Pada masa Nabi Muhammad saw ada dua muadzin yang paling terkenal, yakni Bilal bin Rabbah, seorang mantan budak berkulit hitam dari Habasyah. Dan Abdullah bin Ummi Maktum, seorang penyandang disabilitas penyebab turunya surah ‘Abasa. Mereka berdua termasuk golongan orang- orang yang pertama kali masuk islam atau sering disebut sebagai as-sabiqunan al- awwalun. Kehadiran dua tokoh ini menunjukkan bahwa sejak awal Islam secara simbolik telah melawan berbagai diskriminasi yang ada dalam masyarakat Arab.
Meskipun Abdullah bin Ummi Maktum digambarkan sebagai penyandang disabilitas, sebab beliau tidak bisa melihat alias buta. Namun ia dikenal memiliki ilmu dan adab yang istimewa. Tak heran bila dirinya mampu mengetahui dengan detail pergeseran waktu, sehingga tugas muadzin diserahkan kepadanya.
Abdullah bin Ummi Maktum adalah sahabat yang giat beribadah. Diceritakan suatu hari ia ia mengikuti pengajian Rasulullah saw. Dalam kesempatan itu, baginda rasul menyampaikan kewajiban setiap muslim yang mendengar adzan untuk segera menunaikan shalat berjama’ah. Setelah mendengar penjelasan nabi saw, ia lalu bertanya apa yang harus dilakukan nya sebagai penyandang disabilitas.
Rasul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi ke masjid meskipun sambal merangkak. Maksud perintah nabi ini adalah ia harus kemasjid sekalipun dengan jalan perlahan. Maka dengan penuh keimanan, setiap kali adzan berkumandang dan waktu shalat tiba, ia pun segera pergi ke masjid dan berjama’ah dengan Rasulullah.
***
Abdullah bin Ummi Maktum mempunyai naluri yang sangat peka untuk mengetahui waktu. Setiap menjelang fajar, dengan perasaan jiwa yang segar ia keluar dari rumahnya dengan bertopang tongkat atau bersandar; pada lengan salah seorang kaum muslimin untuk mengumandangkan adzan dimasjid Rasul. Ia selalu bergantian untuk mengumandangkan adzan dengan Bilal bin Rabbah.
Salah satu adzan yang sering dikumandangkan oleh Abdullah bin Ummi Maktum adalah adzan sebelum shubuh. Yakni azan penanda bahwa waktu shalat malam akan segera habis sekaligus sebagai penanda datangnya shubuh,. Oleh karena itu, Rasulullah mengatakan, “Makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan. Beliau mengumandangkan adzan hingga terbit fajar (shubuh),” (H.R Bukhari no. 1919 dan Muslim no. 1092).
Penyandang Tuna Netra Penyebab Turunya Surah ‘Abasa
Kisah Nabi bermuka masam terdapat dalam Q.S ‘Abasa {80} ayat 1-10. Para ulama’ sepakat bahwa kisah tersebut turun di Makkah pada saat Nabi berdakwah secara sembunyi- sembunyi dapat dilihat dalam tafsir al- Tabari (Ibnu Jarir, 2000: 217). Ketika itu Nabi Muhammad sebagai seorang utusan menghendaki berdakwah kepada pembesar kaum Quraisy di masa nabi yaitu ‘Umar bin Hisyam (Abu Jahal ), dan Walid bin Mughirah, dengan harapan agar mereka mau masuk agama Islam sehingga dapat menyongkong Islam dengan lebih kokoh dan kuat, dan menyelamatkan kaum Islam Ketika mereka memeluk agama Islam.
Ditengah- tengah dakwah Rasulullah kemudian datang seorang sahabat yang buta atau tuna netra beliau adalah ‘Abdullah bin Ummi Maktum, ‘Abdullah bin Ummi Maktum ini masih merupakan kerabat nabi yaitu anak dari paman Siti Khadijah. Tujuan beliau datang menemui nabi tak lain untuk meminta pengajaran tentang ketauhidan kepada nabi Muhammad.
Pada saat sahabat ‘Abdullah bin Ummi Maktum telah sampai dihadapan nabi, kemudian ia berkata: “ya rasulallah aqrā‟anī wa „allamanī mimma „allamaka Allahu ta‟āla”, sahabat ‘Abdullah bin Ummi Maktum terus mengulaginya sampai tidak terhitung lagi, namun Nabi tidak memperhatikan dan sibuk dengan kaum nya. Sedang ‘Abdullah bin Ummi Maktum terus mengulaginya, kemudian barulah Nabi memotong perkataan ‘Abdullah bin Ummi Maktum, sambil bermuka masam dan berpalingatas sahabat ‘Abdullah bin Ummi Maktum.
Maka sahabat ‘Abdullah bin Ummi Maktum kemudian berkata dalam hatinya, “mereka adalah pembesar kaum Quraisy, sedangkan aku sesungguhnya hanyalah orang yang mengikuti Nabi dalam keadaan seorang hamba yang tergolong rendah, pantas saja Nabi bermuka masam dan memalingkan wajahnya, dan lebih memilih menghadap pembesar kaum Quraisy dan berbicara kepada mereka”.
***
Dalam kitab tafsir al- Tabari disebutkan ‘Abdullah bin Ummi Maktum dianugerahi pendengaran yang luar biasa tajam dan perasa ( Ibnu jarir, 2000: 218). Bahkan lebih waspada dari penglihatan sehingga sadar akan dirinya yang membuat tersinggung dan sakit hati Nabi tidak yang barangkali kurang berkenan atas dirinya. Maka Allah kemudian menurunkan ayat ini yaitu QS. Abasa [80] ayat 1-10 yaitu sebagai berikut:
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ وَمَاْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰى َۗ واَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ
Dilihat dari aspek bahasa ayat diatas memiliki tujuan ‘itāb (teguran atas Nabi). Bahasa yang digunakan dalam ayat tersebut adalah istifhām bi ghairi jawab yang bertujuan taẓkir (mengingatkan). Tentunya juga disebutkan kembali dalam Al-Qur‟an pada ayat sebelas kalla innaha taẓkirah, (sungguh!, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan). Hal ini menunjukkan bahwa Allah sedang menegur sekaligus mengingatkan Nabi Muhammad akan sesuatu yang kurang tepat.
Dalam penjelasan tafsir hadist di atas, kemudian sahabat Ibnu Abbas menambahi penjelasan bahwa “la taf’al hākaẓā yaqūlu la taqbalu ‘ala allażī istaghnā ‘an Allah fi nafsihi wa ta’raḍa ’amman yakhsya Allah” (janganlah melakukan hal yang demikian, mengatakan bahwa jangan mementingkan orang yang sudah kaya atas dirinya sendiri dibanding dengan kepada Allah, dan malingkan atas orang yang takut kepada Allah). Dari sini maka setiap Nabi bertemu sahabat Ummī Maktūm akan selalu bersabda; “marḥaban bi man ātabani fīhi rabbi (wahai orang yang menyebabkan aku ditegur Tuhanku)” dan Nabi kemudian berkata “hal laka ḥājatun? (adakah engkau memiliki keperluan). ( Ibnu Abbas, jilid 2: 129)
***
‘Ibrah atau pelajaran kisah Nabi Muhammad bermuka masam menurut ulama’ Nabi merupakan sosok yang sangat raḥmatan lil ālamin. Dapat dilihat Nabi terhadap kaum kafir Quraiys berdakwah secara santun mengajak tidak menginjak. Hal ini menjadi catatan penting bahwa berdakwah atau misionaris merupakan hal yang perlu diperhatikan. Di sisi lain Nabi juga mendapatkan teguran bahwa tidak dibenarkan mengabaikan seseorang yang ingin menuju kebaikan sekalipun orang yang buta, lemah, dan minoritas. Walaupun demikian Nabi memiliki sifat a‟rāḍ al-basyariyyah memiliki sifat kemanusiaan.
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply