Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hadis Andalus: Wacana Perkembangan Hadis di Wilayah Periferal Islam

hadis andalus
Sumber: https://shopee.co.id

Hadis sebagai wahyu kedua secara struktural selalu memiliki tempat yang istimewa dalam perkembangan studi Islam sampai saat ini. Tidak sedikit forum diskusi, konferensi ilmiah, ataupun penelitian kolaboratif yang menjadikan hadis sebagai objek utama kajiannya. Hal itu semakin memantapkan salah satu peran hadis sebagai wasilah untuk merekonstruksi ulang sejarah Islam awal dan kondisi sosial masyarakat ketika itu. Terlebih saat ini, tren studi kawasan mulai gencar dipilih sebagai kacamata dalam membaca perkembangan hadis di wilayah tertentu. Termasuk hadis di kawasan Andalus.

Salah satu peran hadis yang sering terlewat dari fokus para sarjanawan –khususnya mereka yang memiliki ketertarikan lebih dalam studi hadis– itulah yang memantapkan Akmaluddin untuk melakukan penelitian hadis Andalus. Dipilihnya Andalus sendiri sebagai fokus analisisnya menjadi suatu hal yang menarik. Pasalnya perkembangan studi hadis, khususnya dalam domain studi kawasan sejauh ini masih dihegemoni oleh kajian terhadap wilayah Timur atau pusat Islam; jarang sekali menyentuh wilayah periferal Islam atau daerah taklukan di wilayah Barat secara intens dan serius.

Namun, sebelum jauh mendiskusikan karya ini pada bagian berikutnya. Perlu diketahui bahwa buku yang merupakan hasil disertasi Akmaluddin; saat menempuh pendidikan Pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memberikan sebuah pertanyaan besar bagi para pembacanya di awal. Bukan tentang proses bagaimana cara memahami hadis yang monoton dan itu-itu saja, melainkan pertanyaan yang menggugah kesadaran kita sebagai pemikir–cum–peneliti. Yaitu, apakah perkembangan hadis pada abad II-III H di wilayah periferal Islam mengikuti tren perkembangan hadis di pusat Islam?

Baca Juga  Mengenal Tafsir Al-Jilani yang Bercorak Isyari
***

Untuk menjawabnya, Akmaluddin melakukan analisis secara komprehensif terhadap beberapa dokumen historis berupa kitab turāṡ yang (diduga) merekam perkembangan kajian hadis di Andalus pada periode awal tersebut sebagai sumber primer. Di samping itu, Ia juga mempertimbangkan beberapa hasil kajian peneliti sebelumnya sebagai sumber sekunder. Nantinya, hasil analisis dan temuannya terhadap apa yang tersembunyi di balik debu sejarah dalam wilayah dan periode tertentu itu Ia uraikan dalam enam bab utama secara sistematis dan runtut dalam buku ini.

Masuknya Mazhab Maliki dan Pengaruhnya terhadap Kajian Hadis Andalus

Dalam deretan panjang sejarah Islam awal, khususnya pada periode abad ke II-III H berdiri dua dinasti besar Islam yang saling memperebutkan pengaruh politik di masing-masing wilayah kekuasaannya. Dinasti Abbasiyah di Timur yang menjadikan Baghdad sebagai pusat peradabannya menyebabkan beberapa wilayah di sekelilingnya harus menerima rekonsiliasi politik. Kondisi itu meniscayakan orang-orang Andalus Umayyah untuk memilih mencari ilmu ke Baghdad dan wilayah yang menerima rekonsiliasi dari Abbasiyah atau pergi ke wilayah lainnya yang dianggap ‘netral’.

Pasalnya, tingginya tingkat rivalitas antara kedua dinasti itu tidak hanya menjadikan persaingan antara Timur dan Barat menyentuh aspek politiknya saja. Tetapi juga menyeret aspek lainnya sebagai respon gap yang begitu jauh antara Timur dan Barat, seperti persaingan pengetahuan, budaya, dan tradisi (hal. 9). Selanjutnya, Akmaluddin menerangkan bahwa dipilihnya Madinah sebagai sumber keilmuan Andalus karena dasar pertimbangan bahwa Madinah dengan basis Mazhab Maliki-nya tidak terpengaruh rekonsiliasi penggunaan Mazhab Hanafi sebagai mazhab resmi di sana.

Kemudian jika bercermin kepada kondisi politik yang stabil pada Dinasti Abbasiyah, masuknya Mazhab Maliki di Andalus sebenarnya menjadi ‘pelicin’ bagi para pemimpin Umayyah untuk menciptakan kestabilan politik di sana. Bagaimana tidak, Mazhab Maliki dengan Muwaṭṭo’ Mālik-nya dipercaya lebih otoritatif dalam menjawab problematika umat yang mucul karena menginterpretasikan kehidupan Nabi Muhammad beserta penduduk Madinah saat itu. Sehingga nantinya, reproduksi opini mālikiyah yang berbau fiqih begitu kuat mempengaruhi perkembangan hadis.

Baca Juga  Review Buku: Al-Laun At-Tarbawi fi At-Tafsir Al-Madrasi

Bahkan, corak tersebut melahirkan model kajian yang berbeda antara Timur dan Barat. Jika di Timur, kajian Hadis banyak berangkat dari analisis keotentikan terlebih dahulu dengan kitab Shāhīh Bukhārī sebagai rujukan utama beserta ilmu alat yang menyertainya, maka di Barat (Andalus) kajian hadis justru melompat jauh kepada model pemahaman terhadap kitab Muwaṭṭo’ Mālik. Sehingga, banyak karya yang Akmaluddin potret di buku ini berbentuk kitab-kitab syarah. Sehingga dapat dipahami bahwa perkembangan hadis saat itu masih di bawah bayang-bayang pengaruh fiqih.

Abbasiyah vis-à-vis Umayyah: dari Politik sampai Ortodoksi Pengetahuan

Lebih lanjut, perbedaan sumber pengetahuan yang tergambarkan pada bagian sebelumnya menunjukan adanya sebuah perebutan otoritas keilmuan sebagai usaha mempertahankan eksistensi politik. Terlebih dalam perjalanannya nanti, para fuqāha dan ‘amīr di Andalus menginisiasi pelarangan bagi perkembangan kajian hadis selain Muwaṭṭo’ dan melakukan sensor pengetahuan terhadap ulama yang menyebarkan pengetahuan hadis non-Maliki. Hal ini secara tidak langsung menjadi embrio bagi terciptanya ortodoksi pengetahuan yang destruktif bagi perkembangan hadis.

Sebab, hadis yang idealnya dapat berkembang lebih pesat dengan variasi karya yang melimpah sebagai sumber pengetahuan justru dibatasi hanya pada karya yang berafiliasi pada salah satu golongan tertentu saja karena kondisi politik dan ego rivalitas yang tinggi.

Salah satu contoh nyata yang Akmaluddin gunakan dalam bukunya ini untuk menggambarkan adanya ortodoksi pengetahuan hadis yang terjadi di Andalus adalah bagaimana kuatnya penolakan dari tokoh Mālikī dari golongan fuqāha dan ‘amīr terhadap Bāqi bin Makhlad yang berusaha mengenalkan kitab hadis selain Muwaṭṭo’ di bumi Andalus. Sehingga apa yang Bāqi sampaikan itu dituduh menyimpang, heterodoks dan dianggap sebagai diskursus liyan. Tentu saja hal ituberimbas pada genealogi (peta jaringan penyebaran) dan transmisi pengetahuan hadis di Andalus.

Baca Juga  Materialisme Juga Menyimpan Nilai-Nilai Spiritualitas
***

Lebih lanjut, Akmaluddin pada bagian berikutnya juga menggarisbawahi bahwa dominasi yang tercipta di salah satu wilayah periferal Islam, Andalus, sebenarnya merupakan ‘perlawanan’ atas dominasi dan ortodoksi yang telah lebih dahulu terbentuk dari ulama Timur dengan kitab Shāhīh Bukhārī-nya (hal 250). Selain itu, di wilayah yang kondisi politiknya belum stabil dan rawan konflik layaknya Andalus, kebutuhan legitimasi hukum dan yurisdiksi melalui mazhab yang otoritatif dan dapat menarik animo masyarakat sangat perlu didahulukan.

Bahkan, Fakta bahwa Abbasiyah di Timur yang saat itu telah mencapai puncak kejayaan dalam keilmuan agama tidak menjadikan peradaban Umayyah di Andalus berkiblat ke sana. Akhirnya, melalui diskusi yang hidup dalam menggambarkan perkembangan hadis Andalus pada abad II-III H, buku ini sangat direkomendasikan kepada para sarjanawan hadis yang memiliki ketertarikan lebih pada domain studi kawasan karena mengangkat topik yang jarang ditemukan dalam berbagai buku ilmiah ataupun hasil penelitian dalam objek kajian hadis. Wallahu a’lam.