Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Urgensi Kisah-kisah Israiliyat bagi Pengetahuan Tafsir

Sumber: https://www.muslim.sg/

Sebelum agama Islam datang, ada satu golongan yang dapat disebut dengan kaum Yahudi – sekelompok kaum yang dikenal berperadaban tinggi dibandingkan bangsa Arab masa itu. Mereka telah membawa pengetahuan keagamaan berupa cerita-cerita keagamaan dari kitab suci mereka. Saat itu, mereka hidup dalam keadaan tertindas. Banyak di antara mereka yang lari dan pindah ke jazirah Arab. Ini terjadi kurang lebih pada 70 M.

Pada masa inilah, perkembangan secara besar-besaran kisah-kisah Israiliyat diperkirakan terjadi yang kemudian mengalami kemajuan pada taraf tertentu. Disadari atau tidak, kondisi itu mempercepat terjadinya proses pencampuran antara tradisi bangsa Arab dan khazanah tradisi Yahudi. Dengan kata lain, adanya kisah Israiliyat merupakan konsekuensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab jahiliyah dan kaum Yahudi-Nasrani. (Ahmad Izzan, ‘Ulumul Qur’an, 233)

Pengertian Israiliyat

Israiliyat merupakan berita-berita yang dinukil dari Bani Israil, baik dari orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani. Oleh para sahabat, Ahli Kitab dianggap memiliki pemahaman yang lebih baik dan lebih luas wawasannya terhadap kitab-kitabnya (Taurat dan Injil). Maka tidaklah mengherankan apabila keterangan-keterangan Ahli Kitab oleh sebagian sahabat dijadikan sumber untuk menafsirkan Al-Qur’an. Sumber ini dikenal dengan istilah Israiliyat. (Ali As-Sahbuny, Kamus Al-Qur’an, 219)

Kata Israailiyyaat (اسرائليات) adalah bentuk jamak dari kata israaiiliyyah  (اسرائيلية) yang artinya sesuatu yang dinisbatkan kepada Bani Israil. Shabir abd ar-Rahman Thu’aimah berkata, “israaiil” adalah bahasa Ibrani yang tersusun dari dua kata. Yaitu “israa” yang berarti seorang hamba atau seorang pilihan dan “iil” yang berarti Allah. Maka kata israaiil sesuai penjelasan tersebut berarti Abdullah (seorang hamba Allah). (Moch. Tolchah, Aneka Pengkajian Studi Al-Qur’an, 67).

Baca Juga  Telaah Rasionalitas Pohon Zaqqum dalam Al-Qur'an

Dalam Al-Qur’an Allah banyak menyebut kaum Yahudi dengan sebutan Bani Israil seperti dalam firman-Nya:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَقُصُّ عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَكْثَرَ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ٧٦

Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menjelaskan sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka (Bani Israil) perselisihkan” (Q.S. An-Naml: 76).

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah menjelaskan sejak dahulu mereka sudah dikenal dengan sebutan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang kemudian beriman kepada Nabi Isa a.s, dikenal dengan sebutan orang-orang Nasrani. Sedangkan mereka yang kemudian beriman kepada Nabi terakhir (Muhammad saw) tergolong kaum muslimin dan dikenal dengan sebutan orang-orang Islam dari golongan Ahli Kitab.

Bani Israil dan Israiliyyat

Dari pengertian Bani Israil tersebut kemudian mucullah istilah Israiliyat yang didefinisikan sebagai berikut:

Artinya:“Israiliyat adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh para ulama peneliti terhadap kisah-kisah dan berita-berita yang bersumber dari agama Yahudi dan Nasrani. Kemudian yang merembes kepada masyarakat Islam; setelah masuknya sekelompok orang Yahudi dan Nasrani ke dalam agama Islam atau mereka hanya pura-pura masuk Islam.”

Israil merupakan nama yang kedua bagi Nabi Ya’qub a.s. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud al-Tayalisi:

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ : “حَضَرَتْ عَصَابَةُ مِنَ الْيَهُوْدِ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمْ : هَلْ تَعْلَمُوْنَ أَنَّ اِسْرَائِيْلَ يَعْقُوْبٌ؟ فَقَالُوْا اللَّهُمَّ نَعَمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ اِشْهَدْ”

Maksud:

Ibn Abbas berkata: “Satu kumpulan Yahudi bertemu Nabi Muhammad saw, lalu baginda (s.a.w) bersabda kepada mereka; Adakah kamu tahu bahwa Israil itu Ya’qub a.s? Lalu mereka menjawab: Ya! Maka sabda baginda (s.a.w): Ya Allah, Bersaksilah.” (Mohd. Nazri Ahmad, dkk, Israiliyyat: Pengaruh dalam Kitab Tafsir, 34-35)

Baca Juga  Bersama Satu Kesulitan Terdapat Dua Kemudahan

Dengan demikian, sekalipun perkataan itu pada zahir-nya bermaksud nisbah bagi Israil (Nabi Ya’qub a.s). Namun, maksud sebenarnya adalah dinisbahkan kepada Bani Israil (anak cucu Nabi Ya’qub a.s).

Nilai Kisah-kisah Israiliyat bagi Pengetahuan Tafsir

Jika membahas perbedaan yang terjadi pada sebagian sahabat dan tabi’in, sebagai hasil penyandaran mereka kepada kisah-kisah Israiliyat dalam ilmu tafsir. Maka sebaiknya kita mengetahui sejauh mana nilai (manfaat) yang dimiliki sumber dari kisah Israiliyat bagi ajaran Islam dalam ilmu tafsir.

Jika mempelajarinya Israiliyat, maka kita akan dapat memastikan dengan mudah bahwa sumber yang satu ini sama sekali tidak memiliki nilai manfaat bagi ajaran Islam, yaitu setelah kita memperhatikan dua hal berikut ini.

  1. Pertama, bahwa kisah-kisah dan penjelasan terperinci yang disebutkan dalam kitab Taurat dan Injil tidak mungkin dapat dijadikan sumber sandaran. Karena kedua telah mengalami penyimpangan. Di dalamnya, juga terdapat pandangan-pandangan mengenai akhlak dan akidah yang tidak diakui kebenarannya oleh ajaran Islam yang lurus. Al-Qur’an sendiri dengan terang-terangan, pada beberapa ayatnya telah menjelaskan adanya penyimpangan yang terjadi pada kedua kitab tersebut. Al-Qur’an juga mengutuk Ahlul Kitab secara umum. Karena mereka telah melakukan penyimpangan dan berpegang teguh kepada kitab yang sudah menyimpang tersebut.
  2. Kedua, bahwa para sahabat dan tabi’in, ketika mengambil penjelasan darii Ahlul Kitab. Sebenarnya tidak memiliki sarana pendukung untu menguji kebenaran kitab Taurat dan Injil. Mereka bersandar pada Ahlul Kitab yang telah masuk Islam. Padahal bisa jadi sebagian dari mereka itu hanya berpura-pura memeluk Islam dan tidak ikhlas dalam memeluknya. Oleh karena itu, adalah wajar jika melakukan berbagai usaha untuk merusak pemahaman ajaran Islam dengan cara memasukkan berbagai pemikiran dan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam kitab Taurat dan Injil. Hal ini, meskipun pada masa sekarang tidak dapat kita lihat. Karena begitu tersebar luasnya ajaran Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam merusak pemikiran Islam pada masa sahabat dan tabi’in.
Baca Juga  Penegasan Hak Asasi Manusia dalam Al-Qur’an

Kesimpulan

Bahkan kita mendapatkan pada kebudayaan Ahlul Kitab berbagai informasi dan pemikiran yang mereka wariskan; generasi demi generasi, dan yang telah mereka palsukan karena berbagai sebab. Kebudayaan-kebudayaan itu sama sekali tidak terdapat di dalam kitab Taurat dan Injil tetapi hanyalah kebudayaan umum mereka. Oleh karena itu, Al-Qur’an pada beberapa ayatnya, menyeru mereka untuk kembali kepada apa yang terdapat pada Taurat dan Injil untuk memperoleh kebenaran. (Muhammad Baqir Hakim, Ulumul Qur’an, Terj. Nashirul Haq, dkk, 437-438)

Penyunting: Ahmed Zaranggi