Menurut catatan, ada sekitar 305 kali Al-Quran menyebutkan tentang “langit” di beberapa ayat-ayatnya. Namun, penyebutan “tujuh langit” di dalam Al-Quran baik secara sharih (eksplisit) maupun ghairu sharih (inplisit) diulang sembilan kali dalam sembilan ayat dan delapan surat.
Langit dalam Al-Qur’an
Pertama, QS. Al-Baqarah, 29, “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
Kedua, QS. Al-Isra’, 44, “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun.”
Ketiga, QS. Al-Mu’minun, 17, “Dan sungguh, kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).”
Keempat, QS. Al-Mu’minun, 86, “Katakanlah, “Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki `arasy yang agung?”
***
Kelima, QS. Fushilat, 12, “Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian, langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, lagi Maha Mengetahui.”
Keenam, QS. At-Thalaq, 12, “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Ketujuh, QS. Al-Mulk, 3, “Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?”
Kedelapan, QS. Nuh, 15, “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?“
Kesembilan, QS. An-Naba’, 12, “Dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh.”
Langit Ketujuh dalam Al-Qur’an
Kata langit, diartikan setiap sesuatu yang dapat dilihat tentang benda-benda yang mengapung di angkasa, seperti matahari, bintang, dan planet-planet, sampai jauh ke dalam ruang alam semesta raya. Al-Quran tidak mengartikan kata ini sebagai sesuatu yang tersembunyi dan rahasia. Sebaliknya, Al-Quran menyebutkan kata langit di banyak ayatnya, dapat disimpulkan ia merupakan keseluruhan alam wujud dan kasat mata. (Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy, Al-Quran tentang Alam Semesta).
Demikian juga tentang tujuh langit. Justru, penciptaan ketujuh lapis langit merupakan satu tanda kebesaran Allah Swt. Dia memberi mukjizat kepada Nabi Muhammad Saw melewati tujuh lapis langit itu dalam semalam ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis sangat serasi dan harmonis. Artinya, setiap langit memiliki tingkatan yang terapung kokoh di tengah jagat raya. Tidak ada tiang penyangga dan tali-temali yang mengikatnya. Tiap-tiap langit menempati ruangan yang telah ditentukan baginya.
Jika dikaitkan dengan ilmu astronomi, yang dimaksud dengan tingkatan langit yang berlapis-lapis itu ialah galaksi-galaksi. Demikian ini, ada sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh lapisan langit ialah tujuh bintang yang berada di sekitar matahari. Penafsiran semacam ini disandarkan pada QS. Fushilat, 11-12, yang menyebutkan tentang lapisan langit yang memiliki urusan-urusannya masing-masing. Meskipun sebagian ahli tafsir lainnya, menyerahkan urusan ini kepada Allah Swt semata.
***
Klaim galaksi-galaksi sebagai tingkatan ketujuh langit, ini juga dinyatakan oleh Al-Majlisi dalam karyanya, Bihar al-Anwar yang mencantumkan kemungkinan ini pula sebagai salah satu dari tafsir-tafsir ayat tersebut. Ia menulis, “Kemungkinan ketiga yang muncul di dalam pikiranku adalah, bahwa seluruh galaksi yang telah dibuktikan sebagai bintang-bintang, semuanya dinamakan dengan langit bawah.”
Sementara pemahaman ilmuwan kontemporer mengemukakan, pembagian atmosfer menjadi tujuh lapis didasarkan pada perbedaan kandungan kimia dan suhu udara. Ketujuh lapisan itu ialah troposfer, stratosfer, lapisan-lapisan mesosfer, thermosfer, exosfer, lonosfer, dan magnetosfer. Pemahaman ini agaknya mirip dengan klaim di atas itu.
Ada juga pendapat yang memahaminya berbeda, tujuh langit yang dimaksud dalam ayat bukan sebagai lapisan fisik. Tapi lapisan dimensi sebagaimana terdapat dalam buku Terpesona di Sidratul Muntaha, karya Agus Mustofa. “Jika langit pertama yang kita tempati berdimensi tiga, maka langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya adalah alam berdimensi empat, lima, enam dan seterusnya”. Lanjutnya.
***
Pemahaman versi ini mengatakan bahwa manusia hidup di langit dimensi tiga, jin hidup di alam langit dimensi empat, kemudian arwah orang awam hidup di alam langit dimensi lima, arwah para aulia, syuhada, malaikat, dan para Nabi hidup di alam langit dimensi yang lebih tinggi, tergantung kedudukannya.
Selaras dengan apa yang disinggung di atas ini adalah pendapat Hetherington dalam jurnalnya yang berjudul, Historical, Philosophical, and Scientific Foundations of Modern Cosmology, ia menyatakan, tujuh langit atau tujuh lapisan langit adalah sebuah istilah alam kosmologi religus atau mitologis yang mengacu kepada tujuh lapisan atau bagian langit. Kemudian menurutnya, gagasan semacam ini terdapat di dalam agama-agama Mesopotamia kuno, agama Yahudi, Kristen, dan Islam.
Gagasan serupa juga terdapat di dalam agama-agama lain, misalnya Hindu. Beberapa agama, antara lain agama Jaina, juga memiliki gagasan tujuh petala bumi atau tujuh petala neraka, yang dipercaya memiliki alam gaib dan benda-benda langitnya masing-masing, misalnya bintang-bintang siarah dan bintang-bintang sejati.
Bagaimanapun, kalimat “tujuh langit” di dalam banyak ayat Al-Quran hingga kini menjadi misteri. Apa yang disuguhkan dalam tulisan pendek ini, hanya sekedar menyajikan simpulan kecil dari pendapat yang ada. Adapun kebenarannya, hanya Allah-lah yang Maha Tahu. Semoga bermanfaat.
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply