Selamat datang bulan Ramadhan dengan ampunan Tuhan!
Allah swt mewajibkan salat pada tahun ke-11 kenabian, zakat pada tahun ke 14 kenabian, dan Puasa Ramadhan setelah zakat.
Allah swt berfirman dalam Al-Quran,
“Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda kebesaran Kami. Kami hapus tanda malam dan Kami jadikan tanda siang terang benderang, supaya kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui jumlah dan bilangan perhitungan tahun. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan sejelas-jelasnya”. (QS Al-Isra`/17:12).
Ayat tersebut menjadi dasar penetapan permulaan dan akhir bulan Ramadhan dengan perhitungan posisi hilal.
Berpuasa dengan Penuh Kesungguhan
Orang-orang beriman melaksanakan perintah-perintah Allah swt sepenuh hati, tanpa tawar-menawar lagi.
“Tidaklah semestinya bagi seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, bila Allah dan Rasul-Nya telah menentukan suatu keputusan,mereka akan memilih yang lain dalam keputusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia tersesat sekali“. (QS Al-Ahzab/33:36)
Allah swt memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk beribadah kepada Allah swt dengan penuh ketulusan hati.
“Mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus lagi benar“. (QS Al-Bayyinah/98:5)
Ayat-ayat Al-Quran tentang pelaksanaan puasa Ramadhan adalah sebagai berikut.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“. (QS Al-Baqarah/2:183).
Orang beriman diwajibkan berpuasa. Sebagaimana telah diwajibkan kepada umat terdahulu tidak berarti puasa dalam Islam sama dengan ketentuan-ketentuan puasa sebelumnya, seperti jumlah hari, waktu, dan caranya. Itu menjelaskan bahwa puasa bukan hal baru, dan telah membuahkan kemaslahatan dan ketakwaan, serta membesarkan hati orang-orang beriman untuk berpuasa pada masanya.
Mukmin yang sehat wal afiat niscaya menunaikan puasa. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan boleh tidak berpuasa, dan menggantinya pada hari-hari lain di bulan-bulan berikutnya. Wanita yang datang bulan dan nifas tidak berpuasa, tetapi mengganti pada hari-hari di bulan yang lain, baik secara berturut-turut maupun tidak. Wanita diperintahkan mengqadha puasa, tetapi tidak mengqadha shalat.
Bagi orang yang lanjut usia, sakit berat menahun, perempuan hamil maupun menyusui boleh membayar fidyah sebagai ganti puasanya dengan memberi makan satu mud (0,6 kg beras/Rp 10.000,-) kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa.
Puasa dalam Islam tidak berarti untuk menyiksa diri. Sekalipun itu lebih ketat daripada puasa-puasa yang lain, ia juga memberikan keringanan-keringanan dalam hal-hal tertentu. Naluri makan, minum, dan pemenuhan keperluan biologis kuat sekali dalam korat hewani. Dengan menahan untuk sementara waktu dari semua itu, perhatian akan dapat diarahkan pada nilai-nilai yang lebih luhur. Hal ini penting dilakukan melalui shalat, zikir, dan amal sedekah.
Amal sedekah bukan untuk pamer, tetapi orang yang berpuasa keluar mencari mereka yang memang benar-benar memerlukan. Meskipun sudah diwajibkan dengan ukuran-ukuran tertentu, namun mengeluarkan sedekah melebihi ukuran itu pun juga dianjurkan.
Membaca ayat ini diteruskan dengan ayat-ayat berikutnya, yakni 185-188, supaya peristiwa-peristiwa yang mengenai puasa fisik dan hubungannya dengan pengertian rohani sepenuhnya dimengerti.
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil. Karena itu, siapa yang di antara kamu berada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan dia tidak berpuasa, maka wajib menggantinya, sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”. (QS Al-Baqarah/2:185).
Al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia, juga penjelasan mengenai petunjuk itu, dan penilai atau pembeda antara yang hak dengan yang batil, kriteria atau ukuran yang dengan itu orang dapat menilai antara yang baik dan yang buruk. Wahyu Allah sebagai pernyataan kehendak-Nya, adalah ukuran yang sesungguhnya mengenai yang benar dan yang salah.
Peraturan-peraturan itu sekali lagi dirangkaikan dengan adanya dua hal penting. Pertama, memberi kemudahan dan kesempatan. Kedua, pentingnya arti puasa dari segi rohani. Tanpa itu puasa seperti tempurung kosong belaka tanpa isi. Dengan menghayati ini, mukmin akan melihat puasa Ramadhan itu bukan sebagai beban, melainkan suatu rahmat. Mukmin niscaya bersyukur atas bimbingan yang telah diberikan dalam hal ini.
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran“. (QS Al-Baqarah/2:186).
Ayat ini menjelaskan tentang dekatnya Tuhan kepada orang-orang beriman dan mengisyaratkan Ramadhan sebagai saat yang baik untuk memanjatkan doa dan permohonan kepada-Nya. Oleh sebab itu manusia niscaya memenuhi perintah Tuhan, supaya memperoleh kebenaran.
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai datang malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa”. (QS Al-Baqarah/2:187).
Laki-laki dan perempuan menjadi pakaian satu sama lain. Mereka saling menopang, saling menghibur, dan saling melindungi. Masing-masing menyesuaian diri satu sama lain, seperti pakaian yang disesuaikan dengan badan. Pakaian juga untuk menghias diri dan menutupi. Di sini masalah seks disebutkan dengan jelas, terbuka, dan sopan. Naluri seks adalah sejajar dengan naluri makan dan minum. Hal itu suatu kodrat hewani yang mesti dikendalikan. Selama berpuasa pada siang hari ketiga hal itu terlarang dilakukan. Sesudah berbuka diizinkan kembali sampai akhir malam hari.
Puasa ditunaikan sejak fajar subuh hingga terbenam matahari. Pada malam hari mukmin menunaikan salat malam yang dikenal sengan sebutan shalat tarawih. Ada yang menunaikannya bakda shalat isya, ada yang tengah malam, dan ada yang di akhir malam. Ada yang menuniakannya 11 rakaat dan ada yang 23 rakaat. Sebagian besar mereka shalat berjamaah di masjid-masjid.
Sebagian waktu di bulan Ramadhan digunakan untuk bekerja dan beraktivitas seperti biasa, sebagian untuk berdzikir, tadarus dan mengkaji Al-Quran, dan untuk amalan lainnya. Pada waktu malam mukmin dianjurkan beriktikaf di masjid, terutama pada menjelang akhir Ramadhan. Mukmin niscaya memperhatikan semua ketentuan tentang puasa Ramadhan itu.
“Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui“. (QS Al-Baqarah/2:188).
Di samping tiga hajat jasmani manusia yang pokok yang berakibat manusia menjadi serakah, yakni makan, minum dan hubungan seksual, ada sifat keserakahan keempat dalam masyarakat, yakni serakah terhadap harta dan kekayaan. Tujuan puasa tidak lengkap sebelum sifat keserakahan yang keempat ini juga ditahan.
Orang biasa yang baik-baik sudah akan merasa puas bila dapat menahan diri dari tidak mencuri, merampok atau menipu.
Memakan harta di antara sesama secara tidak sah dapat berarti memakan harta milik masyarakat. Satu macam lagi bentuk keserakahan yang halus disebutkan di sini, yaitu mempergunakan hartanya untuk menyuap orang lain — para hakim atau mereka yang berkuasa — sedemikian rupa, untuk memperoleh keuntungan materi, sekalipun dengan cara terselubung, dan di bawah perlindungan hukum.
Harta kekayaan itu mempunyai tanggung jawabnya sendiri. Kalau orang-orang beriman tidak berhasil memahami atau mematuhi semua itu, mereka belum dapat menyerap sepenuhnya pelajaran mengorbankan kepentingan sendiri dengan berpuasa itu.
Berkenaan dengan syariat puasa ini, Rasulullah saw bersabda, “Islam itu dibina di atas lima pilar: Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” (Muttafaq Alaih).
Rasulullah saw bersabda, “Puasalah karena melihat bulan, dan berbukalah karena melihatnya. Apabila penglihatanmu terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Syaban 30 hari.” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. (Rawahu al-khamsah).
Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan atas dasar iman dan pengharapan, maka dosa-dosanya terdahulu diampuni oleh Allah swt.”
Di antara doa-doa yang banyak dibaca Rasulullah saw di bulan Ramadhan,
“Asyhadu alla ilaha illallah, astaghfirullah, as`alukal jannata wa audzubika minannar — Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah; aku memohon ampun kepada Allah; aku memohon surga, dan aku mohon perlindungan dari azab api neraka.”
“Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fafu anni — Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf, mencintai kemaafan, maka ampunilah aku.”
Puasa dengan qiyamullail, itikaf, dan shadaqah membuahkan ketaatan, kesungguhan beribadah, ikhlas, tobat, muraqabatullah, khauf, raja`, dan ridha.
Inti puasa tazkiyatun nafsi, membersihkan jiwa dari kekotoran, menjernihkan kalbu dari kekeruhan, dan menyiapkan diri menuju kesempurnaan insani.
Pengaruh puasa berbeda-beda menurut kadar kesungguhan dan kejujuran seseorang dalam menghadap Allah swt dan menangkap pesan Rasulullah saw.
Tiga peringkat puasa (juga shalat, zakat, haji, ilmu, iman, amal, akhlak) menurut Imam Al-Ghazali: awam, khawash, khawashul khawash.
Puasa awam: menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Puasa khawash: menahan diri sebagaimana puasa awam plus amalan utama. Puasa khawashul khawash ialah puasa para nabi dan orang-orang shaleh.
“Sebaik-baik amalan menyongsong Ramadhan ialah memperbanyak istighfar. Sebab, dosa menghalangi taufiq Allah untuk ketaatan.” (Mukhtar As-Syinqiti).
“Siapa yang menghiasi diri dengan banyak istighfar, Allah swt akan memudahkan rezeki dan urusan serta menguatkan jiwa dan raga.” (Ibnu Katsir).
“Isilah doamu dengan permohonan maaf dan ampunan kepada Allah, niscaya keperluanmu dipenuhi tanpa engkau memintanya.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah).
Ya Tuhan, anugerahilah kami rahmat dari hadirat-Mu dan berikanlah kepada kami dalam perkara kami jalan yang benar. (QS Al-Kahfi/18:10)


























Leave a Reply