Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

QS. An-Nahl [16]: 43: Haruskah Menjadi Orang yang Kepo?

Sumber: https://www.updatebanget.com/

Ada banyak isu terkini yang trending di jagat media sosial dan website berita. Mulai dari isu dunia hiburan, kehidupan pribadi selebriti, dunia politik, influencer dan selebriti media sosial, perseteruan selebriti, dan lain sebagainya. Dengan adanya fenomena-fenomena seperti ini, jelas dapat memicu perilaku “kepo” yang berujung gosip. Dan kegiatan gosip itu sendiri, sebut saja seperti medsos stalking, gosip dan drama online, penyelidikan sosial media yang ekstensif, sensasi viral; bahkan sampai kepada memviralkan kehidupan pribadi.

Rasa penasaran memang sesuatu yang manusiawi, namun penting untuk menjaga batasan privasi dan menghormati privasi orang lain. Terlalu kepo terhadap fenomena-fenomenta seperti di atas, bukan tidak mungkin dapat merusak hubungan dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Jadi sangat perlu untuk diingat, bagi penerima berita hendaknya menyadari bahwa sesuatu yang berbau gosip seringkali bersifat subjektif serta bisa saja menyajikan informasi yang tidak valid. Namun, tidak bisa juga dipungkiri, ada pula kepo yang konstruktif dan positif.

Kepo yang Bagaimana Dulu, Nih?

Perilaku “kepo” tidak selalu bermakna negatif, sebab ada “kepo” yang justru diharuskan. Asalkan pandai membatasi ruang agar tetap dalam kewajaran, pandai memilah memilih, dan pandai memastikan bahwa kepo yang dilakukan memiliki dampak positif dan konstruktif bagi diri sendiri maupun orang lain. Pertama, kepo yang dapat memperluas wawasan dan pemahaman. Kedua, kepo yang dapat membuat diri sendiri belajar dari pengalaman orang lain seperti hobi, perjalanan, atau pencapaian mereka. Ketiga, kepo yang memicu diri sendiri memahami isu sosial. Keempat, kepo dari segi kesehatan jasmani dan ruhani (mental), sehingga menjadi orang yang sehat. Kelima, kepo dalam bentuk mengikuti berita dan informasi terkini agar menjaga diri untuk tetap up-to-date; mengikuti perkembangan dan menjadi bagian dari obrolan yang relevan sehingga meluaskan wawasan, dan masih banyak lagi contoh-contoh kepo positif lainnya.

Baca Juga  Tingkatan dan Bahaya Perbuatan Syirik

Jika disimpulkan dalam satu tema besarnya dari contoh-contoh kepo positif di atas, maka dapat kita pahami bahwa kepo yang konstruktif lagi positif tersebut adalah kepo terhadap “ilmu pengetahuan”.

QS. An-Nahl [16]: 43 Sebagai Landasan Kepo Ilmu

Sejumlah hadis dalam sejarahnya mencatat tentang para sahabat wanita Rasulullah yang rakus dan kepo terhadap ilmu yang kemudian menjelma menjadi wanita berilmu. Satu di antaranya adalah Sayyidah Ummu Hummaid al-Anshariyah istri dari Abu Humaid as-Sa’idi. Suatu riwayat dari Abdul Humaid bin al-Mundzir bin Abi Humaid as-Sa’idi, dari ayahnya, dari neneknya Ummu Hummaid, bahwa ia bercerita, saya berkata,”Wahai Rasulullah, para suami kami melarang kami shalat bersamamu padahal kami ingin shalat bersamamu.”

Rasulullah saw. menjawab, “Shalatmu di ruanganmu adalah lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu adalah lebih baik daripada shalatmu di rumahmu. Dan shalatmu di rumahmu adalah lebih baik daripada shalatmu dalam jama’ah.”

Kemudian Ummu Hummaid memerintahkan untuk membangun masjid untuknya di rumahnya yang paling jauh dan paling gelap di rumahnya, dan ia pun shalat di ruangan itu hingga menghadap Allah Swt.

Demikian petunjuk Nabi yang kita dapati karena pertanyaan Ummu Hummaid. Ia bertanya tentang apa yang membuat Tuhannya rida meskipun ia ingin shalat berjamaah bersama Rasulullah. Tapi ketika mengetahui bahwa Allah lebih rida jika ia shalat di rumah, maka ia memilih rida Tuhannya. Begitulah kisah singkat seorang wanita dalam sejarah Islam yang menanyakan sesuatu sehingga memperoleh pengetahuan.

***

Sebagai landasan, Allah Swt. juga berfirman;

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Baca Juga  Aturan dan Rukun Jual Beli yang Wajib Dipenuhi dalam Islam

Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Qs. An-Nahl [16]: 43)

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi seorang mudarris tafsir di Masjid Nabawi dalam Aisarut Tafsir menjelaskan makna kata فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ : “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan.” Sedangkan makna ayatnya adalah tentang perintah kepada kaum musyrikin untuk bertanya kepada ahli az-Zikr yakni Ahlul Kitab dari kalangan Nasrani dan Yahudi bahwa Allah Swt. telah mengutus para rasul dari golongan manusia. Ayat ini dimaksudkan suatu keharusan untuk menanyakan suatu kebenaran kepada para Ahlul Ilmi. Penjelasan ini juga sejalan dengan apa yang dijelaskan Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya berikut dengan tafsir Kementrian Agama RI bahwa ayat ini jelas menerangkan tentang perintah bertanya bagi orang yang ragu akan kebenaran kapada ahlinya.

Abdullah bin Abbas melalui Abu Ruq dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azim menjelaskan tentang sosok manusia (Nabi Muhammad saw.)  yang di utus Allah Swt. sebagai utusan-Nya dengan keyakinan tanpa keraguan atau penolakan. “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” dalam hal ini yang dimaksud adalah Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani (Kitab Injil dan Kitab Taurat).

***

Jadi, dapat ditarik benang merahnya, ayat ini menjadi landasan tentang kepo terhadap ilmu pengetahuan merupakan tindakan penting. Menurut hemat penulis, kepo terhadap ilmu pengetahuan ini bukan sembarang pengetahuan yang tidak jelas dari mana asalnya. Ayat ini memberikan arahannya bahwa untuk mencari ilmu pengetahuan harus merujuk dan bertanya kepada ahlinya atau pakarnya, dengan kata lain bersumber dari sumber terpercaya yang bisa dipertanggungjawabkan. Wallahu a’lam.

Editor: An-Najmi

Baca Juga  Ramadhan, Bulan Penuh Ampunan