Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Peran Dzikir dalam Menjaga Kesehatan Mental dan Kebahagiaan Hidup

Kebahagiaan Hidup
Gambar: https://www.idntimes.com/

Arus globalisasi membawa manusia pada tatanan kehidupan yang lebih terbuka dan bebas. Tatanan ini mendatangkan beberapa dampak negatif, contohnya permasalah yang dihadapi manusia menjadi lebih kompleks. Permasalah pasti selalu ada selama manusia hidup, tetapi tingkat kompleksitasnya pasti berbeda dan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal individu.

Kesehatan Mental Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan Hidup

Kebahagian merupakan hal yang subjektif, sehingga ukurannya tidak dapat disama ratakan antar individu. Namun, semua orang pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidup. Maka dari itu, kesehatan mental sebagai salah satu hambatan dalam mencapai kebahagiaan hidup harus ditangani dengan benar. Individu dengan mental yang sehat akan senantiasa merasa bahagia dan aman, karena mental yang sehat akan mengontrol dan membangun pemikiran yang positif.

Kebahagiaan hidup dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah tingkat pemahaman terhadap agama (spiritualitas). Agama islam sebagai agama yang menjamin kebahagiaan pemeluknya, menawarkan dzikir sebagai alternatif dalam menghadapi permasalahan hati dan menghilangkan perasaan tidak tenang. Momen saat berdzikir dapat membantu manusia mengingat penciptanya dan memperoleh ketenangan jiwa. Adapun anjuran melakukan dzikir tertera dalam Al-Qur’an dan hadis.

Dzikir

Dzikir didefinisikan sebagai kesadaran yang menghadapkan seorang hamba dengan penciptanya. Dalam Islam, dzikir digolongkan sebagai salah satu ibadah dimana, seorang hamba akan menyebut nama Tuhannya secara berulang-ulang dengan penuh pengagungan. Kegiatan ini dapat membangun kesadaran tersendiri dalam benak seseorang. Tingkat kesadaran ini dipengaruhi oleh seberapa sering seseorang melakukan aktivitas dzikir.

Pertama,niat, yaitu kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu. Niat dapat dibangun dari dalam diri, seperti karena ingin mendapatkan kasih sayang atau pengampunan dari Allah SWT., atau dorongan dari luar, seperti ingin dipuji orang atau karena ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Sejauh ini, kemauan dari dalam diri menghasilkan aktivitas dzikir yang lebih berkualitas dan tahan lama dibandingkan dorongan dari luar.

Baca Juga  Dua Cara Efektif dalam Mendidik Anak Menurut Al-Quran

Kedua, taqarrub, yaitu perasaan lebih dekat pada Sang Pencipta. Ketika telah melaksanakan ibadah dzikir, seseorang akan melaksanakan keberadaan taqorrub secara perlahan-lahan. Taqorrub membuat seseorang mau berserah diri sepenuhnya pada Tuhan, sehingga semua masalah, kegundahan, dan kebingungan akan dihilang dan tergantikan oleh perasaan optimis dan kedamaian.

Ketiga, tadarru, yaitu perasaan rendah hati. Setelah merasa lebih dekat dengan sang pencipta, seorang akan merasakan rendah hati dihadapan Tuhan. Rendah hati tidak sama dengan perasaan tidak berguna, melainkan hanya merasa kehilangan sesuatu yang bisa membuat mereka sombong dihadapan Tuhannya.

Perasaan Bertemu Allah

Keempat, liqa’, yaitu perasaan bertemu Allah SWT. Jika aspek taqarrub membuat seseorang dekat dengan Sang Pencipta, liqa’ membuat seseorang merasa dipertemukan dengan Sang Pencipta. Ini artinya aspek liqa’ lebih tinggi dibandingkan aspek taqarrub.

Kelima, ihsan, yaitu perasaan melihat dan dilihat oleh Allah SWT. Ihsan adalah asal dari tasawuf dan hanya muncul pada saat seseorang telah mendapatkan pemahaman yang tinggi terhadap dzikir. Munculnya Ihsan dalam diri seseorang membuat seseorang takut untuk melakukan sesuatu yang Allah tidak sukai, sehingga akan berhati-hati dalam bertindak.

Keenam, khauf, yaitu perasaan takut. Aspek ini dapat dipandang sebagai perwujudan dari aspek tadharru. Khauf merupakan aspek yang penting untuk mengukur tingkat pemahaman seseorang terhadap aktivitas dzikir secara nyata. Ketika seseorang tidak benar-benar berdzikir dengan hatinya, aspek ini tidak akan tampak pada diri orang tersebut.

Ketujuh, tawadhu’, yaitu perasaan rendah diri dihadapan Allah SWT. Aspek tawadhu’ didapatkan ketika seseorang sampai pada tahap refleksi diri dan sadar akan kebesaran Allah. Tawadhu’ dapat dijadikan sebagai ukuran paling tinggi dari pemahaman dzikir seseorang.

Peran Dzikir dalam Menjaga Kesehatan Mental

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa aktivitas dzikir dapat membawa pelakunya untuk lebih dekat dengan pencipta alam semesta, Allah SWT. membiasakan diri untuk berdzikir dapat menumbuhkan rasa cinta atau kerelaan menerima ketetapan Allah SWT. Sikap ini akhirnya akan membawa perasaan yang tentram dan damai kedalam diri manusia. Keseimbangan kondisi spiritual, sosial, psikis, dan fisik dapat digunakan untuk mengetahui kesehatan mental seseorang.

Baca Juga  Yusuf Qardhawi dan Kritik Hadits Perpecahan Umat

Gangguan kesehatan mental sering kali muncul pada orang-orang yang tidak kuat dan mudah menyerah dalam menghadapi permasalahan yang menimpanya. Terdapat beberapa petunjuk yang dapat dijadikan acuan untuk menilai kesehatan mental seseorang, seperti tidak memiliki gangguan psikologis, dan mampu beradaptasi pada lingkungan.

Dzikir berperan dalam mencegah ataupun mengatasi masalah kesehatan mental, salah satunya dengan melakukan terapi dzikir. Terapi dzikir dilakukan untuk membangun alam bawah sadar di memori individu, sehingga individu dapat mengatasi perasaan cemas, dan tidak tenang. Semua ini telah dijelaskan dalam Q.S Ar-Ra’d ayat 28 dan Q.S Al-Ahzab ayat 41-42. Para sufi umumnya melakukan terapi dzikir dimulai dari mempengaruhi pikiran dengan cara meditasi. Kemudian, ketika individu terapis telah melalui tahap ini, dilakukan teknik penyadaran dimana ahli sufi akan menyatukan dan memusatkan perasaan, sensasi, dan pikiran terapis.

Menjaga Kebahagiaan Hidup dengan Dzikir

Menjalani kehidupan dengan positif dapat membuat hidup menjadi lebih bermakna dan bahagia. Bahagia adalah kondisi dimana individu merasa tentram dan senang dalam hati dan pikirannya, sehingga mampu meningkatkan fungsi raganya. Lawan dari kebahagiaan adalah kesedihan. Ketika seseorang sedih, maka perkembangan individu dapat terganggu. Kebahagiaan dapat hilang atau berkurang keberadaannya dari dalam diri seseorang, maka dari itu kebahagiaan perlu dijaga.

Melakukan aktivitas dzikir dapat menjaga kebahagiaan dalam diri seseorang, seperti mengucap syukur dan pujian-pujian pada Allah SWT. anjuran ini terdapat dalam Q.S Al-Jumu’ah ayat 10. Dan pada beberapa studi tentang kebahagiaan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan keagamaan memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan individu dan sekitarnya.

Dzikir membantu seseorang untuk selalu mengingat dan berserah diri pada Sang Pencipta dalam kondisi apapun. Sikap berserah diri dan menerima semua ketetapan Allah dengan lapang dada dapat memunculkan dan mengembangkan perasaan dan sikap yang positif, sehingga kebahagiaan dapat selalu terjaga. Kebahagiaan juga sering dihubungkan dengan kesehatan mental. Hanya dengan keadaan mental yang sehat, individu dapat merasakan kebahagiaan sekaligus membahagiakan orang-orang sekitarnya.

Baca Juga  Korelasi Surat Al-Fil dan Quraish dalam Kehidupan Bangsa

Penyunting: Bukhari