Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mencetak Generasi Tangguh: Telaah Surah An-Nisa Ayat 9

Generasi Tangguh
Gambar: https://id.pngtree.com/

Generasi lemah dalam Al-Quran disebut dengan dzurriyyatan dhi’afa. Dalam Al-Quran dan Tafsirnya (Departemen Agama RI, 122-123), dzurriyyatan dhi’afan berarti “keturunan yang serba lemah”. Baik lemah fisik, mental sosial, ekonomi, ilmu, pengetahuan, spiritual dan lain-lain. Lemah yang menyebabkan mereka tidak mampu menjalankan fungsi utama manusia, baik sebagai khalifah maupun sebagai makhluk-Nya yang harus beribadah kepada-Nya.

Tegasnya Allah berpesan kepada generasi yang tua agar jangan sampai membiarkan generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan sebagai generasi yang tak berdaya. Generasi yang tidak mengemban fungsi dan tanggung jawabnya. Upaya pemberdayaan generasi penerus terletak di pundak generasi sebelumnya, orang tua dan masyarakat.

Lafaz yang menyinggung generasi lemah terdapat dalam surah An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)-nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Generasi Lemah Vs Generasi Tangguh

Asbabun nuzul ayat ini dilatarbelakangi kisah Saad bin Abi Waqas yang hendak menyerahkan harta untuk diinfakkan. Maka Rasulullah bersabda, “Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada miskin yang meminta-minta kepada manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Tafsir Al-Misbah, surat an-Nisa ayat 9 merupakan pedoman bagi umat Islam agar memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya. Ayat ini merupakan peringatan bagi pemilik harta yang membagikan hartanya hingga anak-anaknya terbengkalai. Meski zahir ayat ini menerangkan aspek ekonomi, tetapi sesungguhnya pesan dari ayat ini berlaku untuk seluruh aspek. Tidak hanya peringatan agar tidak menghasilkan keturunan yang lemah dari aspek ekonomi saja.

Baca Juga  Tafsir Aktual: Landasan Al-Qur'an Menghadapi Krisis Pangan

Mia Muyasaroh dkk (2019: 91) dalam jurnal penelitiannya mengutip pendapat Imam Nawawi. Bahwa yang dimaksud dzurriyyatan dhi’afa (keturunan yang lemah) yang perlu dicemaskan yaitu jangan sampai meninggalkan keturunan atau generasi yang lemah dalam hal ekonomi (menyebabkan kemiskinan), ilmu pengetahuan, keagamaan (pemahaman/penguasaan) dan akhlaknya. Oleh karena itulah, makna lemah di sini berlaku pada banyak aspek.

Mencetak Generasi Tangguh

Ayat ini sarat dengan sentuhan parenting. Dalam ayat ini disebutkan kehati-hatian agar tidak meninggalkan generasi lemah. Artinya, memang kita diperintahkan untuk mencetak generasi yang tangguh.

Meskipun ayat ini berisikan peringatan. Namun sekaligus terdapat solusi yang diberikan agar kita semua dapat berhati-hati dan lebih fokus pada membentuk generasi tangguh. Ada dua tips yang tertera dalam ayat tersebut. Falyattaqullah (perintah kepada orang tua agar bertakwa), dan wa qulu qaulan sadida (perintah kepada orang tua agar berkomunikasi denhgan benar).

  • Pertama, penanaman ketakwaan

Diantara metode penanaman akidah anak adalah dimulai dari ketakwaan dan kesalehan orang tuanya.Perhatikan firman Allah berikut:

  وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah (yang ditegakkan Khidir) adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu. Di bawahnya ada harta benda simpanan  bagi mereka berdua. Ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang sholeh. Maka Rabb-mu menghendaki ketika mereka sampai pada masa kedewasaannya kemudian mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu”. (QS. Al Kahfi : 82).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, ayat tersebut adalah dalil bahwasanya orang tua yang saleh akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan mengalir kepada mereka di dunia dan akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir: 5/187)

Baca Juga  Kesadaran Moral, Potensi Dasar Manusia: Tafsir QS. Al-Syams Ayat 6-10

Bahkan berkah dari keshalihan itu tidak hanya diperoleh anak atau cucu. Al-Qurthubi sampai berpendapat bisa sampai jauh ke generasi setelahnya, bahkan bisa jadi kesalehan seseorang berkat kesalihan kakek buyutnya.

Itulah mengapa di dalam surat an-Nisa ayat 9 ini memerintahkan para orang tua untuk bertakwa. Sebab ketakwaan orang tua adalah diantara modal utama upaya mensalehkan anak, mencetak generasi tangguh sehingga dapat terhindar dari dhurriyyatan dhi’afa.

Memperbaiki Pola Komunikasi dengan Anak

Kedua, pentingnya cara berkomunikasi yang baik terhadap anak

Pentingnya tanggung jawab setiap orang tua pada anaknya tidak hanya bersifat materi, tapi juga immateri yang dalam konteks ayat ini dinyatakan berupa pendidikan dan pembinaan takwa.

Diantara cara mendidik yang perlu diperhatikan adalah cara berkomunikasi orang tua pada anak-anak. Salah satu cara komunikasi yang harus diterapkan setiap orang tua adalah qaulan sadida.

Syaikh Ali ash-Shabuni dalam tafsirnya Shafwah al-Tafasir juga mengutip pendapat Imam ath-Thabari bahwa maksud ‘Qaulan Sadidan’ ialah ucapan yang sesuai dengan kenyataan, benar dan tidak batil. Adapun dalam tafsir Jalalain, berkaitan asbabun nuzul, bahwa maksud perkataan yang benar (قولا سديدا) yakni menyuruhnya bersedekah kurang dari sepertiga dan memberikan selebihnya untuk para ahli waris hingga tidak membiarkan mereka dalam keadaan sengsara dan menderita.

Meski ayat ini mengambarkan peruntukan qaulan sadida bagi orang tua yang hendak memberikan wasiat agar berkata yang benar dalam berwasiat pada anak-anaknya, namun pesan komunikasi berupa qaulan sadida ini berlaku sepanjang pendidikan orang tua terhadap anak.

Orang tua dituntut untuk selalu berkata yang benar di hadapan anak, kisah wasiat di ayat ini menggambarkan orang tua yang menyalahi qaulan sadida, karena perkataannya menyalahi kebenaran dan bahkan dikatakan zhalim karena hendak mensedahkan seluruh harta dan tidak menyisakan untuk anaknya.

Baca Juga  Etika Konsumsi Al-Qur’an: Tafsir Surah Al-A’raf ayat 31

Saking pentingnya qaulan sadida dalam lingkungan pendidikan keluarga, sebisa mungkin setiap orang tua agar jangan sampai berucap sesuatu yang menyalahi kebenaran. Sebab penanaman qaulan sadida sebagai benih yang akan menghasilkan generasi yang jujur dan faqih serta tegas membela  kebenaran. Dalam sebuah hadis, sangat masyhur kita dengar, sampaikanlah kebenaran walaupun pahit. (Lihat HR. Ahmad, 5/159).

Membiasakan Perkataan yang Lembut

Tidak hanya قولا سديدا (perkataan yang benar), dalam ayat-ayat lainnya, cara komunikasi penting lainnya yang sepatutnya ditanamkan oleh kita, termasuk orang tua antara lain قولا معروفا (perkataan yang baik), قولا لينا (perkataan yang lembut), قولا كريما (perkataan yang mulia), قولا بليغا (perkataan yang mengenai sasaran), dan قولا ميسورا (perkataan yang mudah dimengerti).

Kesemua cara komunikasi ini bersifat satu kesatuan, maka hendaknya setiap orang tua selalu bertutur kata yang benar, baik, jelas, tegas, fasih, mudah dimengerti anak dan lemah lembut di depan anak-anaknya.

Demikian sekilas mengenai makna dzurriyyatan dhi’afa (keturunan lemah) yang telah diwanti-wanti alquran sejak berabad-abad lamanya. Maka pendidikan pun hadir sebagai upaya preventif dari terlahirnya generasi lemah (dzurriyyatan dhi’afa). Bahwa orang tua berkewajiban untuk mengupayakan pembinaan ketakwaan melalui keteladanan dirinya, juga pentingnya pola asuh yang memperhatikan cara berkomunikasi yang baik dan benar di depan anak-anak mereka.

Dengan upaya di atas, diharapkan akan terlahir generasi yang tangguh dalam segala aspek, baik agama, akhlak, hingga yang sifatnya materi yang perlu mendapat perhatian orang tua sebagaimana asbabun nuzul dalam ayat ini. Wallah a’lam

Penyunting: Bukhari