Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menimbang Ulang Klaim Mukjizat Astronomi dalam Al-Qur’an (1)

Al-Qur'an dan Astronomi
Sumber: amazon.com

Klaim bahwa Al-Qur’an mengandung isyarat ilmiah yang mendahului penemuan modern telah menjadi wacana populer sejak dekade 1980-an. Salah satu figur yang paling berpengaruh dalam menyebarkan gagasan ini adalah Dr. Zakir Naik. Gagasannya tergambar melalui bukunya, The Qur’an and Modern Science: Compatible or Incompatible?. Dalam buku tersebut, Naik menafsirkan sejumlah ayat sebagai bukti ilmiah yang mendukung teori modern, seperti Big Bang dan pembentukan awal alam semesta. Namun, klaim ini memerlukan kajian kritis yang bukan hanya menilai kesesuaian teks dengan sains modern, tetapi juga menelusuri bagaimana para mufasir klasik memahami ayat-ayat tersebut.

Narasi Big Bang dalam Tafsir Populer

Zakir Naik membuka penjelasannya dengan mengutip Surah Al-Anbiya ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya?”. Ia menilai ayat ini sebagai indikasi bahwa Al-Qur’an telah mengisyaratkan teori Big Bang jauh sebelum sains modern menemukannya. Menurut Naik, frasa tersebut menggambarkan kondisi awal alam semesta yang merupakan satu kesatuan massa tunggal (primary nebula) sebelum terjadi pemisahan besar yang melahirkan galaksi, bintang, dan planet. Dalam bukunya, ia menulis:

“According to the ‘big bang’, the whole universe was initially one big mass (primary Nebula). Then there was a ‘big bang’ (secondary separation) which resulted in the formation of the galaxies. These then divided to form stars, planets, the sun, the moon, etc.”

(Menurut teori “Big Bang”, seluruh alam semesta awalnya adalah satu massa besar [nebula primer]. Kemudian terjadi “ledakan besar” [pemisahan sekunder] yang menghasilkan pembentukan galaksi. Galaksi-galaksi ini kemudian terbagi lagi membentuk bintang, planet, matahari, bulan, dan seterusnya.)[1]

Pernyataan tersebut memperlihatkan upaya Naik untuk menautkan penjelasan ilmiah mengenai asal-usul alam semesta dengan narasi kosmologis dalam Al-Qur’an. Dengan pendekatan apologetik semacam ini, Naik berusaha menunjukkan bahwa wahyu dan sains bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan berkelindan dalam menjelaskan fenomena alam semesta.

Baca Juga  Kontroversi Penggunaan Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur'an

Namun, pembacaan semacam ini menghadapi masalah kronologis. Deskripsi Al-Qur’an menempatkan bumi dan langit sebagai dua entitas yang dipisahkan, bukan satu massa kosmik yang kemudian berekspansi. Dalam bahasa Arabnya, kata fataqnahuma (فَفَتَقْنَاهُمَا) berasal dari akar kata fataqa, yang berarti membelah atau memisahkan dengan suatu gaya luar.[2] Makna ini tidak mencerminkan ledakan atau ekspansi spontan seperti yang dimaksud dalam model kosmologi modern, melainkan tindakan pemisahan yang bersifat mekanis dan lokal.

Analisis Kritis terhadap Klaim Big Bang

Analisis linguistik menunjukkan bahwa kata fataqa dalam Lane’s Lexicon berarti “memisahkan dua hal yang bersatu dengan gaya eksternal”. Ini sama seperti membelah sesuatu dengan tangan atau alat tajam. Para mufasir klasik, seperti al-Tabari, memahami ayat tersebut secara literal: langit dan bumi dahulu satu entitas, lalu Allah “memisahkan dan membelah” keduanya.[3] Dalam tafsirnya, al-Tabari menggunakan kata ṣada‘nahuma (kami pecahkan) dan faraqnahuma (kami pisahkan). Kedua kata tersebut memperkuat gambaran pemisahan fisik, bukan peristiwa kosmik purba.

Penjelasan serupa juga muncul dalam tafsir Ibn Abbas, Qatadah, dan al-Hasan al-Basri. Ketiganya kompak menggambarkan proses pemisahan itu sebagai tindakan Tuhan yang memisahkan langit dan bumi melalui udara atau angin. Dengan demikian, pemahaman ulama klasik tidak pernah menyinggung fenomena kosmologis seperti Big Bang.

Selain itu, teori Big Bang menggambarkan alam semesta bermula dari singularitas tanpa bentuk, bukan dari dua benda yang bersatu lalu dipisahkan. Lebih jauh lagi, bumi baru terbentuk miliaran tahun setelah ledakan besar, sedangkan ayat yang dikutip justru menempatkan bumi sebagai bagian yang “dipisahkan” dari langit sebuah urutan yang keliru jika dikaitkan dengan teori sains modern.

Gagasan bahwa langit dan bumi dahulu satu lalu dipisahkan juga bukan orisinal dalam Islam. Konsep serupa muncul dalam mitologi Yunani kuno, misalnya pada fragmen Euripides: “How heaven and earth were once one form, but stirred.[4] Dalam mitos Sumeria, Gilgamesh and the Netherworld, langit dan bumi juga disebut pernah menyatu sebelum dipisahkan.[5] Demikian pula dalam mitologi Mesir, dewa udara Shu memisahkan Geb (bumi) dan Nut (langit) agar kehidupan dapat dimulai.[6] Artinya, konsep pemisahan langit dan bumi merupakan motif kosmogoni umum, bukan wahyu unik yang menubuatkan teori Big Bang.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 103: Pahala Allahlah yang Lebih Baik

Narasi Asap Kosmik dalam Al-Qur’an

Klaim ilmiah kedua Zakir Naik muncul dari Surah Fussilat ayat 11: “Then He turned to the sky when it was smoke (dukhan), and said to it and to the earth: ‘Come, willingly or unwillingly.’ They said: ‘We come willingly.’” Menurutnya, kata dukhan (دخان) menggambarkan keadaan awal alam semesta yang terdiri dari gas atau kabut kosmik sebelum terbentuknya galaksi. Ia menyatakan bahwa “scientists say that before the galaxies were formed, celestial matter was initially gaseous”, dan oleh karena itu istilah dukhan cocok menggambarkan tahap awal ini.[7]

Namun, dalam konteks ayat tersebut, urutan penciptaan justru menyebut bahwa bumi diciptakan lebih dahulu selama empat hari, baru kemudian Allah “menghadap kepada langit yang masih berupa asap.” Artinya, dalam kerangka Qur’ani, bumi sudah ada sebelum langit dibentuk, yang sekali lagi bertentangan dengan model ilmiah di mana bumi muncul jauh setelah pembentukan kosmos.

Analisis terhadap Konsep Asap Kosmik

Penafsiran klasik terhadap istilah dukhan juga tidak mengarah pada gas kosmik sebagaimana dipahami dalam kosmologi modern. Ibn Katsir menafsirkan kata tersebut sebagai “bukhar al-ma’” (بخار الماء) atau uap air, bukan gas primordial.[8] Demikian pula al-Razi dan al-Zamakhshari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “asap” di sini adalah kabut atau uap yang terbentuk setelah air diciptakan.[9] Ibn Taymiyyah bahkan menyebut bahwa pandangan ini juga dipegang oleh ahl al-kitāb, yaitu komunitas Yahudi dan Kristen pada masa awal Islam.[10]

Penjelasan tersebut sangat mirip dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian: “Dan Allah menjadikan cakrawala di tengah air untuk memisahkan air yang di bawah cakrawala dari air yang di atasnya.”[11] Dengan demikian, narasi “asap kosmik” dalam Al-Qur’an tampaknya merupakan kelanjutan dari tradisi mitologis dan kitabiah yang telah ada sebelumnya.

Baca Juga  Watak Sosiologis Suku Quraisy dalam Al-Qur'an

Zakir Naik menegaskan bahwa konsep ini “tidak diketahui oleh bangsa Arab saat itu”. Namun, jika ditelusuri, gagasan tentang uap air dan pemisahan langit-bumi telah lama hidup dalam teks-teks keagamaan kuno. Klaim kemukjizatan ilmiah ini lebih mencerminkan usaha apologetik ketimbang bukti empiris atas pengetahuan sains dalam wahyu.

Kesimpulan

Dari klaim Big Bang dan Asap Kosmik di atas, terlihat bahwa pembacaan ilmiah terhadap Al-Qur’an sering kali bersandar pada tafsir anakronistik yang mengabaikan makna bahasa dan konteks sejarah. Tafsir klasik tidak pernah menyinggung teori kosmologis, dan mitos pemisahan langit-bumi maupun gambaran “asap” atau “uap air” sebagai bahan awal penciptaan telah beredar jauh sebelum Islam. Klaim Zakir Naik lebih merupakan reinterpretasi modern terhadap teks keagamaan dengan kacamata saintifik kontemporer. Maka, alih-alih memperkuat posisi wahyu, upaya semacam ini justru berisiko mereduksi kedalaman makna spiritual Al-Qur’an menjadi sekadar spekulasi ilmiah.


Daftar Pustaka

[1] Zakir Naik, The Qur’an and Modern Science: Compatible or Incompatible?, (Kuala Lumpur: Islamic Research Foundation, 1990), p. 10.

[2] Lane, Edward William, Arabic-English Lexicon, Book I, Part 6, 1872, s.v. “fataqa.”

[3] Al-Tabari, Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, Vol. 17, 21:30.

[4] Euripides, Selected Fragmentary Plays, Vol. 1, (Cambridge: Harvard University Press, 2008), p. 67.

[5] Samuel Noah Kramer, Sumerian Mythology, (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1944), p. 37.

[6] Geraldine Pinch, Egyptian Myth: A Very Short Introduction, (Oxford: Oxford University Press, 2004), p. 21.

[7] Zakir Naik, The Qur’an and Modern Science: Compatible or Incompatible?, (Kuala Lumpur: Islamic Research Foundation, n.d.), p. 11.

[8] Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Vol. 7, 41:11.

[9] Fakhr al-Din al-Razi, Mafātīḥ al-Ghayb, Vol. 27, 41:11.

[10] Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Vol. 5, p. 564.

[11] Genesis 1:6–7 (King James Version).

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID