalkan beribadah, jangan sampai jiwa dilemahkan oleh efek dari kenyangnya perut sebab makan dan minum berlebihan. Sementara efek yang ditimbulkan adalah menyebabkan kemalasan, mengeraskan hati sehingga sulit menerima nasehat, dan memunculkan penyakit tubuh.
Oleh karenanya, mari memperbaruhi hakikat puasa, bahwasanya waktu berbuka bukanlah waktu untuk membalas dendam atas rasa lapar dan haus yang dirasakan selama puasa. Makan dan minumlah secukupnya, untuk mencapai idealitas menghamba kepada-Nya secara maksimal. Bukan memaksimalkan diri memenuhi hawa nafsu semata.
Wallāhu A’lamu.
Editor: An-Najmi

























Leave a Reply