Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memaksimalkan Muamalah dalam Perspektif Islam

muamalah
Sumber: https://depositphotos.com/

Apakah kalian tau, muamalah itu apa? Muamalah secara bahasa ialah hadis yang memiliki hubungan kepentingan seseorang dengan orang lain. Adapun muamalah secara etimologi memiliki makna yang sama dengan al-mufa’ala yaitu saling berbuat, yang berarti hubungan kepentingan antar seseorang dengan orang lain. Menurut istilah syara’ ialah kegiatan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan tata cara hidup sesama manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagaimana Allah Swt berfirman:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah/5: 2).

Pada prinsipnya muamalah merupakan hubungan atau interaksi manusia dengan orang lain, seperti hubungan pernikahan, hubungan politik dan hubungan perekonomian, semua hal yang terkait dan berinteraksi dengan orang lain maka disebut muamalah secara umum.

Terdapat dua sisi syariah Islam yaitu ibadat dan muamalat. Keduanya terkait laksana satu tubuh dan kedua-nya satu tujuan, (yaitu dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Sang Khalik Allah Swt). Jika jauh jarak perbedaan (kajian) syariah dengan kajian non syariah dalam bidang ekonomi ini, maka akan jauhlah kebenaran dan kebatilan, antara hidayah dan kesesatan. Pada dasarnya manusia diperintahkan beribadah pada Allah Swt. Namun, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain untuk kelanjutan hidupnya, maka Islam mengatur tatanan dalam bermuamalah. Perbuatan muamalah bisa menjadi ibadah ketika mengikuti tatanan Islam.

Muamalah aspek ekonomi, menduduki posisi yang penting dalam Islam. Hampir tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain (fardhu) bagi setiap muslim. Kewajiban itu disebabkan setiap muslim tidak terlepas dari aktivitas ekonomi. Bahkan sebagian besar waktu yang dihabiskan seorang manusia adalah untuk kegiatan muamalah, dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, bahkan negara. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur kembali.

Baca Juga  Menyikapi Polemik Childfree Dalam Perspektif Islam

Bekerja adalah ibadah

Manusia memerlukan uang atau harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Uang atau harta yang dimiliki oleh seseorang berasal dari pemberian orang lain atau hasil dari bekerja (upah). Uang atau harta adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup dan dapat mencapai kebahagiaan. Dengan uang, seseorang dapat membeli sesuatu yang diinginkan dan dapat merasa senang atau bahagia.

Semua orang harus giat dalam bekerja, mengapa demikian? Karena bekerja dengan giat memiliki banyak manfaat loh. Apa saja manfaat giat bekerja?

  1. Memenuhi kehidupan sehari-hari
  2. Meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik
  3. Mengembangkan bakat dan keterampilan seseorang
  4. Menjalin silahturahmi dan persaudaraan
  5. Meningkatkan seseorang dalam bertanggung jawab

Tetapi ada juga loh orang-orang yang malas dalam bekerja. Orang yang malas bekerja tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, dan mendorong orang tersebut untuk melakukan tindakan lain supaya mendapatkan uang seperti perbuatan tidak baik, mencuri, mengemis, dan merampas hak orang lain. Akibat lain dari malas dalam bekerja adalah:

  1. Menjadi beban orang lain
  2. Tak bisa memenuhi kehidupan diri sendiri
  3. Tidak memiliki harta
  4. Tidak memiliki rasa tanggung jawab
  5. Miskin karena tidak mau berusaha
  6. Dibenci oleh Allah SWT karena bermalas-malasan

Harta Sebagai Cobaan

Selain itu, harta juga bisa menjadi cobaan loh. Mengapa demikian? Karena seseorang akan celaka apabila terbuai dan diperbudak oleh harta. Kadang kala seseorang lupa bahwasanya harta yang kita miliki juga ada hak orang lain yang terdapat di dalam harta kita. Mereka lupa membayar zakat dan bersedekah. Orang yang sudah terbuai oleh harta yang dimilikinya akan selalu menginginkan untuk menumpuk harta dan tidak mau untuk bersedekah ataupun mengeluarkan zakat.

Baca Juga  Aturan dan Rukun Jual Beli yang Wajib Dipenuhi dalam Islam

Hal tersebut tertulis dalam Al-Qur’an sebagaimana Allah Swt berfirman: “Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang men-dapat tempat kesudahan (yang baik)” (QS. Ar-Rad/13: 22).

Yang perlu kalian ingat, bahwasanya rezeki ataupun harta yang kita dapatkan di berikan oleh Allah SWT berupa harta dan kekayaan, dan harus digunakan untuk mencapai keridhoan Allah SWT dan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Fungsi Harta Dalam Pandangan Islam:

  1. Untuk menjadi bekal dalam mencari ilmu, misalnya harta digunakan untuk biaya pendidikan.
  2. Menjadi bekal atau sesuatu yang diturunkan (warisan) untuk anak dan cucu.
  3. Harta digunakan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta dapat menjauhi dari hal-hal seperti kefakiran atau kemiskinan.
  4. Menjadi penyeimbang antara kebutuhan kita di dunia dan menjadi bekal di akhirat.
  5. Harta juga dapat kita gunakan untuk saling tolong-menolong sesama umat beragama dan tidak memandang perbedaan (agama, suku, ras, etnis).

Mendapat Kemudahan Harta

Allah SWT adakalanya memberikan kemudahan untuk umatnya dalam mendapatkan uang atau harta. Akan tetapi tidak semua orang mendapatkan hal tersebut. Sebagian orang di uji oleh Allah SWT dengan diberikannya kesulitan dalam mendapatkan harta atau uang. Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang memiliki kelebihan harta tetapi tidak peduli terhadap orang lain yang sedang dalam kesusahan. Ayat Al-Quran yang menjelaskan hal tersebut, sebagai Allah Swt berfirman:

Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah/2: 188).

Baca Juga  Kerinduan Eksistensial Kepada Sang Nabi

Tau ga sih kalian, ada loh perilaku-perilaku yang salah dalam menggunakan harta. Apa aja sih yang salah dalam menggunakan harta?

  1. Menimbun atau menyembunyikan harta ataupun barang untuk memperkaya atau keuntungan diri sendiri. Contohnya seperti korupsi, orang-orang yang melakukan tindakan korupsi bukan karena kekurangan harta, tapi karena sifat serakah dan ingin menjadikan diri sendiri menjadi kaya raya dengan mengambil hak orang lain.
  2. Kikir, tidak mau memberikan sedikit bantuan dengan harta yang mereka punya.
  3. Mubazir, membuang-buang makanan padahal masih banyak orang yang kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti untuk membeli makan. Mubazir tidak hanya dalam hal membuang-buang makanan, tetapi bisa juga dalam membeli barang. Membeli barang ang tidak dibutuhkan sama saja melakukan tindakan mubazir, karena menggunakan uang atau harta untuk membeli sesuatu tanpa adanya tujuan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa bekerja keras akan menghasilkan uang atau harta. Tetapi di dalam uang atau harta yang kita miliki, tersimpan juga hak orang lain. Misalnya dari uang yang kita miliki, kita harus mengeluarkan sedekah dan berzakat supaya harta atau uang yang kita miliki menjadi berkah.

Penyunting: Ahmed Zaranggi

Referensi:

Mulyani, Dewi. Muamalah Berinteraksi dan Bergaul dengan Sesama. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2010.