Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Berpikir Rasional Adalah Karakter Umat Islam

Dalam kehidupan umat Islam, penggunaan akal dalam setiap aktifitas kehidupan merupakan hal penting di lakakukan. Akal adalah alat untuk berpikir secara mendalam dan sistematis. Sehingga tak jarang banyak orang yang menggunakan akalnya untuk memikirkan berbagai persolan. Dalam beberapa pengertian mengenai akal, disebutkan bahwa akal merupakan alat rohani manusia; yang dijadikan sebagai pembeda untuk mengetahui dan menganalisis perbuatan baik atau benar.

Dalam Islam sendiri, penggunaan akal di tempatkan pada posisi atas sebagai peralatan yang harus terus aktif memikirkan berbagai hal. Termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Pentingnya akal dalam Islam, ini terwujudkan dalam kitab suci Al-Quran. Apalagi banyak ayat-ayatnya membahas pentingnya menggunakan akal untuk memikirkan alam semesta ini. Di lain sisi, penggunaan akal dimaksudkan untuk menguatkan kebenaran-kebenaran agama dengan menyelidiki berbagai aspek kebenaran yang terdapat dalam sebuah ajaran.

Penggunaan Akal dalam Sejarah Intelektual Islam

Pada masa pertengahan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, penggunaan akal telah membawa kemajuan bagi peradaban Islam. Sehingga banyak lahir para intelektual muslim yang karyanya sampai saat ini masih di gunakan dalam setiap literatur keilmuan. Penggunaaan akal di kalangan umat Islam dalam mengkaji segala sesuatunya, tentunya juga mendapatkan berbagai sorotan dari berbagai kalangan umat Islam sendiri. Sampai pada puncaknya, muncul berbagai aliran teologi yang saling berlawanan akibat perbedaan pandangan mengenai penggunaan akal dalam beragama.

Aliran teologi dalam Islam yang menyeru dalam penggunaan akal ialah kaum mu’tazilah. Sedangkan aliran teologi yang di sandarkan bahwa penggunaan akal tidak penting karena setiap manusia sudah memiliki takdirnya sendiri ialah kaum Jabariyah. Kaum jabariyah berpandangan bahwa hidup manusia telah ditentukan oleh Allah dan manusia tidak mampu mengubah apa yang telah menjadi ketetapan dari Allah Swt. Manusia menurut Jabariyah telah terpaksa oleh takdir dan tidak memiliki usaha dalam perbuatannya.

Baca Juga  Menjadi Perempuan Sholehah Sejati Melebihi Bidadari Surga

Mu’tazilah yang beberapa cendekiawan Indonesia menyebunya sebagai teologi rasional, telah mengubah cara pandang umat Islam. Keadaan tersebut mengubah bahwa manusia dalam kehidupan memiliki pilihan untuk mengatur kehidupannya sendiri-sendiri. mu’tazilah juga banyak membawa persoalan teologis yang lebih mendalam dengan menggunakan pemikiran bersifat filosofis. Sehingga penggunaan akal di kalangan mu’tazillah cenderung tidak di terima oleh ulama sunni karena mereka menganggap akal lebih tinggi kedudukannya di bandingkan tradisi.

Akal Landasan Kemajuan Umat Islam

Di Indonesia sendiri, sejak era 1970an telah bergulir pemikiran-pemikiran pembaharuan dari cendekiawan muslim. Sebut saja Nur Cholis Madjid, Harun Nasution, H.M. Rasjidi dan sebagainya. Pembaharuan yang dilakukan dalam Islam merupakan buah dari pemikiran yang Panjang untuk kebangkitan umat Islam dari tidur yang lelap. Harun Nasution sendiri pernah mengatakan bahwa mulanya pemikiran rasional berkembang di kalangan Islam. Namun setelahnya justru berkembang teologi tradisional yang membawa kepada kemunduran umat Islam.

Apa yang dikatakan oleh Harun Nasution pada tahun 70an merupakan realitas yang terjadi sampai saat ini. dalam pemikiran tradisional peran akal tidak memiliki peran dalam menginterpretasi sumber ajaran Islam yang asli. Akibatnya timbullah penafsiran yang membuat ajaran agama menjadi kaku. Ajaran Islam menjadi eksklusif dan tidak humanis. Sehingga yang terjadi banyaknya umat Islam saling menuduh, saling membasmi, saling menjelek-jelekkan dan sebagainya. Jika meminjam istilah dari Mansour Fakih ia menyebutnya dengan teologi emosional.

***

Dalam pandangan Harun Nasution ia menyebutkan agar umat Islam beralih dari pemikiran jabariyah menuju ke mu’tazilah. Ia juga memberikan jalan agar dalam islam tumbuh pemikiran rasional yang agamis yaitu teologi dimana manusia punya kebebasan dan akal mempunyai kedudukan tinggi dalam memahami ajaran Al-Quran dan hadis. Penggunaan akal terhadap sumber ajaran Islam itu hanya terbatas ada ajaran absolut. Dengan kata lain, ayat Al-Quran dan hadis di tangap sesuai dengan pendapat akal.

Baca Juga  Sains yang Sejati Menurut Seyyed Hossein Nasr

Harun Nasution mengatakan, dalam pemikiran rasional agamis untuk diusahakan pemahaman ayat dan hadis demikian dilakukan agar sesuai dengan pandangan akal. Tentunya tidak bertentagan dengan ajaran absolut dalam agama. Akal menjadi penting sebab ia mampu menjadi sebagai pembeda dalam membaca ajaran agama yang di turunkan untuk umat beragama. Sehingga untuk menghindari adanya pemahaman agama yang tidak relevan dengan zaman, maka akal menjadi landasan untuk berpikir.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Buya Hamka bahwa dalam Tafsir Al Azhar bahwa ilmu pengetahuan sudah terdapat di dalam Al-Quran. Untuk mengetahui itu maka lakukanlah penyelidikan mengenai pengetahuan tersebut dengan menggunakan akal pikiran manusia.

Berpikir Rasional

Umat Islam pada dasarnya memilki tanggungjawab moral untuk membentuk muslim yang berkemajuan. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan umat Islam saat ini untuk memajukan peradaban dengan landasan berpikir rasional mengenai ajaran-ajaran agama dalam Islam.

Pertama, mendorong pendidikan Islam kita saat ini, untuk terlepas dari dogma-dogma yang sifatnya merendahkan kehidupan manusia, yaitu menciptakan pendidikan Islam yang kritis terhadap berbagai persoalan kehidupan umat manusia dengan landasan berpikir rasional terhadap berbagai persoalan. Selain itu pendidikan Islam kita juga, perlu berbenah menuju penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih humanis.

Kedua, adanya dekonstruksi ulang terhadap ajaran yang dilakukan oleh cendekiawan muslim saat ini, untuk mendorong ajaran Islam menjadi sebuah tata nilai kehidupan dalam berbangsa dan bernegara agar tercipta kehidupan yang harmonis.

Ketiga, adanya kesadaran kolektif semua umat beragama khususnya Islam untuk memahami ajaran-ajaran agama secara menyeluruh untuk dijadikan sebagai pedoman kehidupan yang multikultural yang mampu mengayomi semua kalangan umat beragama.

Editor: An-Najmi