Di sepanjang bulan Ramadan, tidak jarang didapati khutbah-khutbah yang bernuansa materialistis tentang Ramadan: mulai dari penegasan bahwa puasa adalah untuk mendapatkan manfaat jasmani sebagaimana divalidasi oleh sains, hingga cara pandang kalkulatif terhadap pahala. Meski terdapat aspek yang berharga dari penjelasan tersebut, penekanan yang berlebihan pada manfaat-manfaat praktis-kalkulatif justru akan mereduksi substansi puasa—lebih lagi Ramadan itu sendiri. Kontras dengan itu, Ramadan, berikut berbagai ritus yang ada di dalamnya, merupakan sarana untuk membangkitkan kedirian yang sadar dan terbuka yang pada gilirannya akan mengantarkan subjek individu kepada suatu pengalaman puncak spiritual yang khas dan dalam.
Puasa Hanya Diwajibkan bagi Insan yang Sadar
Dalam pengertiannya yang paling dasar, puasa merupakan suatu proses menahan (al-imsak). Benar dalam praktiknya, bahwa laku puasa mengharuskan seseorang untuk menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari terbit fajar hingga waktu magrib. Namun, cara pandang yang lebih insaf, sebagaimana ditegaskan banyak agamawan, akan mengantarkan seseorang yang berpuasa dengan kesadaran penuh untuk turut menahan segenap jiwa dan raganya dari laku tercela. Dalam hal ini, klasifikasi Imam al-Ghazali mengenai tiga klaster pelaku puasa—umum, khushush, dan khushushu al-khushush—sangat bermanfaat untuk direnungkan.[1]
Mengenai urgensi kesadaran tersebut, Nabi secara terang-terangan mempersilakan untuk tidak berpuasa—dalam pengertian syariat—bagi mereka yang tidak bisa menahan diri dari perkataan dusta dan laku tercela.[2] Sejalan dengan itu, hadis tentang orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa pun melainkan lapar dan dahaga menunjukkan bahwa tanpa kesadaran, puasa kehilangan substansinya. Dalam lain kesempatan, Nabi menegaskan bahwa puasa merupakan perisai; pelindung seseorang dari perkataan kotor (rafats) dan perbuatan bodoh (jahl).[3] Dalam penjelasan tersebut, tentu tidak dapat dibayangkan bahwa perisai tersebut akan berfungsi dengan baik dan maksimal tanpa dilandasi suatu kesadaran dan kehadiran diri yang menyeluruh.
Apa yang dapat dipahami dari berbagai sabda Nabi tersebut adalah bahwa puasa bukan sekadar tuntutan kepatuhan formal, melainkan ketersediaan untuk menghadirkan kesadaran diri yang utuh, aktif, dan reflektif. Tanpa kesadaran dan kehadiran diri tersebut, puasa hanya akan menjadi rutinitas tahunan; terlaksana namun nirmakna. Oleh karenanya, dengan kesadaran yang sedemikian dalam dan kedirian yang sedemikian utuh, puasa akan membentuk pribadi yang benar-benar sadar dan hadir akan apa yang ia lakukan, mengapa ia melakukannya, dan kepada siapa ia mengarahkan tindakan-tindakannya tersebut.
Kesadaran dalam Lentera Al-Qur’an dan Terang Fenomenologi
Kesadaran diri bukanlah suatu hal yang sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering melihat, mendengar, dan berpikir tanpa benar-benar hadir secara sadar dalam pengalaman tersebut. Kesadaran tidak sekadar berarti tidak sedang tidur, mabuk, atau pingsan. Lebih dari itu, kesadaran adalah proses kemenyatuan seluruh potensi manusia—penglihatan, pendengaran, pikiran, dan rasa—dalam satu pengalaman yang utuh.[4] Dalam keadaan tersebut, kesadaran terbentuk dari ketajaman visi, kejernihan pikir, dan kepekaan batin yang terintegrasi, sehingga memungkinkan seseorang mengalami dan memahami realitas secara utuh.
Dalam berbagai kesempatan, Al-Qur’an merekam dengan lugas ketakterpisahan tiap-tiap potensi manusia tersebut dalam membentuk suatu kesadaran paripurna (al-A’raf: 179, 195, al-Isra: 36, al-Hajj: 46). Bahkan Al-Qur’an menggunakan kata “lengah” (ghaflah) sebagai akibat dari suboptimasi dan keterpisahan potensi tersebut. Dalam al-A’raf ayat 179, Al-Quran menjelaskan: “…. Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami, dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat, serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”. Dengan kata lain, kesadaran sejati adalah keterlibatan total diri dalam memahami realitas.
***
Dalam tradisi fenomenologi, terutama yang ditulis oleh Edmund Husserl, kesadaran selalu bersifat intensional, yakni selalu merupakan kesadaran mengenai sesuatu.[5] Ada keterkaitan yang khas dan organik antara subjek yang menyadari dan objek yang disadari. Selalu terdapat keterarahan subjek pada objek yang dilihat, didengar, dipikirkan, dan dirasa. Dalam kacamata Al-Qur’an, objek-objek yang ada tersebut merupakan ayat-ayat Tuhan yang tersingkap dalam wujudnya yang qawli maupun kawni. Dalam surat Fushshilat ayat 53 disebutkan: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”. Lebih dari itu, tanda-tanda tersebut meliputi segala penjuru ruang dan waktu: “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada” (al-Hadid: 4). Dengan demikian, bukanlah sifat pasif yang inheren dalam kesadaran, melainkan suatu keterarahan yang aktif dan reflektif terhadap berbagai perwujudan kemahakuasaan Tuhan.
Selanjutnya, jika diktum Cartesian “cogito ergo sum”, dalam rangka menemukan kepastian, mengisolasi diri dari realitas, maka idea intensionalitas fenomenologi berusaha mengatasi batasan-batasan yang memisahkan subjek dari realitas. Sementara dalam cogito objek diketahui lewat representasinya, dalam fenomenologi objek hadir dengan keterberian (given) secara langsung. Dalam cara pandang yang demikian, tanda-tanda Tuhan sebagaimana disebutkan hadir di hadapan diri yang sadar dan terbuka dalam setiap perjumpaannya dengan realitas. Membaca tanda-tanda Tuhan tidak hanya mengandaikan penyelidikan konseptual, melainkan mempersilakan realitas tersebut untuk menampakkan hakikatnya dengan caranya yang khas pada diri yang sadar. Dengan demikian, kesadaran diri bukan sekadar mengetahui bahwa “aku ada”, melainkan mengalami diri dalam relasi dengan dunia yang disadari, yang dalam hal ini adalah ayat-ayat Tuhan.
Dari Diri yang Sadar Menuju Diri yang Tercerahkan
Melalui serangkaian proses sadar tadi, dalam konteks ini, Ramadan dapat dipahami sebagai spiritual exercise yang dapat mengantarkan manusia menuju apa yang dalam tradisi psikologi disebut sebagai peak experiences atau pengalaman puncak spiritual. Ramadan tidak hanya menghadirkan kesadaran diri melalui laku puasa di siang hari, melainkan juga membuka ruang keintiman yang hening dengan realitas transenden di malam hari. Di sanalah seseorang menempuh jalan yang sunyi namun sarat makna sebagai pencarian yang perlahan menyingkap kedalaman makna dari ayat-ayat Tuhan. Dalam al-Muzammil ayat enam disebutkan: “Sungguh bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan”.
Peak experiences, atau yang dalam perkembangan selanjutnya, sebagaimana diperkenalkan oleh Sophie Grace Chappell, disebut sebagai epiphanies (pencerahan), merupakan manifestasi pengalaman yang sangat bermakna secara eksistensial yang sering kali tiba-tiba dan mengejutkan. Sesuatu yang memberi makna pada jiwa, yang terasa seperti datang dari luar. Sesuatu yang diberikan (given) dalam relativitas diri sebagai subjek yang menerima dan mengalami.[6] Pengalaman semacam ini dapat muncul ketika manusia mengintegrasikan seluruh potensi dirinya untuk menangkap realitas sekaligus menyituasikan dirinya untuk membuat ayat-ayat Tuhan hadir dalam setiap episode realitas kehidupan yang dialaminya.
Pengalaman puncak (Peak experiences atau epiphanies) adalah momen intens ketika subjek diri merasakan kebahagiaan mendalam, kekaguman, keindahan, dan pemenuhan diri yang optimal. Dalam satu momen, pengalaman puncak, sebagaimana dijelaskan oleh Abraham Maslow, menciptakan suatu perspektif yang melampaui ego diri (ego-transcending), kedirian yang mengalir (self-forgetful), dan keadaan yang terpusat pada objek (unselfish/object-centered).[7] Dalam hal ini, surat Yusuf ayat 31 memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana pengalaman tersebut beroperasi: “Ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka sangat terpesona dan mereka melukai tangannya sendiri seraya berkata, “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia”.
***
Pengalaman puncak merupakan momen yang dapat menghadirkan realitas sebagai satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan, serta memperlihatkan dunia seakan-akan hadir dalam dirinya (in itself) dan untuk dirinya sendiri (for itself), terlepas dari kepentingan ego diri. Dalam keadaan ini, persepsi menjadi begitu murni dan total; penglihatan, pendengaran, pikiran, dan perasaan menyatu dalam kejernihan yang jarang dialami dalam kesadaran sehari-hari. Bahkan, pengalaman puncak juga menandai perubahan cara subjek memaknai ruang dan waktu: batas-batasnya memudar, sehingga seseorang tidak lagi sekadar menjalani waktu, melainkan sungguh-sungguh mengalami setiap detik secara utuh dan penuh kesadaran dan kebermaknaan.[8]
Sekali lagi, keterangan-keterangan di atas sulit dibayangkan tanpa keadaan subjek diri yang sadar yang ditopang dengan pengintegrasian seluruh potensi yang dimilikinya terhadap realitas sebagai ayat-ayat Tuhan. Al-Quran secara implisit merangkum sekaligus merekam situasi diri yang tercerahkan sebagaimana keterangan-keterangan di atas dari satu potongan ayat (83) dalam surat al-Maidah: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui”.
Akhir kata, mengutip apa yang disampaikan imam al-Qusyairi dalam risalahnya:[9]
“إِذَا طَلَعَ الصَّبَاحُ اِسْتَغْنَى عَنِ الْمِصْبَاحِ”
Artinya: “Apabila mentari di pagi hari telah menyingkapkan sinarnya, lentera kembali tak dibutuhkan”.
Daftar Pustaka
[1] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulum ad-Din, Vol 1, (Cairo: Dar al-Minhaj, 2019), h. 578.
[2] Abdullah Siraju ad-Din al-Husaini, Ash-Shiyam Adabuhu Mathalibuhu Fawaiduhu Fadhailuhu, (Aleppo: Dar al-Fallah, 2004), h. 16.
[3] Abdullah Siraju ad-Din al-Husaini, Ash-Shiyam Adabuhu Mathalibuhu Fawaiduhu Fadhailuhu, (Aleppo: Dar al-Fallah, 2004), h. 15.
[4] Thomas Hidya Tjaya, Fenomenologi Sebagai Sains Pengalaman, (Jakarta: PT Gramedia, 2025), h. 20.
[5] Thomas Hidya Tjaya, Fenomenologi Sebagai Sains Pengalaman, (Jakarta: PT Gramedia, 2025), h. 23.
[6] Shopie Grace Chappell, Epiphanies an Ethics of Experience, (New York: Oxford University Press, 2022), h. 25.
[7] Abraham Maslow, Religions Values and Peak-Experiences, (New York: Penguin Books, 1976) h. 62.
[8] Abraham Maslow, Religions Values and Peak-Experiences, (New York: Penguin Books, 1976) h. 59-63.
[9] Abu al-Qasim al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyah, (Cairo: Dar asy-Sya’b 1989), h. 160.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.