Kisah-kisah dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita sastra, melainkan sarana untuk menyampaikan pesan dakwah dan menegaskan kebenaran ajaran Islam, karena Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup.[1]
Al-Qur’an banyak memuat kisah tentang peristiwa masa lalu yang memiliki daya tarik tersendiri dan bertujuan untuk membentuk serta mendidik kepribadian manusia. Kisah-kisah para nabi dan rasul di dalamnya menjadi pelajaran berharga, sekaligus berfungsi untuk meneguhkan kebenaran wahyu dan risalah yang mereka bawa dari Allah. Selain itu, kisah-kisah tersebut juga memberikan informasi tentang ajaran para nabi serta menjadi penghibur bagi umat Islam ketika menghadapi kesedihan atau musibah.[2]
Surah Hud memuat kisah para nabi, termasuk Nabi Hud dan kaum ‘Ad yang durhaka kepada Allah. Kisah ini tidak hanya menceritakan peristiwa masa lalu, tetapi juga mengandung pelajaran moral dan sosial yang relevan bagi kehidupan, seperti pentingnya keadilan, kebijaksanaan dalam mengelola kekayaan, dan menjauhi kesombongan.[3]
Kisah Nabi Hud dan Kaum ‘Ad dalam QS. Al-Ahqaf: 21-26
Nabi Hud diutus oleh Allah untuk berdakwah kepada kaum ‘Ad yang tinggal di daerah subur bernama Al-Ahqaf, yang berarti “bukit-bukit berpasir”. Wilayah ini memiliki aliran air yang menyuburkan tanaman sehingga mereka dapat bercocok tanam sepanjang tahun. Kaum ‘Ad juga dikenal memiliki kemampuan membangun bangunan yang tinggi dan kokoh serta memiliki kekuatan fisik yang besar sehingga mereka menjadi bangsa yang kuat.
Namun, mereka tidak bersyukur kepada Allah dan justru menjadi sombong serta menyembah berhala seperti umat Nabi Nuh sebelumnya. Berhala yang mereka sembah antara lain Shad, Shamuda, dan Hara. Karena itu, Allah mengutus Nabi Hud untuk mengajak mereka bertobat dan kembali beriman. Nabi Hud berdakwah dengan sabar dan lemah lembut, tetapi kaum ‘Ad menolak, bahkan menuduhnya gila dan menantang datangnya azab.
Akibat kedurhakaan mereka, Allah menurunkan azab berupa kekeringan selama tiga tahun yang menyebabkan kelaparan. Kekeringan ini kemudian disusul dengan angin sangat kencang dan dingin yang bertiup selama tujuh hari delapan malam hingga menghancurkan mereka. Kaum ‘Ad pun binasa, sedangkan Nabi Hud dan para pengikutnya yang beriman selamat dan kemudian hidup di tempat lain dengan tetap beriman dan bertakwa kepada Allah.[4] Kisah ini diceritakan dalam QS. Al-Ahqaf: 21-26.
***
Pada tafsir Fi Zilal al-Qur’an, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa ayat tersebut berfokus pada kisah dakwah Nabi Hud kepada kaum ‘Ad. Selain itu, ia juga menjelaskan peringatan akibat kesombongan dan penolakan terhadap ayat-ayat Allah. Menurut Qutb, Nabi Hud menyeru kaum ‘Ad agar meninggalkan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid, tetapi mereka menolak dan bahkan menantang datangnya azab. Ketika awan terlihat menuju lembah-lembah mereka, kaum ‘Ad mengira awan tersebut akan membawa hujan yang menyegarkan. Padahal, fenomena tersebut sebenarnya merupakan azab berupa angin yang sangat dahsyat yang menghancurkan mereka atas perintah Allah.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan, peradaban, dan kemajuan yang dimiliki manusia tidak akan mampu menyelamatkan mereka jika tetap menolak kebenaran. Meskipun Allah telah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati untuk memahami petunjuk, semua itu tidak bermanfaat karena mereka terus mendustakan ayat-ayat-Nya. Karenanya, azab yang dahulu mereka ejek akhirnya benar-benar menimpa dan menghancurkan mereka.
Secara keseluruhan, inti penafsiran QS. Al-Ahqaf ayat 21–26 dalam tafsir ini adalah peringatan bahwa kesombongan, penolakan terhadap wahyu, dan ketergantungan pada kekuatan duniawi akan membawa manusia pada kehancuran, sebagaimana yang terjadi pada kaum ‘Ad.[5]
Ibrah Kisah Nabi Hud dan Relevansinya pada Masa Kini
Terdapat beberapa ibrah yang dapat diambil dari kisah Nabi Hud dan kaumnya. Di antaranya ialah sebagai berikut:[6]
Pertama, pentingnya tauhid. Kisah Nabi Hud menunjukkan bahwa tauhid merupakan ajaran pokok yang dibawa oleh para nabi, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dan menjauhi segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.
Kedua, menghindari berhala dalam kehidupan modern. Penyembahan berhala tidak selalu berbentuk patung atau arca. Dalam kehidupan modern, berhala dapat berupa harta, jabatan, kekuasaan, atau berbagai hal duniawi yang membuat manusia lalai dari mengingat Allah.
Ketiga, kesabaran dalam berdakwah.Nabi Hud tetap bersikap sabar ketika menghadapi penolakan dan ejekan dari kaumnya. Sikap ini menjadi teladan bagi para dai agar tetap teguh dan sabar dalam menyampaikan kebenaran.
***
Keempat, keikhlasan dalam berdakwah. Dalam menyampaikan dakwahnya, Nabi Hud tidak mengharapkan balasan atau keuntungan duniawi. Ia hanya mengharapkan pahala dan rida Allah atas usaha yang dilakukannya.
Kelima, bahaya kesombongan. Kaum ‘Ad dikenal sebagai bangsa yang kuat dan memiliki peradaban maju. Namun, kesombongan membuat mereka menolak kebenaran yang dibawa Nabi Hud. Akibatnya, Allah menurunkan azab kepada mereka, yang menjadi pelajaran bahwa kesombongan dapat membawa manusia kepada kehancuran.
Kisah Nabi Hud dan kaum ‘Ad dalam Surah Al-Ahqaf mengajarkan bahwa kemajuan teknologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan tidak akan membawa kebaikan tanpa keimanan kepada Allah. Kisah ini juga mengingatkan manusia agar tidak menjadikan harta, jabatan, atau kekuasaan sebagai “berhala modern”, serta mendorong manusia untuk tetap beriman, rendah hati, dan memanfaatkan nikmat Allah untuk kebaikan.[7]
Kesimpulan
Kisah Nabi Hud dan kaum ‘Ad dalam Surah Al-Ahqaf ayat 21–26 menceritakan dakwah Nabi Hud yang mengajak kaumnya kepada tauhid, namun ditolak karena kesombongan mereka terhadap kekuatan dan kemajuan yang dimiliki. Akibatnya, Allah menurunkan azab kepada kaum ‘Ad, sementara Nabi Hud dan para pengikutnya diselamatkan. Dalam tafsir Sayyid Qutb, kisah ini menjadi peringatan bahwa kemajuan duniawi tidak akan membawa keselamatan tanpa keimanan, serta mengandung pelajaran tentang pentingnya tauhid, kesabaran dalam berdakwah, dan bahaya kesombongan.
Daftar Pustaka
[1] Eka Rizky Bastian, “Pesan Moral dalam Kisah Nabi Hud dan Kaum ‘Ad Perspektif Sayyidi Quthub” (Skripsi-UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2021), 3.
[2] Pupuh Fathurrohman, Pengembangan Pendidikan Karakter (Bandung: PT Refika Aditama, 2013), 53.
[3] Subambang Harsono, “Kajian Isu Sosial-Ekonomi Dalam QS. Hud: Analisis Tafsir Tematik”, Aghniya Jurnal Ekonomi Islam, Vol. 07, No. 01 (TB, 2025), 1-2.
[4] Wirawan Sukarwo, Cerita Terbaik 25 Nabi & Rasul (Jakarta: Panda Media, 2014), 25-28.
[5] Sayyid Qutub, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, Jilid 10, Terj. As’ad Yasin, dkk, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), 311.
[6] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kisah Para Nabi Pra-Ibrahim dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2012), 96-98.
[7] Rahman Yasin, “Dakwah Nabi Hud AS: Keteguhan dalam Menghadapi Menyimpangan Akidah dan Relavansinya bagi Masyarakat Kontemporer”, Jurnal Spektra: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, Vol. 05, No. 03 (Desember, 2023), 136-137.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.