Zaid bin Tsabit adalah seorang Anshar yang berasal dari Madinah. Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, umurnya baru 11 tahun. Anak kecil ini ikut masuk Islam bersama keluarganya yang masuk Islam. Kepribadiannya sebagai seorang muslim yang beriman terus tumbuh dengan cepat dan menakjubkan. Ia bukan hannya terampil sebagai pejuang, melainkan juga sebagai tokoh intelektual yang memiliki beragam keunggulan. Ia tidak henti-hentinya menghafal Al-Qurân, menuliskan wahyu untuk Rasulnya, serta unggul dalam ilmu dan hikmah.
Semua sifat tentang dirinya yang sering diungkapkan oleh para sahabatnya itu benar-benar menambah pengetahuan kita terhadap tokoh yang oleh takdir telah disediakan baginya tugas terpenting diantara semua tugas dalam sejarah Islam, yaitu tugas menghimpun Al-Qurân.
Para sahabat yang banyak mengahafal dan penulis untuk menjaga Al-Qurân, diantara mereka yaitu Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, dan seseorang yang mempunyai kepribadian yang mulia yaitu Zaid bin Tsabit.
Zaid Diperintahkan Untuk Menuliskan Al-Qur’an
Setelah Al-Qurân selesai diturunkan, Rasulullah membacakannya kepada kaum muslimin secara tertib menurut urutan surat dan ayatnya. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, umat muslim disibukkan dengan peperangan menghadapi kaum yang murtad, nabi palsu, dll. Sehingga dalam perang tersebut banyak dari para sahabat yang gugur. Melihat kejadian ini Umar bin Khattab langsung menghadap kepada Khalifah Abu bakar untuk mengusulkan agar segera mengumpulkan Al-Qurân sebelum sisa qari dan huffazh ini gugur semua sebagai syuhada. Khalifah akhirnya meminta petunjuk kepada Rabbnya dan berunding dengan para sahabat.
Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit, karena ia dipandang sebagai sahabat yang paling mengerti dan memahami tulisan serta hafal Al-Qurân. Ia berkata kepadanya : “ kamu adalah seorang anak muda yang cerdas, kami tidak meragukan dirimu. Kamu juga penulis wahyu Rasulullah SAW maka telitilah Al-Qurân dan kumpulkanlah.” Zaid berkata : “Aku pun meneliti Al-Qurân dan mengumpulkannya dari pelepah, lempengan batu, dan hafalan para sahabat.” Abu Bakar memintanya agar segera memulai pengumpulan Al-Qurân yang mulia ini dengan meminta bantuan dari para sahabat yang ahli dalam bidang ini.
Dalam riwayat lain diceritakan, saat perang melawan orang-orang murtad terjadi, banyak sekali para penghafal Al-Qurân yang syahid. Umar bin Khattab menemui Abu Bakar dan mengusulkan untuk mengumpulkan Al-Qurân. Abu Bakar kemudian memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya: “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan kupercayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu disuruh oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat-ayat Al-Qur’an itu.
***
”Zaid berkata : “Demi Allah? Ini adalah pekerjaan yang berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al-Qurân yang engkau perintahkan itu.” Dan ia berkata selanjutnya kepada Abu Bakar dan Umar : “Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Nabi?” Abu Bakar menjawab : “Demi Allah, ini adalah perbuatan yang baik.” Ia lalu memberikan alasan-alasan kebaikan pengumpulan ayat-ayat Al-Qurân dari daun, pelepah kurma, batu, tanah keras, tulang hewan dan sahabat-sahabat yang hafal Al-Qurân.
Kaum muslimin telah menyetujui langkah Abu Bakar dan menganggapnya sebagian dari kebaikannya. Sampai Ali mengatakan : “Orang yang paling besar pahalanya mengenai mushaf adalah Abu Bakar, semoga rahmat Allah tercurah kepada Abu Bakar, dia adalah orang yang pertama mengumpukan Kitabullah.”
Zaid bin Tsabit amat teliti dalam mengumpulkan ayat-ayat Al-Qurân. Sekalipun beliau hafal Al-Qurân seluruhnya tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al-Qurân yang sangat penting itu, masih memandang dan perlu mencocokkan hafalan dan catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan para sahabat.
Setelah Zaid selesai menulis Al-Qurân dalam lembaran-lembaran dan diikatnya dengan benang. Tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang ditetapkan Rasulullah, kemudian menyerahkan tulisan Al-Qurân kepada Abu Bakar. Selanjutnya, Abu Bakar menjaga dan menyimpan mushaf itu sampai ia wafat.
Jati Diri Zaid Bin Tsabit
Sejak usianya di awal 20 tahunan, Zaid diberi keistimewaan tinggal berjiran dengan Nabi Muhammad dan bertindak sebagai salah satu seorang penulis wahyu yang amat cemerlang. Dia salah satu di antara para huffaz. Dan karena kehebatan jati diri itulah yang menyebabkan sebagai pilihan mumtaz untuk melaksanakan tugas pengumpulan Al-Qurân. Abu Bakar as-Shiddiq mencatat kualifikasi dirinya sebagai berikut :
- Masa muda Zaid menunjukkan vitalitas dan kekuatan energinya.
- Akhlak yang tak pernah tercemar menyebabkan Abu Bakar member pengakuan secara khusus dengan kata-kata, “Kami tak pernah meragukanmu.”
- Kecerdasannya menunjukkan pentingnya kompetensi dan kesadaran.
- Pengalamannya di masa lalu sebagai penulis wahyu.
- Zaid adalah seorang yang bernasib mujur di antara beberapa orang sahabat yang sempat mendengar bacaan Al-Qurân Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply