Jalan sufi sering disebut sebagai jalan cinta. Agama Islam sendiri adalah agama cinta. Ketaatan, kesyukuran, kezuhudan, dan juga ketundukan adalah buah dari cinta. Sebagaimana yang dikatakan oleh Harm Ibn Hayyan, “Ketika seseorang mukmin sudah mengenal Tuhannya Yang Maha Agung dan Maha Mulia, ia pasti akan mencintai-Nya. Setelah mencintai-Nya, ia pasti akan menghampiri-Nya. Kala mencicipi manisnya dekat dengan-Nya, ia pasti tidak akan memandang dunia dengan tatapan nafsu (Al Ghazali, 2007: 18). Dunia bagi kaum sufi memang sebagai tempat untuk mendekat dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sufi memandang dunia sebagai sebuah ladang, ia tidak menutup mata darinya, tapi tidak mau silau terhadapnya.
Kesibukan seorang sufi adalah kesibukan untuk mendaras asma-Nya, menyebut dan mengagungkan kebesaran-Nya, tunduk dan senantiasa patuh pada perintah-perintah-Nya, sampai Tuhan mencintai-Nya. Tradisi ini didasari pada hadis “Seseorang belum dianggap beriman sampai Aku lebih dicintai jauh melebihi cintanya kepada keluarga, harta dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari Muslim). Dalam hadis yang lain, Rasulullah pernah ditanya seorang sahabat, “Apa itu iman ya Rasulullah?”Beliau menjawab, “Iman itu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun.”
Islam datang membawa cinta. Dengan Islam itulah, kita menjadi tenteram, tenang dan juga damai. Ketaatan, ketundukan, dan juga kepatuhan kita kepada Tuhan melahirkan keindahan, ketenangan dan juga perdamaian. Islam mengatur detail kehidupan manusia sampai pada titik terkecil. Semua itu hadir untuk menegaskan bahwa agama itu holistik, menyeluruh dan juga totalitas.
Turunnya syariah adalah buah dari cinta kasih Tuhan kepada makhluk-Nya. Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islam dalam Cita dan Fakta (2015) ia mengatakan “Kehadiran syariah di dunia ini disebabkan oleh kasih sayang Tuhan kepada makhluk-Nya sehingga Dia menurunkan hukum yang mutlak bagi mereka untuk diikuti dan dengan itu memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat.” Kehadiran syariah mewujud dalam kitab Al-Qur’an dan Nabi sebagai prototype sempurna dari laku Al-Qur’an.
Menebar Cinta
Sufisme sering dianggap sebagai sebuah sikap pasif, ketimbang aktif. Gerakan sufi yang cenderung menepi, sunyi dan jauh dari keriuhan dianggap kurang revolusioner dan juga tidak banyak memiliki pengaruh yang banyak ketimbang gerakan Islam yang lain. Bila kita tilik lebih jauh tentang bagaimana Islam menyebar di dunia, kita akan mendapati bahwa sufisme merupakan kontribusi penting pula dalam perkembangan Islam di seluruh dunia.
Doktrin sufi memang identik dengan diri, kedalaman. Revolusi diri, revolusi batin itulah yang kemudian menjadi gelombang perubahan menakjubkan dalam dunia Islam. Dalam sufisme yang menjadi aliran yang bermacam-macam itu, kita menemukan satu muara dari sufisme, yaitu cinta. Dampak yang bisa kita lihat dari meluasnya Islam sampai ke seluruh dunia, Islam tidak melulu disebarkan melalui perang dan kekerasan. Sufisme membuktikan dan menjadi catatan sejarah bahwa Islam disebarkan melalui jalan ruhaniah, melalui cara yang damai dan indah.
Qur’an Sebagai Pijakan
Pijakan kaum sufi tidak bisa dilepaskan dari Al-Qur’an. Martin Lings menulis dalam bukunya Ada Apa dengan Sufi? (2004), tasawuf terangkum dalam ayat berikut : “ Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita kembali” (QS. 29 :45). Dalam firman Allah dalam hadis qudsi yang terkenal di kalangan kaum sufi, Allah berfirman : “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku suka dikenali, lalu Aku ciptakan makhluk agar aku dikenali.”
Pengenalan kepada Allah dianggap sebagai tahapan pertama dalam beragama, tahapan setelah mengenali, maka ketundukan atau kepasrahan, dan tahapan yang ketiga adalah tahap cinta yang berada pada ketidakterbatasan.
Syekh Muzaffer Ozak membahas satu bab khusus dalam bukunya Secawan Anggur Cinta (2016) tentang Al-Qur’an. “Al-Qur’an mendidik kita menjadi manusia. Ia megajari kita apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, dan apa makna cinta yang sebenarnya. Ia adalah “mata” yang diberikan Allah kepada kita. Siapa pun yang memiliki mata ini akan mengetahui yang benar dan yang batil, yang nyata dan yang tersembunyi.”
Penghayatan Al-Qur’an di mata para sufi seringkali membuat kita berdecak kagum. Selain berbeda dari tafsir yang biasanya, ada dimensi yang disentuh yakni batiniah yang membuat hati tersentuh. Seperti dalam Surah 7 ayat 171 yang artinya, Allah bertanya pada semua manusia sebelum diciptakan, dengan kata-kata : “Apakah Aku bukan Tuhanmu?” Dikisahkan bahwa manusia menjawab, “Ya kami mempersaksikannya.” Dhu Al-Nun, sufi besar generasi awal mendefinisikan “insan kamil” sebagai “ia yang sekarang seperti sebelumnya, dan sebelumnya seperti sebelumnya.”
Doktrin sufi tentang “persaksian” ini menjadi doktrin yang juga disampaikan oleh kebanyakan ulama bahwa sejatinya manusia itu suci seperti kain putih dan diharapkan kembali dalam keadaan suci dan bersih juga. Jiwa-jiwa yang membersihkan diri sering digambarkan sebagai jiwa yang akan dipanggil Tuhan untuk kembali kepada-Nya.
***
Kehidupan dunia ini sering melalaikan. Manusia sendiri memiliki sifat lupa dan berbuat dosa. Sifat manusia yang buruk ini juga diterangkan dalam Al-Qur’an. Melalui Al-Qur’an, Allah tidak hanya menyeru dan memberikan perumpamaan-perumpamaan, namun juga memberi peringatan dan ancaman sebagai sebuah seruan cinta kepada hamba-Nya.
Dalam Surah Al Baqarah ayat 282 kita akan mendapati penjelasan yang sering dijumpai di kalangan kaum sufi. “Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu.” Ayat ini memberikan perumpamaan bahwa syarat Allah mendidik dan mengajari kita adalah dengan bertaqwa kepada-Nya.
Dengan bertaqwa kepada-Nya maka kita akan dibimbing Allah, dituntun dan diberi petunjuk pada cahaya-Nya, disirami akan rahmat-Nya, dipenuhi akan cinta-Nya. Melalui kitab Al-Qur’an itulah, kita akan dibimbing dan diajak kepada jalan cinta. Dengan Al-Qur’an itulah, tidak hanya kaum sufi, tetapi umat Islam secara keseluruhan menyandarkan diri dan merujuk pada kitab cinta, kitab yang mendidik dan membimbing kita kepada cinta kepada-Nya.
Editor: Ananul Nahari Hayunah





























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.