Dalam hidup yang berjalan serba cepat, manusia sering berjalan secara mekanis. Ia terkungkung dalam rutinitas. Akhirnya, tujuannya menjadi sempit: sekedar mengulang hari dan bekerja sebagaimana biasanya. Dengan pola semacam ini, ada bagian dari dalam diri yang sering tak terjamah dan mendapat perhatian penuh: sisi spiritual. Padahal, bagian ini sangat urgen dalam diri manusia. Jika tak diasah, ia akan menjadi tumpul.
Pada hidup yang berjalan serba cepat, manusia harus pandai mengambil jarak dan menciptakan jeda. Namun, hal ini sangat jarang mendapat perhatian. Jeda dipandang secara peyoratif sebab memberi celah pada kegiatan melamun. Dalam dunia modern yang meminta manusianya tak lamban, melamun dianggap sebagai suatu yang sia-sia dan membuang waktu. Padahal, agar tak kehilangan makna, manusia perlu memberikan jarak dan jeda bagi dirinya untuk merenungkan tentang apa yang telah dilaluinya dan akan dijalaninya. Dalam Islam, salat sebenarnya bagian dari cara menciptakan jeda.
Lewat salat, jika seseorang benar-benar menghayati, ia akan merenungkan dirinya dan kehidupan yang dijalaninya. Perenungan atas diri dan kehidupan ini kelak akan menggerakannya untuk hidup lebih bermakna dan tak sekedar hidup. Dan bagian paling intim dari salat adalah doa. Sebab, di dalam doa, manusia berserah dan mengakui segala kelemahan diri. Doa adalah pengakuan bahwa manusia tak dapat meraih yang diinginkan tanpa bantuan Tuhan. Ibnu Athaillah mengingatkan[1]:
ما توقف مطلب أنت طالبه لربك # ولا تيسر مطلب أنت بنفسك
“Apa yang kau minta tak akan terhalang selama engkau memintanya pada Tuhanmu. Namun, apa yang kau minta tak akan datang selama kau mengandalkan dirimu sendiri.”
Doa sebagai Jeda
Seorang muslim sejatinya sangat memerlukan doa. Selain fungsi pragmatis seperti meminta kekuatan dan pertolongan, doa hakikatnya adalah ruang mengambil jarak dan menciptakan jeda dari kebisingan hidup. Dalam doa, yang terjadi hanyalah komunikasi dua pihak, hamba dan Tuhannya. Atas dasar inilah doa dianjurkan dalam suasana hening. Sebab, melalui keheningan itu diharapkan tercipta suasana yang intim. Di dalam suasana intim itu, manusia bebas mencurahkan segala keresahan dan kegundahan diri.
Kesadaran manusia akan doa sebagai jeda mestinya menjadi perhatian seorang muslim. Sekali sehari Islam telah memberi kesempatan formal sebanyak lima kali untuk seorang muslim berdoa (pada salat wajib). Belum lagi pada doa-doa harian yang biasa dirapalkan. Semua doa itu, jika diresapi dengan hikmat, akan menjadikan rutinitas lebih bermakna. Sebab, di dalam doa, seorang muslim berharap agar yang dijalaninya tidak hanya lancar dan penuh kemudahan, tapi juga diberkahi oleh Allah.
Keberkahan dalam hidup amat sangat diperlukan oleh manusia. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya. Kekuatan yang ada pada dirinya adalah given (pemberian) dari Allah. Tanpa anugerah kekuatan itu, manusia tak akan bisa melakukan apa-apa. Namun, selain kekuatan, keberkahan juga harus menjadi prioritas utama. Karena bisa saja seorang hamba mendapatkan apa yang diinginkan, tapi kehidupannya dari jauh berkah. Apa tandanya? Yakni saat keinginan dikabulkan, hidup dimudahkan, tapi jarak dengan Allah semakin terbuka lebar.
Tidak sedikit manusia yang menjalani hidup seperti ini. Dalam keadaan susah, ia senantiasa berdoa, namun saat masa jaya tiba, ia lupa. Saat masa susah rajin bersedekah dan berbagi, namun saat masa jaya hadir, ia meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik itu. Ini adalah salah satu dari contoh hidup yang mulai berjarak dengan berkah. Karena itu salah satu cara untuk memastikan hidup tetap dalam keberkahan adalah doa. Doa adalah medium bagi manusia meminta agar senantiasa diberikan hidup yang berkah.
Berdialog dengan Tuhan
Doa telah menggunting jarak yang terbentang antara hamba dan Tuhan. Lewat doa, seorang hamba akan merasa begitu intim dengan Tuhannya. Sebagaimana disampaikan di depan, hanya melalui doa seorang hamba bisa bercakap-cakap dengan Tuhan. Dalam Al-Qur’an, penegasan yang disampaikan oleh Tuhan adalah bahwa Dia sangat dekat. Allah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Lewat firman ini, Tuhan menggaransi kedekatannya dengan hamba. Garansi itu disampaikan dengan ta’kid (penekanan), yakni penggunaan kata innī (sesungguhnya Aku). Penggunaan kata tersebut adalah wujud sungguh-sungguh dan senyata-nyatanya kedekatan. Pandangan ini diamini oleh sufi agung, Al-Qusyairi. Ia menyatakan[2] bahwa dalam ayat ini, untuk menjawab pertanyaan hamba-hamba-Nya saat bertanya tentang-Nya, jawabannya tidak disampaikan melalui lisan Muhammad. Padahal jika Tuhan mau Dia bisa saja menyampaikan itu kepada Muhammad yang jelas-jelas utusan-Nya. Tapi Tuhan tidak memilih itu. Justru Tuhan memilih Dia yang menyampaikannya, “Maka sesungguhnya Aku dekat.”
Bagi Qusyairi, ini adalah cara Tuhan menghapus jarak antara Dia dengan hamba-Nya. Ia tak ingin ada perantara. Tuhan tidak berkalam, “Katakanlah kepada mereka bahwa Aku dekat”, tapi Dia berfirman, “Maka sesungguhnya Aku dekat.” Penegasan itu kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang sangat hangat, “Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” Kedekatan Tuhan dengan hamba-Nya, jelas al-Qusairy, adalah kedekatan yang meliputi segala hal, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, pendengaran-Nya, dan penglihatan-Nya. Lewat ayat ini, Tuhan ingin menandaskan bahwa pertolongan-Nya amat sangat dekat dengan hamba yang berdoa kepada-Nya.
Menguatkan Ketahanan Diri
Posisi doa sangat sentral dalam kehidupan seorang muslim. Lebih dari medium bercakap-cakap dengan Tuhan, ia adalah sesuatu yang menguatkan diri. Doa adalah senjata kaum beriman (ad-dua’ silāh al-mu’min). Al-Ghazali, sebagaimana dikutip an-Nawawi, menjelaskan beberapa fungsi doa. Di antara fungsi yang paling terang adalah menolak bala dan mendatangkan rahmat. Karenanya jika seorang muslim ingin menolak bala dan segala hal buruk, doa adalah periasainya. Jika seorang muslim ingin mendatangkan rahmat, baik berupa rezeki atau dimudahkan, maka doa adalah air yang dengannya tanaman menjadi tumbuh.[3]
Selain itu, doa juga memiliki psikologis yang positif terhadap manusia. Dengan doa, ia akan merasa mendapat kekuatan. Sebab, ia merasa bahwa Tuhan hadir bersamanya. Sebagai hamba yang lemah, manusia tentunya membutuhkan pegangan yang kokoh dan kuat, yakni Tuhan. Dampak ini amat sangat berharga bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Kehidupan menjejali manusia dengan banyak sekali tantangan dan rintangan. Dalam hidup yang penuh aral itu, manusia membutuhkan pegangan yang kokoh dan hal itu hanya bisa ditemukan lewat doa. Dengan doa, kegelisahan dan kesedihan akan segera sirna. Sebab, ia yakin bahwa di hadapan masalah yang besar, Dzat Yang Maha Besar yang mengabulkan permintaannya, menurunkan pertolongan dan menghapus kegelisahan.
Daftar Pustaka
[1] Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati, Al-Hikam Kitab Tasawuf Sepanjang Masa: Terjemah & Syarah Al-Hikam Ibnu Atha’illah as-Sakandari, (Jakarta Selatan: Turos Pustaka, 2024), h. 40.
[2] Abu Al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin Al-Qusyairi, Lathā’if al-Isyārāt, Jilid 1, (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), h. 89.
[3] Abu Zakariyya Yahya bin bin Syarfin an-Nawawi, Al-Adzkar, (Beirut: Darul Minhaj, 2005), h. 239.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.