Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Yusuf Qardhawi dan Kritik Hadits Perpecahan Umat

Qardhawi
Sumber: inews.id

Persatuan sebagai sebuah komunitas yang harmonis adalah cita cita yang tetap dipertahankan umat Islam. Fenomena ikhtilaf dan perbedaan golongan mendorong setiap individu tersinggung dan melazimkan cacian dan hujatan. Setiap gagasan dan wacana telah dicetuskan oleh beberapa pemikir maupun gerakan islamis. Setiap ide kemudian pastinya menemui banyak rintangan, bahkan beberapa rintangan muncul dari sumber internal Islam sendiri. Salah satu dalil yang sering dilontarkan hingga mencegah terciptanya hubungan yang harmonis antar mazhab Islam adalah sebuah hadits yang berbunyi:

Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu -atau tujuh puluh dua golongan, dan Nasrani  akan terpecah menjadi tujuh puluh satu –atau tujuh puluh dua golongan. Sedangkan umatku  akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan“.

Hadits Perpecahan Umat

Banyak para ulama telah memberikan komentar terhadap hadits yang terlihat menihilkan semangat ukhuwah seperti ini. Akan tetapi sebagaimana yang sudah sudah, setiap pendapat tetap terikat kuat dengan latar belakang firqah. Bahkan beberapa syarah justru menggunakan hadits ini sebagai alat advokasi dan justifikasi bahwa golongan dan mazhabnya  sedang dimaksud. Hingga sampai pada tahap seakan akan hubungan yang harmonis antar mazhab adalah cita cita utopis yang naif. Dari sekian banyak komentar yang telah diterbitkan tentu ada satu pemahaman yang mencerahkan, Yusuf al Qardhawi menjawab dan menyampaikan kesahnya terkait dengan problem ini dengan memuatnya dalam beberapa karya beliau.

Qardhawi sebagai seorang ulama yang telah diakui oleh komunitas internasional, memberikan kritik kepada para ahli hadits kontemporer. Dalam kitabnya Tarikhuna al Mustara ‘alaih (تاريخنا المفترى عليه), beliau menyayangkan tersebarnya hadits ini sebagai konsumsi umat dan mengakibatkan membesarnya utopisme. Hadits ini dinilai dhaif, sekalipun banyak jalur yang menguatkan dengan makna yang sama. Derajatnya yang tidak sampai kepada shahih lah yang membuat Imam Bukhari dan Muslim tidak memasukannya ke dalam kedua kitab shahih mereka. Lebih jauh, beliau mengatakan bahwa dampak tersebarnya hadits ini juga mempengaruhi para muarikh dan penulisan sejarah Islam. Matannya yang menihilkan persatuan membuat penilaian subjektif dalam pencatatan takrik.

Baca Juga  Nabi Muhammad SAW: Tokoh Feminis Muslim Pertama

Dalam kitabnya yang lain, Ash Shahwah AlIslamiah: Bainal Ikhtilafil Masyru‘ wat Tafarruqil Madzmum, beliau menyebutkan bahwa ketika Imam Bukhari dan Muslim tidak mencantumkan hadits ini ke dalam magnum opus mereka, cukup menjadi dalil untuk mengkritik riwayat ini. Sangat benar bahwa ketika dikatakan Shahih Bukhari tidaklah memuat semua hadits shahih, tetapi kontra argumen ini belum cukup. Tema perpecahan dan persatuan adalah bab krusial, dan sangat mustahil Imam Bukhari melewatkannya untuk dimasukkan kedalam Shahih-nya.

Selain itu, Yusuf al Qardhawi juga mengkritik sebagian matan hadits. Hadits dari banyak jalur yang lain tidak menyebutkan bahwa golongan yang 72 tersebut masuk neraka, hanya menekankan bahwa adanya perpecahan dalam umat Muhammad. Hadits tanpa tambahan lafaz tersebut Imam at Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al Hakim.

سنن الترمذي ٢٥٦٤: حدثنا الحسين بن حريث أبو عمار حدثنا الفضل بن موسى عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرةأن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال تفرقت اليهود على إحدى وسبعين أو اثنتين وسبعين فرقة والنصارى مثل ذلك وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة

Sunan Tirmidzi 2564: Telah menceritakan kepada kami al Husain bin Huraits Abu Ammar telah menceritakan kepada kami al Fadhl bin Musa dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Sedangkan kaum Nashrani seperti itu juga. Dan umatku terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.”

Kritik Yusuf Qardhawi

Yusuf Qardhawi mengkritik salah satu rawi, Muhammad bin Amru  bin Alqamah  bin Waqqash  Al-Laitsi, sebagaimana Ibnu Hajar menyebutnya sebagai orang jujur tapi ada keraguan dalam periwayatannya. Dalam syurut hadits shahih, seorang rawi perlu adanya penilaian dhabit dari para ulama Jarh wa Ta’dil.

Baca Juga  Al-Ghazali Tidak Pernah Menyembalih Ayam Bertelur Emas

Syaikh Qardhawi juga menyebutkan sebagaimana mafhum oleh kalangan Muhaditsin bahwa Imam at Tirmidzi dan Ibnu Hibban adalah termasuk golongan mutasahil. Artinya mereka adalah kelompok ulama hadits yang memberikan syarat yang mudah dalam menshahihkan hadits dan riwayat yang dterima. Termasuk al Hakim adalah ulama yang dikenal memberikan syarat yang longgar dalam penerimaan hadits shahih.

Adapun riwayat dengan tambahan “semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan” menggunakan jalur beberapa shahabat Abdullah bin Amr, Mu’awiyah, dan Anas. Menurut beliau, banyak jalur tersebut semuanya lemah sekalipun dikuatkan jalur lainya karena memiliki konteks yang bertentangan.

Lafadz tekstualnya juga menimbulkan kerancuan dan bertentangan dengan nilai Islam. Matan hadits menyebutkan umat Islam lebih banyak terpecahnya dari pada dua agama samawi yang lain. Perpecahan ini akan justru bertambah berbahaya jika kita menerima lafadz “semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan”. Setiap firqah akan memupuk fanatisme golongannya lebih kuat daripada menyadari permusuhan dalam umat. Akhirnya umat Islam menjadi rapuh karena banyaknya permusuhan dan semangat buta terhadap golongannya sendiri.

Ibnul Wazir dalam al Awashim wa al Qawashim juga mengomentari hadits ini sembari menekankan kehati-hatian untuk menilai sesat dan kafir kepada ahl kiblat yang lain. Beliau mengatakan, bahwa tambahan lafadz tersebut adalah bertentangan dengan ajaran dan keutamaan Islam sebagai agama rahmat dan penyempurna risalah sebelumnya. Mengutip pendapat Ibnu Hazm, bahwa tambahan itu adalah maudhu’ termasuk juga semua riwayat yang memuat penghinaan terhadap mazhab dan kelompok lain adalah palsu.

Penutupnya, mengutip Syaikh Muhammad al Ghazali dalam as Sunnah an Nabawiyyah: Baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadits. Melihat seluruh ujian dan permusuhan dalam umat Islam sudah saatnya kita mencoba untuk memecahkan semua persoalan ini dengan cara yang bijaksana. Tidak jarang juga berbagai pendapat yang ekstrim dan terlalu lemah telah menutupi pandangan yang lurus dan lebih utama. Agaknya perlu bagi kaum muda yang sesumbar hanya karena meneguk beberapa kitab hadits, untuk mencoba merasakan “mata air” yang lain, sekalipun terasa pahit di lidah.

Baca Juga  Ketika Syekh Yusuf Qardhawi Bicara Seni

Editor: An-Najmi Fikri R